Wartawan Tulen itu Telah Tiada
Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel
Sekitar pukul 04.30 Selasa subuh, ponsel saya berbunyi. Saya terbangun. Gerangan berita apa masih sepagi buta begini, gumam saya. Ternyata setelah saya tengok, rekan Gunt Sumedi yang mengirim pesan pendek. Apa gerangan. Tidak mungkin dia minta tulisan untuk mingguannya. Selain, terlalu subuh dan dapat mengganggu kenyenyakan tidur, juga minggu lalu baru saya kirim satu tulisan.
‘’Innalillahi wa inna ilaihidi rajiun’’. Telah meninggal dunia wartawan senior Sulsel Andi Moein MG. Itu kalimat yang saya baca subuh itu.
Kekhawatiran dan keprihatinan saya terhadap senior yang satu ini sudah lama. Saya selalu berharap beliau selalu sehat. Pernah masuk RS Pelamonia beberapa waktu silam, tetapi kembali ke rumahnya. Saya lega, beliau sehat lagi. Namun beberapa hari silam, saya baca di koran, kondisinya kian payah. Keprihatinan saya kian meninggi. Apa pasal?
Tatkala masih sehat dan hadir dalam berbagai acara PWI Sulsel, Pak Moein selalu menyapa saya dengan satu kalimat tanya yang mungkin bagi saya cukup klise.
‘’Kapan bukunya selesai. Jangan-jangan nanti saya sudah tidak ada baru terbut,’’ itulah kalimatnya yang selalu dia alamatkan dan membuat saya selalu gamang.
Mengapa beliau bertanya begitu? Soalnya, saya memang pernah meminta biodatanya untuk menjadi bagian dari buku yang saya tulis. (kini sudah selesai diedit dan dikoreksi dan siap masuk percetakan). Data dan kisahnya memang menarik dan menggambarkan almarhum adalah wartawan tulen. Salah seorang lelaki yang sangat berani memilih profesi wartawan hingga akhir hayatnya. Bayangkan, sebelum beralih menjadi wartawan, dia adalah seorang birokrat yang berurusan dengan masalah keuangan. Yang ketika itu jelas bermandikan duit.
Tiga zaman
Andi Moein MG adalah sosok wartawan tiga zaman. Mengaku mulai menjadi wartawan sejak tahun 1948, Andi Moein, begitu senior yang satu ini karib disapa, mengawalinya dengan ‘mencuri’ kertas stensilan pada kantor Regering Voorlichting Dienst (RVD), kantor Departemen Penerangan NICA. Kantor RVD tersebut kemudian ditempati Kanwil Deppen Sulsel di Jl.Sultan Hasanuddin dan kini berubah lagi menjadi Kantor KONI Sulawesi Selatan.
“Pencurian kertas itu dilakukan atas kerjasama dengan Azis Saleh asal Sinjai yang bekerja di kantor itu. Azis termasuk tenaga infiltran (penyusup) pejuang 45,” kata Andi Moein.
Bermodalkan kertas stensilan itulah dia menerbitkan Mingguan Pelajar Angkatan Muda (PAM) atas prakarsa Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Sinjai (IPPIS) pimpinan A.Abdullah Asapa, ayahanda Rudiyanto Asapa, S.H., Bupati Sinjai sekarang ini. Selain Abdullah, juga ada Drs.H.A.M.Saleh Asapa, mantan Sekda Sinjai.
Jika orang bertanya kepada Andi Moein, mengapa jadi wartawan? Maka, jawabnya pendek.
“Saya cinta kebenaran (Because I love the truth),” kata Moein.
Betapa tidak, pers berfungsi menerangi yang gelap, menegakkan kebenaran dan menumpas yang batil. Dia sadar dan semua kaum wartawan pasti menyadari, fungsi pers dalam era pembangunan ini tidak cukup hanya merupakan cermin yang pasif dari keadaan masyarakatnya dan tidak cukup hanya memberi informasi kepada masyarakat melalui berita-berita yang obyektif. Sebagai kekuatan perjuangan bangsa, pers nasional di era pembanguan lahir dan batin ini harus dapat menjadikan dirinya sebagai kekuatan pembaharu. Kekuatan gerakan reformasi menuju Indonesia baru yang dicita-citakan setiap insan Indonesia. Tak terkecuali insan pers.
“Saat kebenaran mulai redup, di situlah pers harus mulai muncul sebagai obor penerang,” kata Moein.
Pada awal pemulihan kedaulatan RI tahun 1950-an, Moein mengalami kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Perlawanan fisik pejuang 45 di Sulsel rontok total. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan siasat dan gerakan diplomatik. Moein mencoba balik haluan. Ia berupaya menerobos bekerja pada Kas Negara Indonesia Timur yang waktu itu didominasi NICA. Nama lembaga itu dulu adalah Landskas Administratuur Kantoor. Moein mencoba bekerja dengan berbekalkan sedikit kemampuan Bahasa Belanda. Kebetulan pimpinan kantor kas waktu itu adalah seorang Belanda, Tuan Yansen Hoff. Moein diterima bekerja dengan jabatan sebagai ajunt klerk. Gajinya, F (Florin) 125, uang Belanda, per bulan.
“Saya hidup berkecukupan. Kebetulan Sekolah Menengah Tinggi (SMT, sekarang SMU Sawerigading), tempat saya belajar jam belajarnya diubah pukul 14.30, sementara saya pulang kerja pukul 14.00. Jadi, saya langsung ke sekolah,” kenang Moein.
Meski nyaris tidak ada waktu istirahat, Moein tak pernah lelah. Rasa capek tidak terasa, karena masih remaja dan penuh semangat juang. Dia memilih sekolah ini, karena tidak masuk dalam binaan Belanda. Dia non-NICA.
Setelah enam bulan bekerja, Moein dikirim tugas belajar ke Semarang. Bidang yang dipelajarinya adalah administrasi keuangan. Lantaran Moein tidak senang dengan urusan mengatur administrasi keuangan, akhirnya dia melarikan diri. Sekaligus berhenti bekerja pada Kantor Administrasi Keuangan Negara Indonesia Timur itu.
“Andaikata saya terus bekerja sebagai pegawai negeri, tentu saja sudah jadi pejabat ahli keuangan. Kini sudah dapat pensiun. Lumayan,” kata Moein sembari tertawa.
Jeritan hati Moein berkata lain. Ia ingin menyalurkan bakatnya sebagai seorang jurnalis. Batinnya terus bergolak. Akhirnya, dunia jurnalistik menjadi pilihan hidupnya. Bekerja pada sektor lain, ia rasakan hampa. Terasa hati ini sepi. Kesepian selalu mengisi rongga dadanya.
Karier jurnalistik pun dia mulai tapaki bersama kawan-kawannya di kalangan pemuda pelajar pejuang 45. Negara Indonesia Timur (NIT) kemudian dibubarkan dan bergabung dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Salah seorang Perdana Menteri merangkap Menteri Perekonomian NIT waktu itu adalah Nadjamuddin Daeng Malewa, yang pada tahun 1944 pernah menjabat Wali Kota Makassar I. Bersamaan dengan itu, lahir pula pers. Napasnya pun mengikuti alur irama perjuangan. Makanya, disebutlah pers Indonesia sebagai Pers Perjuangan.
“Tragedi terbesar bagi hidup seseorang adalah jika dia tidak tahu pekerjaan apa yang cocok bagi dirinya dan bakatnya,” begitu Moein berprinsip.
Dia sadar, Jurnalistik adalah dunianya. Sejak semula dia menyadari menjadi wartawan adalah harus terus belajar. Dia harus terus membaca segala hal. Seorang wartawan adalah sosok generalis. Harus tahu semua masalah, meski hanya sedikit. Ada juga wartawan yang tahu banyak mengenai yang sedikit. Orang mengatakan, keahlian seperti ini disebut pakar.
’’Bagi seorang wartawan, begitu berhenti belajar atau membaca, maka identik dengan bunuh diri. Habislah riwayatnya. He is not a journalist any more. (Ia tidak lagi menjadi seorang wartawan),’’ sebut Moein.
Moein menjadi wartawan lantaran sesuai dengan panggilan hati nurani. Itulah sebabnya dia memilih karier jurnalistik sebagai palangan pengabdian, ketimbang menjadi seorang yang mengurus duit dan ujung-ujungnya berlimpah harta. Kalau orang tidak punya prinsip dengan idealismenya, mana mau beralih dari urusan berkutat dengan duit dengan kehidupan yang sarat tantangan sebagai seorang jurnalis.
Lapangan pekerjaan yang ini sangat mengasyikkan. Memang tidak ‘mengenyangkan’ dalam arti tidak menikmati kehidupan material dan glamour atau pun berlimpah kemewahan. Pada sisi lain, pekerjaan sebagai wartawan dipadati rasa bahagia, karena mengabdi untuk kepentingan umum. Mengamalkan tegaknya hak dan menumpas yang batil dalam segala manifestasinya.
Menutu Moein, seperti diungkapkannya dalam Standar Kompetensi Wartawan Suatu Keniscayaan (2006), dia mulai total menggeluti dunia kewartawanan sekitar tahun 1953. Dia mulai berani menabrak dunia yang tampak ’glamour’ ini setelah bermodal pengetahuan jurnalistik yang diperolehnya. Dia pun mencoba melamar ke Harian Tinjauan pimpinan Hasan Usman (almarhum), salah seorang wartawan senior.
Moein pun dengan langkah pasti sembari mengepit sejumlah dokumen yang diperkirakan cukup mendukung keinginannya menjadi wartawan, termasuk dokumen Akademi Wartawan pimpinan Parada Harahap di Jakarta, menghadap Hasan Usman.
’’Yang kami butuhkan bukan sertifikat akademis, melainkan kemampuan berkarier di bidang jurnalistik. Untuk itu, silakan Anda menemui pimpinan SMP Frater Makassar dan lakukan wawancara. Hasil wawancara serahkan kepada saya besok,’’ ujar Hasan Usman selaku Pemimpin Redaksi Harian Tinjauan yang tak urung mengagetkan Moein.
Bermodalkan sedikit bahasa Belanda yang masih dikuasainya – karena sempat belajar di sekolah Belanda –HIS (Hollands Inlands School), Sekolah Bumiputra Belanda – Moein pun mewawancarai Pimpinan SMP Frater yang kebetulan keturunan Belanda.
Usai wawancara, Moein menulis hasil wawancaranya dan menyerahkannya kepada Hasan Usman.
’’Syukur, kita sekarang sudah memperoleh wartawan berpendidikan akademis. Sekarang juga Saudara Moein resmi kami terima bergabung dengan Harian Tinjauan. Saudara kami tugaskan sebagai reporter,’’ sahut Hasan Usman begitu membaca hasil liputan wawancara Moein dengan si Belanda itu, sembari menjabat tangan si reporter baru.
Setelah tiga bulan menjabat reporter, Moein dialihkan di percetakan. Tugasnya, menangani pekerjaan opmaak atau perwajahan koran sekaligus mengoreksi ulang berita yang siap naik cetak.
Enam bulan kemudian, Moein dapat promosi tugas. Ikut meliput perjalanan tur keliling Sulawesi Gubernur Lanto Daeng Pasewang. Lama perjalanan dua pekan, menggunakan kapal Permata milik Pemda Sulawesi. Dengan kapal tersebut, rombongan menelusuri wilayah Sulawesi yang kala itu masih satu provinsi.
Reportase perjalanan Gubernur Sulawesi tersebut Moein serahkan kepada Hasan Usman. Laporan itu dimuat bersambung selama sebulan di Tinjauan.
’’Saya bangga dan kagum pada hasil reportase Anda. Untuk itu, mulai hari ini, Saudara bertugas sebagai redaktur pelaksana (managing editor) Harian Tinjauan. Berarti, saya sudah mengalihkan sebagian tugas-tugas saya pada Saudara Moein yang kini sudah matang dalam karya jurnalistik,’’ kata Hasan Usman dengan bangga.
Almarhum dilahirkan di Bikeru, Sinjai 30 Juni 1931. Ayahnya, H.Andi Mappa Gessa Dg.Situru (almarhum) Arung Bulo-Bulo Barat Kabupaten Sinjai, Sulsel, salah satu kerajaan di Sulsel pada masanya. Mappa Gessa itulah yang melengket erat pada nama MG setelah Andi Moein. Ibunya, H.Andi Syiang, almarhumah.
Moein kecil memasuki pendidikan sekolah Belanda Hollands Inlands School (HIS) hingga kelas 5 sebelum Perang Dunia II tahun 1942. Begitu Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, Moein pun belajar pada Thu Gakko, Sekolah Menengah Jepang tahun 1945. Setahun kemudian dia masuk SMP. Pernah juga masuk SMA Sawerigading, SMT Sawerigading, dan SMT Nasional. Yang disebut terakhir adalah perguruan nasional yang mendidik kader pejuang 45 menjadi kader-kader republikein. Di dalam diri Moein pun mengalir dan tertanam perasaan dan jiwa nasionalisme. Dari hari ke hari dia mencoba memahami ABC-nya politik. Ia memasuki Perguruan Sawerigading karena dia termasuk figur yang tidak mau bekerja sama dengan NICA. Juga tidak mau belajar di sekolah yang dibina Belanda.
Ada kisah menarik dialami Moein pada-masa tahun 40-an, seperti dikisahkan dalam Standar Kompetensi Wartawan Suatu Keniscayaan (2006), buku yang mendahului buku ini (bagian wawancara dengan Pak Moein dilakukan sebelum buku tersebut terbit). Pada suatu malam dia berkunjung ke sebuah rumah di perempatan, persis di ujung Jl.Shyberg Weg ( Jl.Syarief Al Qadri, sekarang). Di rumah mungil ini sering terjadi pertemuan pemuda pejuang 45. Ternyata kemudian, L.E.Manuhua (alm., Pemimpin Umum/Redaksi Harian Pedoman Rakyat) yang ketika itu masih berstatus pemuda belia lagi bujangan. Rupanya, Manuhua bermukim di situ. Di sekitar itu bermukim juga teman-teman Pak Moein seperti tiga bersaudara Abdjam, Doa, dan Muhammad Sulaeman. Ketiga bersaudara kandung ini berasal dari Ternate.
Suatu malam, Moein melihat Manuhua memutar radio kecil yang saat itu disebut brood radio (radio kecil). Suaranya dikecilnya, sehingga hanya dapat didengar jika telinga didekatkan pada radio tersebut. Mengapa suaranya dikecilkan begitu rupa? Ya, karena pada saat itu, Kota Makassar dikuasai NICA (Belanda). Masyarakat dilarang memutar radio untuk mendengarkan siaran RRI Yogyakarta, Ibu kota Republik Indonesia ketika itu. Moein pun tidak mau ketinggalan. Dia mencoba nguping siaran radio tersebut bersama Manuhua untuk mendengar siaran radio Yogyakarta dengan perasaan penuh waspada, karena takut diketahui Belanda. Tampaknya, saat itulah Presiden Soekarno sedang berpidato mengutuk pemberontakan PKI di Madiun. Bung Karno dengan suara lantang berteriak melalui siaran RII dan pemancar Yogyakarta.
Dalam mendiskusikan sesuatu, para pemuda itu biasanya bergabung dengan Hanoch Luhukay, pemuda asal Maluku yang kemudian menjadi dosen Fakultas Sastra Unhas. Luhukay tidak saja dikenal sebagai kutu diskusi, tetapi juga sangat telaten dengan dokumentasi koran. Edisi harian Pedoman Rakyat sejak awal terbit hingga kini, ada di rumahnya.
Enam tahun kemudian (1952), ayah empat anak ( kemudian) menamatkan pendidikan di SMA Bagian Budaya di Malang, Jawa Timur. Dia termasuk pelajar ‘demobilisan – Pelajar pejuang 45. Pada tahun 1953, Moein memasuki Akademi Wartawan Pimpinan Parada Harahap. Setelah itu, berbagai pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan Deppen RI diikutinya.
Pengalaman jurnalistik Andi Moein cukup panjang. Pada tahun 1948 dia bekerja pada Mingguan Angkatan Muda (PAM) di Makassar. Dia juga pernah menjadi Redaktur Mingguan PERINTIS (Majalah Pemuda Pejuang Kemerdekaan di Era Revolusi Fisik 45 di Makassar). Juga ikut membantu Harian Pedoman Rakyat edisi Makassar semasa revolusi fisik. Antara tahun 1954-1959, menjabat Redaktur Harian Tinjauan di Makassar, Redaktur Harian BARA di Makassar (1969-1960), Redaktur SKM Pemandangan di Makassar (1960-1962), Redaktur Harian Mercu Suar di Makassar (1965) bersama dengan Dien Monoarfa dan Djamaluddin Latief (alm.). Pernah juga menjadi Redaktur Pelaksana SKM Orde Baru (1966). Bergabung dengan SKM Orde Baru di Makassar (1968-1970) bersama Rahman Arge, Arsal Alhabsy, Husni Djamaluddin (keduanya almarhum) , dan Drs.Saleh Bustami. Lalu, mendirikan SKM Indonesia Pos bersama Burhanuddin Amin. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi SKM di Makassar Press ( sejak 5 Oktober 1970- hingga sekarang).
Moein selain menulis di korannya sendiri, juga menulis di Harian Pedoman Rakyat dan penerbitan lokal lainnya. Ia menjadi Pembina beberapa media tabloid dan majalah di Makassar hingga usianya yang memasuki 74 tahun saat ini. Ia pernah memimpin Lembaga Pendidikan Kader Wartawan (1972-1976). Tiap tingkatan pendidikan berlangsung 6 bulan.
Berbagai penghargaan pernah diraih Andi Moein. Sejumlah piagam pendidikan dan penghargaan dari Deppen RI, Piagam Penghargaan Penegak Pers Pancasila dari PWI Pusat yang diserahkan oleh Menteri Penerangan RI, Harmoko, waktu itu. Juga ada Piagam Penghargaan P4 Tingkat Nasional. Piagam Penghargaan ORPADNAS. Piagam Penghargaan dari PWI Sulsel perihal kesetiaan pada profesi kewartawanan. Penghargaan dari SPS Pusat terhadap Pengabdian pada SPS. Penghargaan dari Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Pusat atas jasa menyukseskan Program BKKBN. Piagam Penghargaan (Pemegang Gelar Kehormatan) sebagai Veteran RI dari Menteri Pertahanan RI (NPV.17.062.B79). Memperoleh penghargaan Kebudayaan dari Departemen P dan K Sulawesi Selatan dan penghargaan dari Kodam XIV Hasanuddin bidang Pembinaan Kesenian Budaya di Sulawesi Selatan.
Selain menjadi wartawan, Andi Moein juga aktif dalam berbagai organisasi.
Andi Moein MG selain menulis untuk Suratkabar, juga sudah banyak menulis buku. Beberapa judul telah lahir dari.
Seorang Moein adalah sosok yang selalu peduli. Dia bagaikan penasihat panjang tanpa ujung waktu perihal perlunya mahluk wartawan taat asas. Wartawan harus memiliki etika. Wartawan harus memiliki kompetensi. Wartawan tidak bisa lahir dari pinggir jalan. Tidak bisa lahir lantaran pintar bicara laksana penjual obat di emper-emper toko. Wartawan harus memiliki ilmu. Dia tidak lahir karena hanya ada kemauan tanpa keterampilan. Wartawan adalah sosok intelektual, bukan manusia yang hanya mengandalkan ototnya belaka.
’’Kalau para wartawan ingin disebut sebagai wartawan profesional, salah syaratnya adalah harus mematuhi etika pemberitaan,’’ kata Moein MG.
Tentu saja, secara khusus, masalah etika ini bisa mengacu pada Kode Etik Jurnalistik PWI yang baru yang mulai berlaku efektif 1 Januari 1995.
“Kesimpulannya, saya jadi wartawan, karena panggilan hati nurani. Ini bukan pelarian. Sekali lagi, kerja jurnalistik adalah panggilan hati nurani saya yang paling dalam. Titik!,” kunci Andi Moein MG.*
Sabtu, 31 Juli 2010
Senin, 12 Juli 2010
In Memoriam Hj Andi Siti Nurhani Sapada:
Oleh M.Dahlan Abubakar
Tepat pukul 23.00 Wita, Minggu (11/7) saya membuka email. Menengok kalau-kalau ada informasi penting, setelah dua hari saya tidak buka di Chiang Mai dan Bangkok Thailand, 10 dan 11 Juli 2010. Astaga, begitu saya mencoba klik email kiriman Kak Udhin Palisuri yang juga terbagi ke sejumlah teman facebook, saya setengah berteriak menanyakan kepada istri.
‘’Mi, Petta Nani meninggal dunia??????,’’ kata saya yang masih berslimut kaget.
‘’Ya, hari Kamis. Kemungkinan dimakamkan di Barru atau Parepare,’’ katanya lagi. Saya terdiam sejenak. Seperti merasa diri berdosa, karena sehabis dirawat di rumah sakit beberapa bulan silam, saya tidak pernah membesuknya lagi di kediamannya.
‘’Habis, Bapak tidak pernah menelepon, jadi tidak pernah kami memberitahu,’’ imbuh istri saya. Ponsel, memang saya matikan, karena selain tidak memasang/buka roaming internasional, juga sengaja saya matikan.
Saya termeenung sejenak. Mengenang masa-masa silam kebersamaan saya dengan almarhumah. Interaksi saya dengan Hj Andi Siti Nurhani Sapada yang akrab saya sapa Petta Nani, nyaris tidak bersekat. Saya bagaikan anaknya sendiri. Terkadang almarhumah tiba-tiba menelepon ke ponsel saya. Pertanyaan pertama yang muncul setiap menelepon adalah, di mana saya berada. Soalnya, setiap Petta Nani, entah kenapa, saya tepat sedang tidak di Makassar. Terkadang di Jakarta, Papua (antara 2007-2008) dan tempat-tempat lainnya.
Beliau mengenal saya kenal ketika saya aktif-aktifnya sebagai wartawan Pedoman Rakyat. Jika ada kegiatan, saya selalu ditelepon dan diberitahu. Apalagi, almarhumah tahu saya dari Fakultas Sastra dan sedikit memiliki rasa seni.
Pada peringatan Ulang Tahun ke-80 tahun 2009, saya pun hadir di Hotel Losari Metro. Almarhumah dilahirkan 25 Juni 1929 di Parepare. Almarhumah gembira sekali ketika itu. Ada Pak A.Amiruddin,Pak Syahrul Yasin Limpo, dan Pak Idrus A Paturusi. Kebahagiaannya berlimpah lagi karena sejumlah anak, cucu, dan teman semasa gadis remajanya juga hadir. Bahkan sempat bernyanyi bersama. Di antara teman akrabnya adalah Drg.Hj Halimah Daeng Sikati. Pada malam itu, Halimah Dg.Sikati sempat bernostalgia masa remaja mereka, di samping menyumbangkan suaranya secara bersama.
Tidak terbayangkan, peringatan ini terakhir yang ramai dihadiri kerabat handai tolan. Bersyukurlah, Petta Nani masih sempat memperoleh bonus usia 81 tahun. Ketika beberapa bulan lalu, beliau dirawat di RSUP Wahidin Sudirohusodo, sebelum ke kampus, saya menyempatkan diri membesuknya. Saya ajak istri sama-sama menjenguknya. Petta Nani selalu berpesan kepadea saya membawa dan memperkenalkan ‘mantan pacar’ku itu kepadanya. Namun selalu saya katakan, ‘’Ibu agak kerepotan, karena sudah dikuasai oleh sepasang cucunya. Satu menit saja tidak lihat neneknya sehabis pulang kantor, pasti ponsel bersering. Jika terlambat pulang akan diwawancarai, bahkan menjurus ke interogasi’’. Dasar cucunya wartawan.
Saya sempat mencium tangannya. Petta Nani selalu berusaha memperlihatkan dirinya sehat. Beliau bangun duduk dan selalu berkelakar mengenai situasinya yang bagaikan dikerangkeng. Beliau selalu ingin merasa bebas, meski kesehatannya tidak memungkinkan. Begitulah ketika usai seminar di Parepare dan mau turun dari rumah panggung di Suppa, Petta Nani agak kewalahan melangkahkan kakinya. Saya yang sudah merasakan bukan orang lain bagi almarhumah, tak sungkan-sungkan membimbingnya turun dari rumah panggung di pinggir pantai itu.
Sama ketika sehabis menelepon dan meminta saya datang ke rumahnya di bilangan Jl.Hertasning, beliau selalu berusaha menyambut saya duduk di kursi tamunya. Kadang-kadang saya minta almarhumah agar istirahat saja. Namun beliau merasa tidak enak kalau saya duduk melongo sendiri sambil melihat foto-foto yang baru dia bikin.
Perjuangkan Pahlawan
Interaksi saya dengan almarhumah agak sering ketika dalam empat tahun terakhir ini gencar melaksanakan berbagai pertemuan dan seminar membahas kisah perjuangan ayahnya, Datu Suppa Toa Andi Makkasau, seorang pejuang dan perintis kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Almarhumah sangat bersemangat mendorong dan memperjuangkan agar ayahnya memperoleh gelar sebagai Pahlawan Nasional. Masalahnya, salah seorang pejuang yang lebih muda dari ayahnya, yakni Andi Abdullah Bau Massepe sudah memperoleh gelar tersebut.
Terkadang, almarhumah mengeluh kepada saya perihal perjuangannya menjadikan ayahnya sebagai salah seorang pahlawan dari daerah ini penuh lika-liku. Saya kerap berpikir, inilah amanah yang akan beliau tinggalkan jika saat meninggal dunia cita-cita dan pejuangannya ini belum tertunaikan.
Perjuangan ayahnya tidak sebanding dengan tokoh pejuang pada masanya. Ia tidak pernah mau menyerahkan diri pada penjajah Belanda. Belanda yang takut massa rakyat akan marah bila mendengar darah keturunan raja dan pemimpin serta tokoh pejuangnya tercurah ke bumi, memilih cara lain untuk menghentikan langkah Datu Suppa Toa memimpin rakyat. Konon beliau diikat dan diberati dengan lesung batu lalu dilempar ke laut. Ditenggelamkan dan tentu saja mati pelan-pelain.
Di lokasi yang diperkirakan sebagai tempat ditenggelamnkannya jasad Datu Suppa Toa hidup-hidup selalu dikunjungi Petta Rani dan keluarga setiap datang ke Parepare. Saya pun pernah menyertai kunjungan Petta Nani ke pinggir laut itu, setelah menghadiri seminar mengenai ayahnya, sebagai persiapan pengusulan almarhum sebagai pahlawan.
Kisah penghilangan nyawa Datu Suppa Toa ini nyaris tidak ada yang tahu. Kalau saja Teluk Parepare itu bias mengamuk bahwa di lubuknya telah tumpah darah dari seorang pejuang, mungkin laut itu akan mengirim tsunami pada masa itu dan membunuh penjajah yang ada di pantai.
Menurut Petta Nani, di Teluk Parepare itulah ayahnya bersama para pejuang lain, Andi Mangkau dan Tahir Daeng Tompo mengakhiri hidupnya secara sangat keji. Mereka harus mengabdikan diri demi perjuangan bangsa tanpa pernah tahu kesalahannya dan diadili.
‘’Saya hanya tahu mereka itu punya cita-cita luhur untuk masa depan bangsanya. Mereka juga turut berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia,’’ tulis Petta Nani dalam bukunya Nuansa Pelangi edisi ke-2 yang tersimpan rapi di perpustakaan pribadi saya.
Memang terasa aneh juga kalau Datu Suppa Toa Andi Makkasau tidak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Soalnya, ada ‘adik’-nya yang lebih muda, sudah meraih gelar pahlawan nasional. Dan, saya kira merupakan amanah bagi siapa pun yang merasa terkait – termasuk juga saya dan beberapa teman, antara lain Kak Nunding Ram selaku tim perumus seminar di Parapere itu – memikul beban ini. Tentu saja yang sangat kompetensif adalah Gubernur Sulawesi Selatan.
Saya tidak pernah menyangka, Petta Rani akan pergi pada saat saya tidak ada di Indonesia. Bulan lalu, mungkin juga bertepatan dengan ulang tahunnya ke-81, saya membongkar-bongkar laci dan menemukan selembar foto dua tokoh senitari kondang Sulawesi Selatan, Ny.Ida Joesoef Madjid dan Ny.Hj. Andir Siti Nurhani Sapada sedang berbincang-bincang di kediaman Rektor Unhas (Radi A.Gany, waktu itu) yang menjamu sastrawan besar W.S.Rendra. Saat itu juga hadir Husni Djamaluddin (alm.). Saya tidak pernah punya firasat apa-apa dengan foto-foto ini.
Selamat jalan Petta Rani, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbil alamin.
Tepat pukul 23.00 Wita, Minggu (11/7) saya membuka email. Menengok kalau-kalau ada informasi penting, setelah dua hari saya tidak buka di Chiang Mai dan Bangkok Thailand, 10 dan 11 Juli 2010. Astaga, begitu saya mencoba klik email kiriman Kak Udhin Palisuri yang juga terbagi ke sejumlah teman facebook, saya setengah berteriak menanyakan kepada istri.
‘’Mi, Petta Nani meninggal dunia??????,’’ kata saya yang masih berslimut kaget.
‘’Ya, hari Kamis. Kemungkinan dimakamkan di Barru atau Parepare,’’ katanya lagi. Saya terdiam sejenak. Seperti merasa diri berdosa, karena sehabis dirawat di rumah sakit beberapa bulan silam, saya tidak pernah membesuknya lagi di kediamannya.
‘’Habis, Bapak tidak pernah menelepon, jadi tidak pernah kami memberitahu,’’ imbuh istri saya. Ponsel, memang saya matikan, karena selain tidak memasang/buka roaming internasional, juga sengaja saya matikan.
Saya termeenung sejenak. Mengenang masa-masa silam kebersamaan saya dengan almarhumah. Interaksi saya dengan Hj Andi Siti Nurhani Sapada yang akrab saya sapa Petta Nani, nyaris tidak bersekat. Saya bagaikan anaknya sendiri. Terkadang almarhumah tiba-tiba menelepon ke ponsel saya. Pertanyaan pertama yang muncul setiap menelepon adalah, di mana saya berada. Soalnya, setiap Petta Nani, entah kenapa, saya tepat sedang tidak di Makassar. Terkadang di Jakarta, Papua (antara 2007-2008) dan tempat-tempat lainnya.
Beliau mengenal saya kenal ketika saya aktif-aktifnya sebagai wartawan Pedoman Rakyat. Jika ada kegiatan, saya selalu ditelepon dan diberitahu. Apalagi, almarhumah tahu saya dari Fakultas Sastra dan sedikit memiliki rasa seni.
Pada peringatan Ulang Tahun ke-80 tahun 2009, saya pun hadir di Hotel Losari Metro. Almarhumah dilahirkan 25 Juni 1929 di Parepare. Almarhumah gembira sekali ketika itu. Ada Pak A.Amiruddin,Pak Syahrul Yasin Limpo, dan Pak Idrus A Paturusi. Kebahagiaannya berlimpah lagi karena sejumlah anak, cucu, dan teman semasa gadis remajanya juga hadir. Bahkan sempat bernyanyi bersama. Di antara teman akrabnya adalah Drg.Hj Halimah Daeng Sikati. Pada malam itu, Halimah Dg.Sikati sempat bernostalgia masa remaja mereka, di samping menyumbangkan suaranya secara bersama.
Tidak terbayangkan, peringatan ini terakhir yang ramai dihadiri kerabat handai tolan. Bersyukurlah, Petta Nani masih sempat memperoleh bonus usia 81 tahun. Ketika beberapa bulan lalu, beliau dirawat di RSUP Wahidin Sudirohusodo, sebelum ke kampus, saya menyempatkan diri membesuknya. Saya ajak istri sama-sama menjenguknya. Petta Nani selalu berpesan kepadea saya membawa dan memperkenalkan ‘mantan pacar’ku itu kepadanya. Namun selalu saya katakan, ‘’Ibu agak kerepotan, karena sudah dikuasai oleh sepasang cucunya. Satu menit saja tidak lihat neneknya sehabis pulang kantor, pasti ponsel bersering. Jika terlambat pulang akan diwawancarai, bahkan menjurus ke interogasi’’. Dasar cucunya wartawan.
Saya sempat mencium tangannya. Petta Nani selalu berusaha memperlihatkan dirinya sehat. Beliau bangun duduk dan selalu berkelakar mengenai situasinya yang bagaikan dikerangkeng. Beliau selalu ingin merasa bebas, meski kesehatannya tidak memungkinkan. Begitulah ketika usai seminar di Parepare dan mau turun dari rumah panggung di Suppa, Petta Nani agak kewalahan melangkahkan kakinya. Saya yang sudah merasakan bukan orang lain bagi almarhumah, tak sungkan-sungkan membimbingnya turun dari rumah panggung di pinggir pantai itu.
Sama ketika sehabis menelepon dan meminta saya datang ke rumahnya di bilangan Jl.Hertasning, beliau selalu berusaha menyambut saya duduk di kursi tamunya. Kadang-kadang saya minta almarhumah agar istirahat saja. Namun beliau merasa tidak enak kalau saya duduk melongo sendiri sambil melihat foto-foto yang baru dia bikin.
Perjuangkan Pahlawan
Interaksi saya dengan almarhumah agak sering ketika dalam empat tahun terakhir ini gencar melaksanakan berbagai pertemuan dan seminar membahas kisah perjuangan ayahnya, Datu Suppa Toa Andi Makkasau, seorang pejuang dan perintis kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Almarhumah sangat bersemangat mendorong dan memperjuangkan agar ayahnya memperoleh gelar sebagai Pahlawan Nasional. Masalahnya, salah seorang pejuang yang lebih muda dari ayahnya, yakni Andi Abdullah Bau Massepe sudah memperoleh gelar tersebut.
Terkadang, almarhumah mengeluh kepada saya perihal perjuangannya menjadikan ayahnya sebagai salah seorang pahlawan dari daerah ini penuh lika-liku. Saya kerap berpikir, inilah amanah yang akan beliau tinggalkan jika saat meninggal dunia cita-cita dan pejuangannya ini belum tertunaikan.
Perjuangan ayahnya tidak sebanding dengan tokoh pejuang pada masanya. Ia tidak pernah mau menyerahkan diri pada penjajah Belanda. Belanda yang takut massa rakyat akan marah bila mendengar darah keturunan raja dan pemimpin serta tokoh pejuangnya tercurah ke bumi, memilih cara lain untuk menghentikan langkah Datu Suppa Toa memimpin rakyat. Konon beliau diikat dan diberati dengan lesung batu lalu dilempar ke laut. Ditenggelamkan dan tentu saja mati pelan-pelain.
Di lokasi yang diperkirakan sebagai tempat ditenggelamnkannya jasad Datu Suppa Toa hidup-hidup selalu dikunjungi Petta Rani dan keluarga setiap datang ke Parepare. Saya pun pernah menyertai kunjungan Petta Nani ke pinggir laut itu, setelah menghadiri seminar mengenai ayahnya, sebagai persiapan pengusulan almarhum sebagai pahlawan.
Kisah penghilangan nyawa Datu Suppa Toa ini nyaris tidak ada yang tahu. Kalau saja Teluk Parepare itu bias mengamuk bahwa di lubuknya telah tumpah darah dari seorang pejuang, mungkin laut itu akan mengirim tsunami pada masa itu dan membunuh penjajah yang ada di pantai.
Menurut Petta Nani, di Teluk Parepare itulah ayahnya bersama para pejuang lain, Andi Mangkau dan Tahir Daeng Tompo mengakhiri hidupnya secara sangat keji. Mereka harus mengabdikan diri demi perjuangan bangsa tanpa pernah tahu kesalahannya dan diadili.
‘’Saya hanya tahu mereka itu punya cita-cita luhur untuk masa depan bangsanya. Mereka juga turut berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia,’’ tulis Petta Nani dalam bukunya Nuansa Pelangi edisi ke-2 yang tersimpan rapi di perpustakaan pribadi saya.
Memang terasa aneh juga kalau Datu Suppa Toa Andi Makkasau tidak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Soalnya, ada ‘adik’-nya yang lebih muda, sudah meraih gelar pahlawan nasional. Dan, saya kira merupakan amanah bagi siapa pun yang merasa terkait – termasuk juga saya dan beberapa teman, antara lain Kak Nunding Ram selaku tim perumus seminar di Parapere itu – memikul beban ini. Tentu saja yang sangat kompetensif adalah Gubernur Sulawesi Selatan.
Saya tidak pernah menyangka, Petta Rani akan pergi pada saat saya tidak ada di Indonesia. Bulan lalu, mungkin juga bertepatan dengan ulang tahunnya ke-81, saya membongkar-bongkar laci dan menemukan selembar foto dua tokoh senitari kondang Sulawesi Selatan, Ny.Ida Joesoef Madjid dan Ny.Hj. Andir Siti Nurhani Sapada sedang berbincang-bincang di kediaman Rektor Unhas (Radi A.Gany, waktu itu) yang menjamu sastrawan besar W.S.Rendra. Saat itu juga hadir Husni Djamaluddin (alm.). Saya tidak pernah punya firasat apa-apa dengan foto-foto ini.
Selamat jalan Petta Rani, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbil alamin.
Selasa, 15 Juni 2010
Ayam Tertawa di Pasar Hobi
Ayam jantan berkokok sudah biasa. Juga bukan barang aneh. Tetapi, ayam ‘tertawa’ baru aneh. Lantaran ada ayam bersuara aneh seperti ini, beberapa waktu yang lalu di Parepare dilaksanakan lomba ayam tertawa. Yang hebat lagi, pada saat para ‘pemenang’ diundang maju dan menempati posisi masing-masing dengan predikat juara yang diraihnya, ayam-ayam itu kompak juga memperdengarkan ‘tertawa’-nya yang berkepanjangan.
‘’Kalau yang juara itu, harganya tidak main-main, Pak. Bisa mencapai Rp 15 juta per ekor,’’ kata salah seorang penjual ayam tertawa di Pasar Hobi. Toddopuli, Makassar, ketika dikerumuni belasan mahasiswa peserta English Journalism dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sabtu (12/6) siang.
Kedatangan mahasiswa yang saya pimpin itu, sengaja untuk mengetahui perihal ayam tertawa itu. Menurut sang penjual, ayam yang tertawanya berdurasi sampai 30-60 detik harganya sangat mahal. Kalau pendek, harganya berkisar Rp 1 juta. Ayam sejenis ini ternyata berasal dari Sidrap. Untuk menciptakan ayam yang kelak dapat ‘ngakak’ tidak ada perlakuan khusus. Makanannya biasa saja, seperti yang dijual di pasar-pasar hobi seperti ini.
Dalam kunjungan itu, dua orang mahasiswa juga ‘mewawancarai’ seekor ayam jantan yang juga dikenal ‘suka tertawa’. Ketika ditempatkan di pinggir jalan, dia mogok tertawa. Selidik punya selidik, ada dua penyebab hingga ayam berwarna putih itu mogok tertawa. Pertama, dia kepanasan. Kedua, ternyata ayam itu keenakan dibelai salah seorang dari dua mahasiswa putri yang mencoba ‘’mewawancarainya’.
‘’Pantasan ayamnya tidak mau ‘tertawa’, dari tadi dibelai terus. Dengan pandangan mata menerawang dia tenang saja menikmatinya,’’ kata saya yang disambut tertawa kedua mahasiswa saya itu.
M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel
‘’Kalau yang juara itu, harganya tidak main-main, Pak. Bisa mencapai Rp 15 juta per ekor,’’ kata salah seorang penjual ayam tertawa di Pasar Hobi. Toddopuli, Makassar, ketika dikerumuni belasan mahasiswa peserta English Journalism dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sabtu (12/6) siang.
Kedatangan mahasiswa yang saya pimpin itu, sengaja untuk mengetahui perihal ayam tertawa itu. Menurut sang penjual, ayam yang tertawanya berdurasi sampai 30-60 detik harganya sangat mahal. Kalau pendek, harganya berkisar Rp 1 juta. Ayam sejenis ini ternyata berasal dari Sidrap. Untuk menciptakan ayam yang kelak dapat ‘ngakak’ tidak ada perlakuan khusus. Makanannya biasa saja, seperti yang dijual di pasar-pasar hobi seperti ini.
Dalam kunjungan itu, dua orang mahasiswa juga ‘mewawancarai’ seekor ayam jantan yang juga dikenal ‘suka tertawa’. Ketika ditempatkan di pinggir jalan, dia mogok tertawa. Selidik punya selidik, ada dua penyebab hingga ayam berwarna putih itu mogok tertawa. Pertama, dia kepanasan. Kedua, ternyata ayam itu keenakan dibelai salah seorang dari dua mahasiswa putri yang mencoba ‘’mewawancarainya’.
‘’Pantasan ayamnya tidak mau ‘tertawa’, dari tadi dibelai terus. Dengan pandangan mata menerawang dia tenang saja menikmatinya,’’ kata saya yang disambut tertawa kedua mahasiswa saya itu.
M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel
Kisah Kehidupan Penjara Masa Kini nan Tak Terceritakan
Judul : PENJARA The Untold Stories
Penulis : Ahmad Taufik
Penerbit : UFUK PRESS
Tebal : 189 halaman
Terbit ; April 2010
Pernah membaca MENGHITUNG HARI karya Aswendo Atmowiloto? Jika pernah, anda tentu akan dapat mengikuti laporan kehidupan penjara dalam kategori ‘soft news’ (berita lembut). Kisah demi kisah yang mungkin akan menyuguhkan perilaku manusia yang terkerangkeng dari aspek yang adem-adem, lunak. Tidak keras-keras amat, meski mungkin ada juga pertarungan hidup mati antarpara narapidana dan tahanan.
Akan tetapi jika membaca PENJARA The Untold Stories, Anda akan disuguhi rentetan hard news (berita keras). Tidak hanya berita-berita keras, tetapi juga satu bentuk produk kerja jurnalistik investigasi yang sangat berhasil. Tulisan-tulisan yang disuguhkan benar-benar memberi pemahaman yang sangat transaparan mengenai sepak terjang kehidupan dalam penjara yang tersembunyi dan tidak terceritakan selama ini.
Sebagai wartawan Majalah TEMPO (1984-1995), Ahmad Taufik bukan sembarang jurnalis. Dia sudah mengantongi seabrek predikat bergengsi sebagai award terhadap kerja profesionalnya di ranah jurnalistik. Soal dia menjadi salah satu penghuni Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, kemudian ke Rutan Salemba, Jakarta, itu perkara lain, juga berkaitan dengan risiko sebagai seorang jurnalis.
Ahmad Taufik menggelar seluruh kehidupan yang tak terbaca di balik terali besi. Mulai dari persekongkolan ‘melarikan’ Edy Tanzil, kisah kehidupan sipir yang rutinitasnya terjebak dalam praktik ‘jeruk makan jeruk’, masalah judi, hingga narkoba.
Penulis juga secara deskriptif mengungkap ‘modus kongkalikong’ yang terjadi di balik penjara. Mulai dari ‘mengubah ayat, jual beli vonis, tahan vonis, penempatan, tahan badan, bebas bersyarat, hingga mengapa aku di situ?. Seluruh sesi ini ujung-ujungnya melibatkan uang. Gila. Sebuah aktivitas ‘perekenomian jahannam’ tak kasat mata yang dilakukan secara menggurita.
Bukan hanya itu, Ahmad Taufik juga menyorot masalah ‘Seks dalam kerangkeng’,’ Dari Polda ke Salemba’. Bagian ini merupakan kisah tersamar yang selama ini tidak banyak dikisahkan orang. Kalau pun diceritakan, hanya sebatas tuturan lisan dari mulut ke mulut. Sebagai seorang jurnalis dengan jam terbang yang sangat meyakinkan, Ahmad Taufik benar-benar telaten mendeskripsikan perilaku bejat yang dilakukan para tahanan di Polda Metro Jaya yang dia saksikan sendiri. Bukan cuma itu, sang penulis juga ‘merekayasa’ situasi agar dapat menyimak dan mengamati secara tersembunyi perilaku tahanan yang sedang melakukan ‘transaksi seksual’ dari balik jeruji besi.
Itulah salah satu masalah yang sangat tabu selama ini, disorot penulis di dalam buku ini. Bagaimana sikap yang sebenarnya pantas dilakukan binatang, tiba-tiba tanpa malu-malu dilakukan oleh seorang manusia yang berpikir waras meski dalam keadaan terkungkung. Saya pun tak sopan merinci kelakuan para tahanan itu. Silakan saja baca bukunya.
Buku ini – tanpa bermaksud mempromosi – memang enak dibaca. Gaya penulisannya mengalir, yang dikemas dalam aliran penulisan features (tulisan khas) yang sarat dan kaya dengan kadar entertain, anekdotis, humoristik, dan terkadang kocak. Banyak diksi yang –terasa vulgar jika dibahasakan sesuai aslinya – mampu ‘disederhanakan’ oleh penulis, namun tetap merepresentasikan gagasan dan pengertian denotatifnya.
Saya tidak bermaksud berlama-lama ‘mencengengi’ isi buku ini, tetapi mungkin ke depan, teman-teman jurnalis yang memiliki pengalaman ‘aneh’ seperti ini, juga layak mengikuti jejak Ahmad Taufik. Menulis pengalaman hidup mereka yang memang ‘untold stories’, kisah yang tak terceritakan. Selamat membaca.
M.Dahlan Abubakar
Penulis : Ahmad Taufik
Penerbit : UFUK PRESS
Tebal : 189 halaman
Terbit ; April 2010
Pernah membaca MENGHITUNG HARI karya Aswendo Atmowiloto? Jika pernah, anda tentu akan dapat mengikuti laporan kehidupan penjara dalam kategori ‘soft news’ (berita lembut). Kisah demi kisah yang mungkin akan menyuguhkan perilaku manusia yang terkerangkeng dari aspek yang adem-adem, lunak. Tidak keras-keras amat, meski mungkin ada juga pertarungan hidup mati antarpara narapidana dan tahanan.
Akan tetapi jika membaca PENJARA The Untold Stories, Anda akan disuguhi rentetan hard news (berita keras). Tidak hanya berita-berita keras, tetapi juga satu bentuk produk kerja jurnalistik investigasi yang sangat berhasil. Tulisan-tulisan yang disuguhkan benar-benar memberi pemahaman yang sangat transaparan mengenai sepak terjang kehidupan dalam penjara yang tersembunyi dan tidak terceritakan selama ini.
Sebagai wartawan Majalah TEMPO (1984-1995), Ahmad Taufik bukan sembarang jurnalis. Dia sudah mengantongi seabrek predikat bergengsi sebagai award terhadap kerja profesionalnya di ranah jurnalistik. Soal dia menjadi salah satu penghuni Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, kemudian ke Rutan Salemba, Jakarta, itu perkara lain, juga berkaitan dengan risiko sebagai seorang jurnalis.
Ahmad Taufik menggelar seluruh kehidupan yang tak terbaca di balik terali besi. Mulai dari persekongkolan ‘melarikan’ Edy Tanzil, kisah kehidupan sipir yang rutinitasnya terjebak dalam praktik ‘jeruk makan jeruk’, masalah judi, hingga narkoba.
Penulis juga secara deskriptif mengungkap ‘modus kongkalikong’ yang terjadi di balik penjara. Mulai dari ‘mengubah ayat, jual beli vonis, tahan vonis, penempatan, tahan badan, bebas bersyarat, hingga mengapa aku di situ?. Seluruh sesi ini ujung-ujungnya melibatkan uang. Gila. Sebuah aktivitas ‘perekenomian jahannam’ tak kasat mata yang dilakukan secara menggurita.
Bukan hanya itu, Ahmad Taufik juga menyorot masalah ‘Seks dalam kerangkeng’,’ Dari Polda ke Salemba’. Bagian ini merupakan kisah tersamar yang selama ini tidak banyak dikisahkan orang. Kalau pun diceritakan, hanya sebatas tuturan lisan dari mulut ke mulut. Sebagai seorang jurnalis dengan jam terbang yang sangat meyakinkan, Ahmad Taufik benar-benar telaten mendeskripsikan perilaku bejat yang dilakukan para tahanan di Polda Metro Jaya yang dia saksikan sendiri. Bukan cuma itu, sang penulis juga ‘merekayasa’ situasi agar dapat menyimak dan mengamati secara tersembunyi perilaku tahanan yang sedang melakukan ‘transaksi seksual’ dari balik jeruji besi.
Itulah salah satu masalah yang sangat tabu selama ini, disorot penulis di dalam buku ini. Bagaimana sikap yang sebenarnya pantas dilakukan binatang, tiba-tiba tanpa malu-malu dilakukan oleh seorang manusia yang berpikir waras meski dalam keadaan terkungkung. Saya pun tak sopan merinci kelakuan para tahanan itu. Silakan saja baca bukunya.
Buku ini – tanpa bermaksud mempromosi – memang enak dibaca. Gaya penulisannya mengalir, yang dikemas dalam aliran penulisan features (tulisan khas) yang sarat dan kaya dengan kadar entertain, anekdotis, humoristik, dan terkadang kocak. Banyak diksi yang –terasa vulgar jika dibahasakan sesuai aslinya – mampu ‘disederhanakan’ oleh penulis, namun tetap merepresentasikan gagasan dan pengertian denotatifnya.
Saya tidak bermaksud berlama-lama ‘mencengengi’ isi buku ini, tetapi mungkin ke depan, teman-teman jurnalis yang memiliki pengalaman ‘aneh’ seperti ini, juga layak mengikuti jejak Ahmad Taufik. Menulis pengalaman hidup mereka yang memang ‘untold stories’, kisah yang tak terceritakan. Selamat membaca.
M.Dahlan Abubakar
Minggu, 13 Juni 2010
Kasus A_LM Masuk Warung K5
Oleh M.Dahlan Abubakar
‘Popularitas’ video mesum pasangan elebritis A-LM yang berhasil menguasai pemberitaan media massa akhir-akhir ini, ternyata menembus ke ranah publik yang paling bawah. Warung makan ikan bakar di pinggir jalan pun menjadi area secara tidak langsung warga mendiskusikan video yang menghebohkan itu. Tidak heran memang, pasangan itu merupakan selebritis papan atas.
Jumat (11/6) sehabis menunaikan ibadah salat Jumat di Jl. Andi Pangerang Petta Rani, saya mampir di sebuah warung makan yang menjual ikan bakar. Warung ini pernah saya singgahi ketika pulang dari salat yang sama beberapa minggu silam. Karena ikan bakarnya enak, meski lokasinya jelas khusus untuk kelas warga kelas menengah ke bawah, tampaknya, membuat saya bersemangat mampir.
Ketika saya nongol, seorang lelaki setengah umur menyapa.
‘’Ayo, mari makan,’’ sapa pria berkacamata itu pendek dan membuat saya yang baru masuk dari tempat terang, belum mampu membedakan, siapa sebenarnya lelaki yang menyambut saya itu. Setelah ‘memory’ saya pulih, baru kemudian terungkap kalau yang menyambut itu adalah seorang maha guru di almamater saya. Saya ingat betul beliau dalam satu hal, yakni pernah menjadi guru saya ketika mengikuti kursus computer klasifikasi words, entah tahun berapa saya sudah lupa. Namun yang jelas, pada kursus yang dilaksanakan di salah satu ruang di jejeran gedung di Pantai Losari tersebut, nilai saya sempurna, A.
Seperti biasa, saya memesan ikan bakar bandeng. Sama dengan teman saya yang guru besar itu. Enak sekali makan tanpa beban, di lingkungan suasana warga biasa. Suasana makan yang selalu memberi perasaan yang sangat khas dalam diri saya. Bukan cuma itu, makan di pinggir jalan seperti ini membuat selera makan saya sedikit ‘menggila’. Berbeda dengan kalau makan di gedung-gedung ber-AC dalam hidangan prasmanan pr4oduksi cathering, selera makan saya lenyap sama sekali.
Baru beberapa suap nasi lenyap dari piring, tiba-tiba empat perempuan dewasa nongol juga di depan kami berdua.Tiga orang mengenakan pakaian non-islami (maksudnya, bukan jilbab). Seorang yang pakai jilbab, wajahnya cukup cantik. Saya menjadi sedikit ‘terganggu’, karena begitu muncul, pandangan matanya tertohok pada retina saya. Mungkin dia merasa mengenal saya. Saya rada seperti itu.
‘’Kira-kira apa yang jadi agenda diskusi empat perempuan di depanku ini nanti,’’ saya berguman.
Belum lama duduk, perempuan yang berjilbab membuka wacana. Astaga, saya kira menyangkut masalah Susno, Gayus, atau meninggalnya Andi Meriem Mattalatta beberapa hari lalu, ternyata justru yang diperbincangkan adalah kasus video mesum pasangan selebriti A-LM.
‘’Aduh, hebatnya itu video. Kayaknya A dan LM,’’ kata si perempuan berjilbab. Yang lain tak memberi reaksi berlebihan. Mungkin malu-malu dengan kami berdua yang duduk di depannya dan lebih dahulu menikmati makan siang.
Tiba-tiba saja professor, teman saya ikut nimbrung dengan wacana para ibu di depannya. Seolah tidak tahan lagi untuk tidak nimbrung.
‘’Tetapi kayaknya bagus juga untuk ibu-ibu,’’ ujarnya.
‘’Maksud Bapak?,’’ sang pemakai jilbab tertarik bertanya balik.
‘’Artinya, bisa mencontoh trik-trik yang ada di video itu biar Bapaknya selalu betah di rumah dan bersemangat,’’ jelas teman saya..
‘’Laki-laki itu tidak bisa dikekang.Berikan dia kepercayaan untuk menjaga dirinya sendiri,’’ kata ibu itu lagi rada filosofis.
‘’Tapi, LM sudah hilang ke Singapura,’’ katanya lagi.
‘’Untuk apa?,’’ tanya saya berpura-pura.
‘’Mau menghilangkan tatoo-nya,’’ jawab perempuan itu segera.
‘’Pasti ada bekasnya,’’ sahut saya.
LM memang memiliki tatoo kelelawar di pinggul kirinya. Tatoo ini dibantah sendiri oleh LM, tetapi seorang pembuat tatoo mengaku pernah didatangi selebriti itu untuk diukir tubuhnya.
Sambil menikmati kepala ikan bakar dan karena asyiknya diskusi, kuah sop yang juga tak kalah enaknya sampai saya lupa cicipi, benak saya terus bergulir memikirkan, kalimat apa gerangan yang bagus menjadi penimbrung dalam diskusi sambil makan dengan para ibu itu. Akhirnya saya dapat satu pertanyaan andai-andai.
‘’Bu, maaf, Bu. Ini seandainya, ya seandainya. Kalau seandainya ibu adalah LM, kira-kira apa yang akan ibu lakukan dengan situasi seperti itu,’’ Tanya saya dengan hati dig dag dug. Saya gusar, jangan-jangan ibu cantik itu akan merasa tersiinggung dengan ucapan saya. Ternyata tidak. Dia merespons baik.
‘’Kalau saya, akan mengaku saja. Tokh video itu milik mereka berdua,’’ katanya.
‘’Terus cukup dengan itu, Bu,’’ usut saya lagi.
‘’Setelah itu mereka menikah baik-baik. Tokh mereka satu-satu (satu duda dan satu lajang),’’ katanya lagi.
‘’Saya rasa-rasanya sepandangan dengan ibu,’’ sahut saya sedikit berempati.
‘’Orang Indonesia itu cepat sekali melupakan kesalahan orang,’’ saya mengimbuhkan, kemudian memberi contoh kasus Maria Eva yang terungkap beradegan hot dengan salah seorang anggota legislatif diri di sebuah hortel. Video yang direkam dengan menggunakan telepon genggam ini sempat menghebohkan publik di negara ini. Setelah kejadian itu, orang semua melupakan keduanya, seiring dengan hilangnya mereka dari peredaran. Namun nama yang perempuan kemudian muncul lagi menyusul hasratnya menjadi calon bupati Sidoarjo, yang tentu saja jelas-jelas ditentang banyak orang, terutama para ulama Jawa Timur.
Para ibu asyik menikmati hidangan makan siang yang mereka pesan, sambil menyilakan dua orang teman pria –rupanya—yang kebetulan duduk di samping jejeran kursi tempat kami duduk. Saat teman saya lebih dahulu pamit setelah membayar ongkos makan kami berdua, ibu cantik itu bertanya kepada saya aetelah mendengar saya mengucapkan ‘’terima kasih, Prof.’’.
‘’Nah, itu. Saya sudah bisa tebak. Bapak itu kerja di mana? Rasanya sering saya lihat,’’ kata sang ibu tersebut.
‘’Beliau salah seorang guru besar di kampus..,’’ saya menjelaskan nama perguruan tingginya.
‘’Kalau bapak?,’’ saya tidak sangka, dia balik bertanya pada saya.
‘’Saya hanya pesuruh dari beliau. Bukan siapa-siapa,’’ kata saya.
‘’Ah,, nggak percaya. Bapak pasti pejabat,’’ katanya tidak percaya.
‘’Apa model saya ini bertampang pejabat, Bu?, Kalaun pejabat, mana mau makan ikan bakar di-kentaki (kentara kaki) seperti ini?,’’ jawab saya.
‘’Iyalah…,’’ ujarnya dengan bahasa gaul.
Saya mohon pamit, karena dalam beberapa menit lagi akan harus ke gedung PWI, mengambil kendaraan sembari menunggu salah seorang mahasiswa saya di Unifa. Hari itu, pukul 13.30 saya harus hadir di kelas mereka.
Makassar, 10 Juni 2010.
‘Popularitas’ video mesum pasangan elebritis A-LM yang berhasil menguasai pemberitaan media massa akhir-akhir ini, ternyata menembus ke ranah publik yang paling bawah. Warung makan ikan bakar di pinggir jalan pun menjadi area secara tidak langsung warga mendiskusikan video yang menghebohkan itu. Tidak heran memang, pasangan itu merupakan selebritis papan atas.
Jumat (11/6) sehabis menunaikan ibadah salat Jumat di Jl. Andi Pangerang Petta Rani, saya mampir di sebuah warung makan yang menjual ikan bakar. Warung ini pernah saya singgahi ketika pulang dari salat yang sama beberapa minggu silam. Karena ikan bakarnya enak, meski lokasinya jelas khusus untuk kelas warga kelas menengah ke bawah, tampaknya, membuat saya bersemangat mampir.
Ketika saya nongol, seorang lelaki setengah umur menyapa.
‘’Ayo, mari makan,’’ sapa pria berkacamata itu pendek dan membuat saya yang baru masuk dari tempat terang, belum mampu membedakan, siapa sebenarnya lelaki yang menyambut saya itu. Setelah ‘memory’ saya pulih, baru kemudian terungkap kalau yang menyambut itu adalah seorang maha guru di almamater saya. Saya ingat betul beliau dalam satu hal, yakni pernah menjadi guru saya ketika mengikuti kursus computer klasifikasi words, entah tahun berapa saya sudah lupa. Namun yang jelas, pada kursus yang dilaksanakan di salah satu ruang di jejeran gedung di Pantai Losari tersebut, nilai saya sempurna, A.
Seperti biasa, saya memesan ikan bakar bandeng. Sama dengan teman saya yang guru besar itu. Enak sekali makan tanpa beban, di lingkungan suasana warga biasa. Suasana makan yang selalu memberi perasaan yang sangat khas dalam diri saya. Bukan cuma itu, makan di pinggir jalan seperti ini membuat selera makan saya sedikit ‘menggila’. Berbeda dengan kalau makan di gedung-gedung ber-AC dalam hidangan prasmanan pr4oduksi cathering, selera makan saya lenyap sama sekali.
Baru beberapa suap nasi lenyap dari piring, tiba-tiba empat perempuan dewasa nongol juga di depan kami berdua.Tiga orang mengenakan pakaian non-islami (maksudnya, bukan jilbab). Seorang yang pakai jilbab, wajahnya cukup cantik. Saya menjadi sedikit ‘terganggu’, karena begitu muncul, pandangan matanya tertohok pada retina saya. Mungkin dia merasa mengenal saya. Saya rada seperti itu.
‘’Kira-kira apa yang jadi agenda diskusi empat perempuan di depanku ini nanti,’’ saya berguman.
Belum lama duduk, perempuan yang berjilbab membuka wacana. Astaga, saya kira menyangkut masalah Susno, Gayus, atau meninggalnya Andi Meriem Mattalatta beberapa hari lalu, ternyata justru yang diperbincangkan adalah kasus video mesum pasangan selebriti A-LM.
‘’Aduh, hebatnya itu video. Kayaknya A dan LM,’’ kata si perempuan berjilbab. Yang lain tak memberi reaksi berlebihan. Mungkin malu-malu dengan kami berdua yang duduk di depannya dan lebih dahulu menikmati makan siang.
Tiba-tiba saja professor, teman saya ikut nimbrung dengan wacana para ibu di depannya. Seolah tidak tahan lagi untuk tidak nimbrung.
‘’Tetapi kayaknya bagus juga untuk ibu-ibu,’’ ujarnya.
‘’Maksud Bapak?,’’ sang pemakai jilbab tertarik bertanya balik.
‘’Artinya, bisa mencontoh trik-trik yang ada di video itu biar Bapaknya selalu betah di rumah dan bersemangat,’’ jelas teman saya..
‘’Laki-laki itu tidak bisa dikekang.Berikan dia kepercayaan untuk menjaga dirinya sendiri,’’ kata ibu itu lagi rada filosofis.
‘’Tapi, LM sudah hilang ke Singapura,’’ katanya lagi.
‘’Untuk apa?,’’ tanya saya berpura-pura.
‘’Mau menghilangkan tatoo-nya,’’ jawab perempuan itu segera.
‘’Pasti ada bekasnya,’’ sahut saya.
LM memang memiliki tatoo kelelawar di pinggul kirinya. Tatoo ini dibantah sendiri oleh LM, tetapi seorang pembuat tatoo mengaku pernah didatangi selebriti itu untuk diukir tubuhnya.
Sambil menikmati kepala ikan bakar dan karena asyiknya diskusi, kuah sop yang juga tak kalah enaknya sampai saya lupa cicipi, benak saya terus bergulir memikirkan, kalimat apa gerangan yang bagus menjadi penimbrung dalam diskusi sambil makan dengan para ibu itu. Akhirnya saya dapat satu pertanyaan andai-andai.
‘’Bu, maaf, Bu. Ini seandainya, ya seandainya. Kalau seandainya ibu adalah LM, kira-kira apa yang akan ibu lakukan dengan situasi seperti itu,’’ Tanya saya dengan hati dig dag dug. Saya gusar, jangan-jangan ibu cantik itu akan merasa tersiinggung dengan ucapan saya. Ternyata tidak. Dia merespons baik.
‘’Kalau saya, akan mengaku saja. Tokh video itu milik mereka berdua,’’ katanya.
‘’Terus cukup dengan itu, Bu,’’ usut saya lagi.
‘’Setelah itu mereka menikah baik-baik. Tokh mereka satu-satu (satu duda dan satu lajang),’’ katanya lagi.
‘’Saya rasa-rasanya sepandangan dengan ibu,’’ sahut saya sedikit berempati.
‘’Orang Indonesia itu cepat sekali melupakan kesalahan orang,’’ saya mengimbuhkan, kemudian memberi contoh kasus Maria Eva yang terungkap beradegan hot dengan salah seorang anggota legislatif diri di sebuah hortel. Video yang direkam dengan menggunakan telepon genggam ini sempat menghebohkan publik di negara ini. Setelah kejadian itu, orang semua melupakan keduanya, seiring dengan hilangnya mereka dari peredaran. Namun nama yang perempuan kemudian muncul lagi menyusul hasratnya menjadi calon bupati Sidoarjo, yang tentu saja jelas-jelas ditentang banyak orang, terutama para ulama Jawa Timur.
Para ibu asyik menikmati hidangan makan siang yang mereka pesan, sambil menyilakan dua orang teman pria –rupanya—yang kebetulan duduk di samping jejeran kursi tempat kami duduk. Saat teman saya lebih dahulu pamit setelah membayar ongkos makan kami berdua, ibu cantik itu bertanya kepada saya aetelah mendengar saya mengucapkan ‘’terima kasih, Prof.’’.
‘’Nah, itu. Saya sudah bisa tebak. Bapak itu kerja di mana? Rasanya sering saya lihat,’’ kata sang ibu tersebut.
‘’Beliau salah seorang guru besar di kampus..,’’ saya menjelaskan nama perguruan tingginya.
‘’Kalau bapak?,’’ saya tidak sangka, dia balik bertanya pada saya.
‘’Saya hanya pesuruh dari beliau. Bukan siapa-siapa,’’ kata saya.
‘’Ah,, nggak percaya. Bapak pasti pejabat,’’ katanya tidak percaya.
‘’Apa model saya ini bertampang pejabat, Bu?, Kalaun pejabat, mana mau makan ikan bakar di-kentaki (kentara kaki) seperti ini?,’’ jawab saya.
‘’Iyalah…,’’ ujarnya dengan bahasa gaul.
Saya mohon pamit, karena dalam beberapa menit lagi akan harus ke gedung PWI, mengambil kendaraan sembari menunggu salah seorang mahasiswa saya di Unifa. Hari itu, pukul 13.30 saya harus hadir di kelas mereka.
Makassar, 10 Juni 2010.
Sabtu, 12 Juni 2010
In Memoriam Andi Meriam Mattalatta: Mutiara dari Selatan Telah Tiada
Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel
Kabar duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia. Setelah sebelumnya musisi Pance Pondaag dipanggil Yang Maha Kuasa, menyusul rekan se-angkatannya, Andi Meriam Mattalatta. Almarhumah meninggal dunia di Belanda, Jumat (04/06) waktu setempat atau Sabtu (05/06) waktu Indonesia. Nama lengkapnya Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta.
Andi Meriam lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 31 Agustus 1957 dan meninggal di RS Zoetermeer, Zoetermeer, Belanda sekitar pukul 23.00 waktu Belanda atau Sabtu pagi WIB. Pelantun lagu Lenggang Jakarta itu wafat dalam usia 52 tahun, ketika tengah berlibur sekaligus mengunjungi anaknya yang berada di negeri kincir angin tersebut. Saat itu, menurut keterangan, almarhumah tiba-tiba pingsan dan tidak tertolong.
Komposer/pemusik Indonesia, Iskandar menciptakan lagu khusus Andi Meriem dengan judul ‘’Mutiara dari Selatan’’. Agaknya, lagu itu benar-benar memperoleh tempat di hati pecinta music di Indonesia, sehingga sang penyanyinya (Andi Meriem) pun dijuluki sebagai ‘’Mutiara dari Selatan’’.
Hubungan saya dengan Andi Meriem Mattalatta tidak dekat sama sekali. Yang saya tahu pasti, Mer, begitu dia akrab dipanggil, pernah menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Ketika itu, mahasiswa fakultas ini kuliah di Jl.Sunu. Seingat saya, Mer menjadi mahasiswa kira-kira dua atau tiga tahun di belakang saya. Tetapi, dia tidak terlalu aktif kuliah, karena kesibukannya sebagai seorang selebritis (penyanyi). Kalau dia muncul di kampus selalu menggunakan becak. Dia selalu tampil sederhana. Padahal, ayahnya adalah seorang petinggi di Makassar.
Tidak heran, di dinding kaca sebelah selatan kantor bagian Tata usaha Fakultas Sastra berjejer banyak surat dari penggemarnya. Saya tahu persis banyak surat untuk Mer, karena sebagai anak perantau, saat masuk kampus, jejeran surat yang beramplop dominan warna biru terlebih dahulu dilihat. Nah, pada kesempatan seperti inilah saya tahu begitu banyak surat buat Andi Meriam Mattalatta yang dilayangkan penggemarnya.
Setelah menjadi wartawan Pedoman Rakyat akhir 1976 saya sebenarnya berniat mewawancarai Mer ketika di kampus. Bagaimana pun sebagai selebritis yang mahasiswa Fakultas Sastra Unhas, tentu merupakan berita menarik bagi publik Makassar. Apalagi ketika tahun 1977 selain membantu PR (di samping Identitas Unhas), saya juga sering mengirim tulisan ke Harian Suara Karya Jakarta (hingga 1983), hasil wawancara tersebut dapat saya sharing ke media-media tersebut.
Begitulah kondisinya, setiap Mer muncul di kampus tidak pernah lama. Selesai kuliah, dia tidak seperti mahasiswa lainnya, menyempatkan diri ngobrol dengan teman-teman di kampus. Dia langsung cabut dari kampus. Jadi, hampir tidak pernah saya memperoleh kesempatan menyapanya untuk sekadar wawancara.
Ketika sering mengikuti acara ayahnya, mendiang Mayjen (Purn). H.Andi Mattalatta, selaku wartawan olahraga, -- atas jasa baik Pak H.Abdul Kadir Buloto -- saya sering memperoleh kesempatan hadir dalam acara-acara keluarga H.Andi Mattalatta yang kerap juga Mer hadir. Sebagai seorang wartawan olahraga yang merangkap sebagai fotografer, ayahnya ketika menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pernah mengajak saya meninjau Pulau Salemo di Kabupaten Pangkep.
Perjalanan ke Salemo menggunakan dua speedboat. Satu speedboat dikemudikan Puang, panggilan akrab terhadap Pak Andi Mattalatta, bersama saya. Kami berdua. Boat ini bermesin ganda, masing-masing Yamaha 125 CC. Sebuah boat lainnya sebagai pengawal, juga membawa dua orang.
Saya tidak menghitung berapa lama waktu yang diperlukan ke pulau itu, namun yang jelas, boat bagaikan terbang mengarungi laut pagi yang masih terbilang tenang. Separuh badan boat berada di atas air. Puang memang salah seorang Bapak Ski Air Indonesia dan pernah menjadi atletnya dengan atraksi yang sangat spektakuler ketika masih usia muda. Oleh banyak orang, beliau adalah seorang olahragawan serba bisa. Selain sebagai atlet ski air, juga seorang petinju.
Pada saat pulang, air laut mulai bergelombang. Puang memilih menyusuri perjalanan lebih dekat ke arah pantai. Kecepatan boat separuh dari ketika akan berangkat. Juga sangat goyang, sebab air penuh gelombang. Diterpa angin laut, apalagi hari sudah sore, mata saya sulit dikendalikan. Terkantuk-kantuk. Terkadang mata saya terpejam beberapa saat, kemudian terbuka lagi ketika boat goyang keras karena menghantam gelombang laut yang agak tinggi.
Ketika tiba, Puang berkata.
‘’Tadi kamu tidur, ya. Berani juga,’’ katanya pendek, saat kami berdua kembali ke kawasan POPSA Makassar.
Selepas dari perjalanan laut yang menyenangkan ini, hubungan saya dengan Puang dan keluarganya kian dekat. Sebagai wartawan olahraga, Pak Kadir Buloto nyaris tidak pernah absen mengontak saya untuk meliput. Rata-rata acara tersebut dihadiri Puang. Biasa juga Mer hadir.
Dalam suatu acara peliputan di PON, saya lupa yang ke berapa, Mer hadir ikut men-support tim voli putri Sulsel yang jika tidak salah melawan Irian Jaya (kini Papua). Dia bersemangat berteriak bersama anggota kontingen PON Sulsel lainnya dari pinggir lapangan.
Sehabis pertandingan, hanya satu kalimat yang saya peroleh dari Mer untuk melengkapi berita mengenai kegagalan regu voli Sulsel mengalahkan Irian Jaya itu.
‘’Sayang tim kita kalah,’’ hanya itu kalimat yang dia lontarkan.
Saya tidak kehabisan akal. Meski Mer dikenal irit sekali dengan komentar kepada wartawan, namun suasana selama dia mendukung tim voli Sulsel itu cukup memberi warna terhadap pemberitaan saya keesokan harinya. Mer memang tidak seperti kebanyakan selebritis lainnya yang gampang mengumbar komentar. Jika ada yang mencoba menanyakan kepadanya, dengan senyum khasnya, dia selalu menampik.
‘’Jangan mi saya diwawancarai,’’ begitu katanya suatu saat ketika menyaksikan suatu pertandingan di Jakarta.
Pernah suatu waktu ada acara di Hotel Marannu Makassar, Mer juga hadir. Ketika itu Ibunya masih hidup. Saya lupa acara apa sebenarnya. Namun yang jelas, saya termasuk salah seorang yang ikut dilibatkan dalam acara itu. Tentu saja, sesuai dengan kapasitas saya sebagai wartawan. Mer tampil menyanyi. Saya memotret sepuas-puasnya, suatu kesempatan yang mungkin pertama kali saya peroleh selama ini terhadap aktivitas Andi Meriam. Dan, ketika itulah dia tidak bisa menghindar dari jepretan, seperti yang banyak dia lakukan jika saya mulai mengarahkan moncong kamera ke arahnya.
Jenazah dijadwalkan tiba hari Selasa di Indonesia. Keluarga besarnya telah mempersiapkan pemakaman di pemakaman keluarga Tana Maridi di Kabupaten Barru, Sulsel, 100 km dari Makassar. Mer akan berdampingan dengan pusara kedua orang tuanya.
“Kami berharap dimakamkan di dekat makam ibu dan bapak. Semua kakak yang sedang di Jakarta juga juga telah berembuk dan sepakat dibawa ke Makassar,” kata Andi Soraya, adik bungsu Andi Meriam saat ditemui inilah.com rumah duka di Jalan Ratulangi No 12 Makassar, Sabtu (5/6).
Mer mulai menyanyi sejak kelas 5 SD. Pada tahun 1970 dia meraih juara I Lomba Lagu Pop se-Makassar. Pada tahun 1973, anak kelima (Andi Hermin, Andi Ilhamsyah, Andi Radiah, Andi Faridah, dan Andi Soraya) dari enam bersaudara ini masuk dalam 10 finalis lomba lagu pop se-Indonesia. Sebelum aktif menyanyi, Mer adalah seorang atlet ski air. Bersama kakaknya, Farida, pernah meraih juara I Lomba Ski Air di Makassar.
Andi Meriem dikenal dengan sejumlah lagu yang cukup terkenal di eranya, antara lain: "Hasrat" ciptaan Dadang S. Manaf duet dengan Bob Tutupoly, "Sejuta" ciptaan Guruh Soekarno Putra, "Tiada Tanpa Kesan" ciptaan Ryan Kyoto, "Hari-hari" ciptaan Lea, "Angan Dalam Cinta" ciptaan Ancha VMH, "Wanita" ciptaan Junaedi Salat, "Hidup" ciptaan Oddie Agam, "Malam Tiba" ciptaan Oddie Agam, "Apa Dayaku" ciptaan Sam Bimbo, "Buku Buku" ciptaan Oddie Agam, "Kata Dan Perbuatan" ciptaan Tommy & Marie, "Hello-hello Jumpa Lagi", "Ding Ding Dong", "Andaikan","Bendera Cintaku", "Bimbang", "Bukan Ku Tak Percaya", "Cepatlah Kau Kembali", "Cintaku", "Hasrat Dan Cinta", "Janji" ,"Januari Yang Biru", "Kelabu", "Layu" ,"'Lenggang Jakarta", "Mudahnya Bilang Cinta".
Selamat jalan ‘Mutiara dari Selatan’, semoga abadi dan mendapat yang layak di sisi-Nya. Amin.
Makassar, 7 Juni 2010.
Dimuat di Harian Tribun Timur 9 Juni 2010.
Wartawan Senior Sulsel
Kabar duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia. Setelah sebelumnya musisi Pance Pondaag dipanggil Yang Maha Kuasa, menyusul rekan se-angkatannya, Andi Meriam Mattalatta. Almarhumah meninggal dunia di Belanda, Jumat (04/06) waktu setempat atau Sabtu (05/06) waktu Indonesia. Nama lengkapnya Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta.
Andi Meriam lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 31 Agustus 1957 dan meninggal di RS Zoetermeer, Zoetermeer, Belanda sekitar pukul 23.00 waktu Belanda atau Sabtu pagi WIB. Pelantun lagu Lenggang Jakarta itu wafat dalam usia 52 tahun, ketika tengah berlibur sekaligus mengunjungi anaknya yang berada di negeri kincir angin tersebut. Saat itu, menurut keterangan, almarhumah tiba-tiba pingsan dan tidak tertolong.
Komposer/pemusik Indonesia, Iskandar menciptakan lagu khusus Andi Meriem dengan judul ‘’Mutiara dari Selatan’’. Agaknya, lagu itu benar-benar memperoleh tempat di hati pecinta music di Indonesia, sehingga sang penyanyinya (Andi Meriem) pun dijuluki sebagai ‘’Mutiara dari Selatan’’.
Hubungan saya dengan Andi Meriem Mattalatta tidak dekat sama sekali. Yang saya tahu pasti, Mer, begitu dia akrab dipanggil, pernah menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Ketika itu, mahasiswa fakultas ini kuliah di Jl.Sunu. Seingat saya, Mer menjadi mahasiswa kira-kira dua atau tiga tahun di belakang saya. Tetapi, dia tidak terlalu aktif kuliah, karena kesibukannya sebagai seorang selebritis (penyanyi). Kalau dia muncul di kampus selalu menggunakan becak. Dia selalu tampil sederhana. Padahal, ayahnya adalah seorang petinggi di Makassar.
Tidak heran, di dinding kaca sebelah selatan kantor bagian Tata usaha Fakultas Sastra berjejer banyak surat dari penggemarnya. Saya tahu persis banyak surat untuk Mer, karena sebagai anak perantau, saat masuk kampus, jejeran surat yang beramplop dominan warna biru terlebih dahulu dilihat. Nah, pada kesempatan seperti inilah saya tahu begitu banyak surat buat Andi Meriam Mattalatta yang dilayangkan penggemarnya.
Setelah menjadi wartawan Pedoman Rakyat akhir 1976 saya sebenarnya berniat mewawancarai Mer ketika di kampus. Bagaimana pun sebagai selebritis yang mahasiswa Fakultas Sastra Unhas, tentu merupakan berita menarik bagi publik Makassar. Apalagi ketika tahun 1977 selain membantu PR (di samping Identitas Unhas), saya juga sering mengirim tulisan ke Harian Suara Karya Jakarta (hingga 1983), hasil wawancara tersebut dapat saya sharing ke media-media tersebut.
Begitulah kondisinya, setiap Mer muncul di kampus tidak pernah lama. Selesai kuliah, dia tidak seperti mahasiswa lainnya, menyempatkan diri ngobrol dengan teman-teman di kampus. Dia langsung cabut dari kampus. Jadi, hampir tidak pernah saya memperoleh kesempatan menyapanya untuk sekadar wawancara.
Ketika sering mengikuti acara ayahnya, mendiang Mayjen (Purn). H.Andi Mattalatta, selaku wartawan olahraga, -- atas jasa baik Pak H.Abdul Kadir Buloto -- saya sering memperoleh kesempatan hadir dalam acara-acara keluarga H.Andi Mattalatta yang kerap juga Mer hadir. Sebagai seorang wartawan olahraga yang merangkap sebagai fotografer, ayahnya ketika menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pernah mengajak saya meninjau Pulau Salemo di Kabupaten Pangkep.
Perjalanan ke Salemo menggunakan dua speedboat. Satu speedboat dikemudikan Puang, panggilan akrab terhadap Pak Andi Mattalatta, bersama saya. Kami berdua. Boat ini bermesin ganda, masing-masing Yamaha 125 CC. Sebuah boat lainnya sebagai pengawal, juga membawa dua orang.
Saya tidak menghitung berapa lama waktu yang diperlukan ke pulau itu, namun yang jelas, boat bagaikan terbang mengarungi laut pagi yang masih terbilang tenang. Separuh badan boat berada di atas air. Puang memang salah seorang Bapak Ski Air Indonesia dan pernah menjadi atletnya dengan atraksi yang sangat spektakuler ketika masih usia muda. Oleh banyak orang, beliau adalah seorang olahragawan serba bisa. Selain sebagai atlet ski air, juga seorang petinju.
Pada saat pulang, air laut mulai bergelombang. Puang memilih menyusuri perjalanan lebih dekat ke arah pantai. Kecepatan boat separuh dari ketika akan berangkat. Juga sangat goyang, sebab air penuh gelombang. Diterpa angin laut, apalagi hari sudah sore, mata saya sulit dikendalikan. Terkantuk-kantuk. Terkadang mata saya terpejam beberapa saat, kemudian terbuka lagi ketika boat goyang keras karena menghantam gelombang laut yang agak tinggi.
Ketika tiba, Puang berkata.
‘’Tadi kamu tidur, ya. Berani juga,’’ katanya pendek, saat kami berdua kembali ke kawasan POPSA Makassar.
Selepas dari perjalanan laut yang menyenangkan ini, hubungan saya dengan Puang dan keluarganya kian dekat. Sebagai wartawan olahraga, Pak Kadir Buloto nyaris tidak pernah absen mengontak saya untuk meliput. Rata-rata acara tersebut dihadiri Puang. Biasa juga Mer hadir.
Dalam suatu acara peliputan di PON, saya lupa yang ke berapa, Mer hadir ikut men-support tim voli putri Sulsel yang jika tidak salah melawan Irian Jaya (kini Papua). Dia bersemangat berteriak bersama anggota kontingen PON Sulsel lainnya dari pinggir lapangan.
Sehabis pertandingan, hanya satu kalimat yang saya peroleh dari Mer untuk melengkapi berita mengenai kegagalan regu voli Sulsel mengalahkan Irian Jaya itu.
‘’Sayang tim kita kalah,’’ hanya itu kalimat yang dia lontarkan.
Saya tidak kehabisan akal. Meski Mer dikenal irit sekali dengan komentar kepada wartawan, namun suasana selama dia mendukung tim voli Sulsel itu cukup memberi warna terhadap pemberitaan saya keesokan harinya. Mer memang tidak seperti kebanyakan selebritis lainnya yang gampang mengumbar komentar. Jika ada yang mencoba menanyakan kepadanya, dengan senyum khasnya, dia selalu menampik.
‘’Jangan mi saya diwawancarai,’’ begitu katanya suatu saat ketika menyaksikan suatu pertandingan di Jakarta.
Pernah suatu waktu ada acara di Hotel Marannu Makassar, Mer juga hadir. Ketika itu Ibunya masih hidup. Saya lupa acara apa sebenarnya. Namun yang jelas, saya termasuk salah seorang yang ikut dilibatkan dalam acara itu. Tentu saja, sesuai dengan kapasitas saya sebagai wartawan. Mer tampil menyanyi. Saya memotret sepuas-puasnya, suatu kesempatan yang mungkin pertama kali saya peroleh selama ini terhadap aktivitas Andi Meriam. Dan, ketika itulah dia tidak bisa menghindar dari jepretan, seperti yang banyak dia lakukan jika saya mulai mengarahkan moncong kamera ke arahnya.
Jenazah dijadwalkan tiba hari Selasa di Indonesia. Keluarga besarnya telah mempersiapkan pemakaman di pemakaman keluarga Tana Maridi di Kabupaten Barru, Sulsel, 100 km dari Makassar. Mer akan berdampingan dengan pusara kedua orang tuanya.
“Kami berharap dimakamkan di dekat makam ibu dan bapak. Semua kakak yang sedang di Jakarta juga juga telah berembuk dan sepakat dibawa ke Makassar,” kata Andi Soraya, adik bungsu Andi Meriam saat ditemui inilah.com rumah duka di Jalan Ratulangi No 12 Makassar, Sabtu (5/6).
Mer mulai menyanyi sejak kelas 5 SD. Pada tahun 1970 dia meraih juara I Lomba Lagu Pop se-Makassar. Pada tahun 1973, anak kelima (Andi Hermin, Andi Ilhamsyah, Andi Radiah, Andi Faridah, dan Andi Soraya) dari enam bersaudara ini masuk dalam 10 finalis lomba lagu pop se-Indonesia. Sebelum aktif menyanyi, Mer adalah seorang atlet ski air. Bersama kakaknya, Farida, pernah meraih juara I Lomba Ski Air di Makassar.
Andi Meriem dikenal dengan sejumlah lagu yang cukup terkenal di eranya, antara lain: "Hasrat" ciptaan Dadang S. Manaf duet dengan Bob Tutupoly, "Sejuta" ciptaan Guruh Soekarno Putra, "Tiada Tanpa Kesan" ciptaan Ryan Kyoto, "Hari-hari" ciptaan Lea, "Angan Dalam Cinta" ciptaan Ancha VMH, "Wanita" ciptaan Junaedi Salat, "Hidup" ciptaan Oddie Agam, "Malam Tiba" ciptaan Oddie Agam, "Apa Dayaku" ciptaan Sam Bimbo, "Buku Buku" ciptaan Oddie Agam, "Kata Dan Perbuatan" ciptaan Tommy & Marie, "Hello-hello Jumpa Lagi", "Ding Ding Dong", "Andaikan","Bendera Cintaku", "Bimbang", "Bukan Ku Tak Percaya", "Cepatlah Kau Kembali", "Cintaku", "Hasrat Dan Cinta", "Janji" ,"Januari Yang Biru", "Kelabu", "Layu" ,"'Lenggang Jakarta", "Mudahnya Bilang Cinta".
Selamat jalan ‘Mutiara dari Selatan’, semoga abadi dan mendapat yang layak di sisi-Nya. Amin.
Makassar, 7 Juni 2010.
Dimuat di Harian Tribun Timur 9 Juni 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)