Jumat, 10 September 2010

Takbiran On the Road Mekah-Jeddah

Oleh M,Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Lebaran menjelang. Pikiran saya terkenang jauh-jauh puluhan tahun silam di kampung halaman. Tatkala masih kecil, pada ujung-ujung tahun 50-an dan awal 60-an menikmati Lebaran di kampung. Juga terkenang sekitar 14 tahun silam, saat sempat berlebaran di tanah asalnya Islam diturunkan Allah Swt, sebagai agama, Arab Saudi. Apa beda berlebaran di kedua tempat itu? Jelas ada.
Dalam penentuan saat Lebaran, di kampung masih menggunakan komunikasi konvensional. Mendengar berita melalui radio. Macam di kampung saya, desa yang paling ujung di Kabupaten Bima, radio pada masa itu adalah barang yang superluks. Tidak banyak yang memilikinya. Bahkan, betul-betul bisa dihitung dengan jari. Setelah kakek saya yang pulang dari menunaikan ibadah haji tahun 1957 – dan almarhum selalu bangga bercerita kepada saya perihal kapal yang ditumpanginya transit di Pelabuhan Makassar dan memberinya kesempatan jalan-jalan di pasar Butung – hanya ada seorang yang punya radio, yakni pejabat gelarang (kepala desa) di desa tetangga.
Jika hendak mengetahui kepastian waktu Lebaran, seorang bilal (robo, dalam bahasa daerah Bima) malam selepas salat isya ke desa tetangga untuk nguping berita radio atau pengumuman pemerintah. Meski robo ini tidak dapat berbahasa Indonesia, namun dia dapat menangkap makna apa yang didengar di radio. Lagi pula, orang-orang yang ikut mendengar bersama dia tokh akan memberitahu kalau Lebaran jadi atau tidak dilaksanakan keesokan harinya.
Tanda Lebaran keesokan harinya adalah ketika robo kembali ke kampung dan serta merta memukul beduk bertalu-talu. Jika robo sudah mulai memukul beduk, maka kami – anak-anak kecil – akan ramai-ramai pergi memukul beduk hingga lewat tengah malam. Rumah saya berdampingan dengan masjid. Letak beduknya sekitar 50 meter saja dari rumah. Kalau terdengar pukulan beduk membangunkan orang memasak sahur, cukup kencang juga suaranya. Jadi, tidak pernah kepagian. Begitu pun saat menjelang Lebaran. Pada malam menjelang Lebaran pun tak terdengar gema takbir, karena pengumuman saat Lebaran justru diketahui menjelang tengah malam. Sekarang enak, sudah ada dan banyak TV.
Dulu, kalau Lebaran di kampung saya tidak ada kue dan ketupat segala. Pada pagi hari orang kampung saya makan normal saja. (Kecuali di kota dan akhir-akhir ini mungkin). Ya kadang-kadang ada juga kue ala kadarnya. Namun yang menarik adalah ketika selesai salat Ied di masjid. Di sepanjang jalan keluar ke jalan raya –kiri, kanan—penuh dengan jejeran para ibu (waktu itu wanita tidak ikut salat Ied, karena masjidnya kecil). Mereka akan menjabati tangan seluruh jamaat yang melintas di depannya. Inilah cara orang-orang kampung saya meminta maaf kepada sesama, meskipun mungkin saat memasuki Ramadan mereka ada yang saling mengunjungi untuk melakukan hal yang sama menjelang berpuasa.
Kalau orang dewasa saling minta maaf, lain pula kami, anak-anak kecil. Ada saja di antara tokoh informal kampung yang membuang uang receh ke udara dan membiarkan anak-anak memperebutkannya. Saya selalu kalah dalam memperebutkan uang receh itu, sehingga memilih minta saja pada ayah yang kebetulan termasuk yang suka melempar uang receh itu. Setelah itu, tidak ada prosesi menyemarakkan Lebaran lagi. Masyarakat kembali ke kehidupan seperti sebelum Ramadan. Ke sawah membawa bekal dan sebagainya.

Tanpa Takbir di Arab

Tahun 1996 saya menunaikan ibadah umrah. Waktu itu rombongan cukup ramai. Di dalam rombongan nyaris lengkap dengan personel dari berbagai latar belakang profesi. Ada kiai, artis, wartawan, birokrat, pengusaha, dan pejabat. Kalau soal berpuasa di Arab, tentu sudah banyak ditulis orang. Mungkin malam Lebaran saja yang sedikit dikisahkan jamaah umrah. Kalau pun ada, hanya untuk konsumsi sendiri. Tidak dalam bentuk dimasukkan ke domain publik, seperti media cetak. Namun sekarang dengan adanya ruang citizen reporter yang disediakan Tribun Timur, kita dapat mengetahui suasana Ramadan di Mekah dan Madinah dari sisi jamaah asal Sulawesi Selatan.
Gema takbir dan tahmid di Mekah – khususnya ketika saya berada`di kota itu – hanya terdengar di dalam masjid dan melalui menara-menara Masjidil Haram. Rombongan kami menggunakan satu bis khusus jalan-jalan ke Jeddah sambil melantunkan takbir dan tahmid. Mungkin juga Arab-Arab yang ada di took-toko pinggir jalan kaget, heran, dan bertanya-tanya, siapa gerangan yang melaksanakan takbiran on the road itu. Kita hanya jalan-jalan saja, sembari menanti keesokan harinya, saat salah seorang putri Pak Ande Abdul Latif dinikahkan di salah satu sayap Masjidil Haram.
Kembali dari Jeddah, ada seorang teman bikin ulah. Seorang lelaki, keluarga Pak Ande yang tinggal di Surabaya. Saya lupa namanya. Dia membawa sebuah pointer, pen laser yang biasa digunakan untuk menyampaikan presentasi dalam suatu pertemuan. Ketika itu, saya duduk di kursi baris depan. Teman itu mulai menyalakan pointer tersebut dan sinar merahnya dipantulkan di depan sopir yang kebetulan berasal dari Afrika. Saya tahu asal kampungnya, karena melihat warna kulitnya.
Beberapa saat, si sopir tak peduli dengan sinar laser tersebut. Lama-lama akhirnya dia merespons juga. Mungkin dia pikir, pasti sinar ini sesuatu yang luar biasa.
‘’Allah Akbar, Allah Akbar, Lailatul Qadar, Lailatul Qadar…,’’ terdengar suaranya beberapa kali saat bus yang dia kemudi melintas di jalan bebas hambatan antara Jeddah-Mekah yang berjarak sekitar 75 km.
Begitu tiba di hotel di Mekah, teman yang mengerjai si sopir tadi tertawa.
‘’Saya kasih Lailatul Qadar ke sopir,.’’ tukasnya sembari terkekeh.

Kamis, 12 Agustus 2010

Presiden Tak Tinggal di Istana, Mengapa?

Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

‘’Memang dari para pegawai senior istana, tukang kebun yang telah puluhan tahun bekerja, dan dari cerita beredar dari mulut ke telinga-telinga, saya mendapat gembaran adanya hal-hal serem yang sulit dinalar dengan logika. Sebagai yang tidak dikaruniai bisa melihat hal-hal yang tidak kasatmata di Istana, saya tenang saja.
Bahkan, ketika pegawai senior istana beberapa kali bercerita tentang kerapnya ada suara-suara orang berpesta di Istana Merdeka saat menjelang tengah malam tiba, saya hanya mendengarkan. Beberapa teman saya merinding bulu tangannya, tapi saya tenang saja. Maaf, mungkin saya tidak peka.
Seringnya ada suara-suara orang berpesta di Istana Merdeka saat menjelang tengah malam tiba dikatakan oleh pegawai senior istana sebagai salah satu sebab kenapa Pak Beye (Susilo Bambang Yudhoyono) dan keluarga tidak lagi tinggal di sana.
…. Pada awal pemerintahannya yang pertama, Pak Beye dan keluarga tinggal di Istana Merdeka. Tidak setiap hari sepanjang minggu memang karena Pak Beye dan keluarga punya rumah di Cikeas sana yang harus didatangi setiap akhir pekan tiba.
Nah, dengan alasan renovasi lantaran kayu penyangga atap Istana Merdeka dimakan rayap, Pak Beye dan keluarga pindah ke Istana Negara, setelah 1,5 tahun meninggalkan Istana Merdeka’’.
Beberapa alinea kisah di atas inilah yang terungkap di dalam buku ‘’Pak Beye dan istananya’’, salah satu Tetralogi sisi lain SBY yang ditulis oleh Wisnu Nugroho, wartawan Kompas yang selama periode I SBY (dengan JK) meliput kegiatan Istana.
Kisah di dalam buku ini rata-rata menarik, yang menurut Pepih Nugraha – sang editor – tidak termasuk dalam berita penting jika dibandingkan informasi kelas hardnews lainnya. Seluruh isi buku setebal 256 halaman ini pernah dimuat di social blog Kompasiana yang dikembangkan megaportal Kompas.com.
Saya sengaja mengutip penggalan kisah di atas, karena beberapa waktu yang lalu pernah muncul wacana kritis terhadap seringnya iring-iringan kendaraan Presiden SBY memacetkan arus lalulintas kota Jakarta dalam perjalanan dari Cikeas ke Istana Merdeka. Pertanyaan yang muncul kala itu adalah mengapa Presiden tidak tinggal saja di istana biar iring-iringan kendaraan yang ditumpanginya tidak memacetkan lalu lintas kota Jakarta yang macetnya tidak ketulungan itu.
Adakah kaitan kisah serem di Istana Merdeka dan istana Negara itu membuat keluarga Presiden SBY tidak betah tinggal di istana dan lebih memilih tinggal di rumah pribadinya di Cikeas? Jawabannya, boleh ya dan boleh tidak.
Dalam sejarahnya, presiden yang pernah tinggal di Istana antara lain Soekarno, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Megawati Soekarnoputri. Soeharto lebih banyak tinggal di Jl.Cendana, kediaman pribadinya. Hanya saja, tidak pernah terdengar keluhan akan kemacetan jalan ketika setiap saat Soeharto ke Istana dibandingkan pada masa pemerintahan SBY. Kondisi paling krusial yang pernah terjadi beberapa waktu silam, lantaran iringan kendaraan rombongan orang nomor satu Indonesia itu pernah menimbulkan kecelakaan beruntun di jalan tol.
Wacana presiden harus tinggal di istana tersebut kini bagaikan angin lalu saja. Lewat begitu saja, saat muncul isu dan berita baru yang lebih heboh. Berita dan informasi di republik ini bagaikan di-remote control saja. Tergantung siapa yang memenejnya.
Kembali ke karya Wisnu Nugroho ini, memuat 62 kisah untold stories catatan langsung seorang wartawan yang menghabiskan lima tahun tugas jurnalistiknya di wilayah yang tidak semua orang dapat memperoleh akses. Inu, demikian pria kelahiran Jakarta 6 Mei 1976 dan menjadi wartawan Kompas tahun 2001 ini, mampu memotret informasi yang tidak biasa tetapi menjadi informasi dan pengetahuan yang luar biasa bagi pembaca. Saya pun baru tahu kalau pada masa pemerintahan SBY, mobil merek Kijang tidak boleh masuk Istana, meski ada pejabat negara yang bermobil dinas merek itu.
Buku ini menginformasikan kepada kita – pembaca buku ini – informasi-informasi ringan menarik yang sangat berguna bagi mengetahui keadaan isi dalam istana presiden yang dibangun tahun 1879 tersebut. Informasi yang selama ini belum pernah terungkap sama sekali ke publik secara terbuka. Apalagi melalui jejaring sosial dan kemudian berubah menjadi sebuah buku.
Dari 62 kisah tersebut, Inu membaginya ke dalam enam bab. Bab 1 bertajuk ‘’Tunggangan Istana’’ memuat 15 kisah. Semuanya berkisar segala jenis merek kendaraan yang berkaitan dengan orang (di) dan istana.
Bab 2 ‘Orang Penting’ berisi 11 kisah, tuturan mengenai mereka yang masuk dalam kategori penting. Orang penting di sini termasuk ‘Puan-Puan’ .
Bab 3 Orang Terlupakan’ bertutur 7 kisah mereka yang bertugas di istana dan tidak atau kurang terinformasikan. Mereka yang bekerja dengan oenuh dedikasi dan tanpa pamrih demi kesakralan istana presiden.
Bab 4 ‘Antara Penting dan Genting’ dengan 12 kisah, bersoal mengenai masalah yang penting dan genting. Termasuk yang genting adalah ‘Teror di Bawah Pohon Bodhi’ dan ‘’Dilarang Telanjang di Istana’.
Bab 5 ‘Pernak-Pernik Pak Beye’, 8 kisah yang berkalam mengenai selera sang penghuninya. Mulai dari soal Soto Ayam, batik, HP, lapangan golf, hingga anjing dan Superpuma yang ‘berjaga-jaga’ di Istana.
Bab 6 ‘Istana Punya Cerita’, 9 kisah seputar isi istana. Macam-macam ceritanya. Mulai yang ganjil, kekayaan istana, patung tanpa busana, hingga yang serem di Istana.
Bab ini mungkin dapat menjawab pertanyaan, mengapa keluarga SBY tak betah tinggal di istana. Mau tahu penyebabnya, silakan baca.
Di Gramedia Mall Ratu Indah, buku ‘Pak Beye dan istananya’ pernah dikembalikan ke penyalurnya, karena dinilai tidak menarik. Namun begitu salah satu TV swasta menayangkan hasil wawancara dengan sang penulis beberapa hari lalu, permintaan akan buku ini mengalir deras. Saya perlu meng-indent untuk memperoleh lagi 5 eksemplar buku yang sudah saya tamati tanggal 25 Juli 2010 itu. Selamat membaca!

Ramadan di Kampung

Oleh M,Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Dalam kehidupan beragama Islam di Indonesia ada dua hal yang selalu menimbulkan kontroversi. Pertama adalah pada saat penetapan awal Ramadan. Kedua, ketika menetapkan hari raya Idul Fitri. Dalam hal penetapan hari raya Idul Adha sering sama, karena mengacu – kepada – sehari setelah ibadah wukuf di Padang Arafah, Mekkah.
Kontroversi ini kerap menimbulkan pertanyaan Kapan awal Ramadan menurut versi ini dan menurut versi itu. Yang lazim dikenal adalah menurut versi Muhammadiyah, menurut versi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga sekaligus menurut versi pemerintah. Di Sulawesi Selatan malah ada menurut versi kelompok An Natsir di Kabupaten Gowa yang untuk Ramadan 1431 ini sudah mengawali Ramadan sejak Senin atau Selasa. NU pada tahun 2010 malah menerjunkan pengamatan pada 90 titik di seluruh Indonesia dengan 120 tenaga rukyah.
Tatkala menjelang akhir bulan Syakban, para ulama dan petinggi agama Islam di Indonesia mulai sibuk melakukan berbagai penelitian dan pengamatan untuk menentukan awal Ramadan. Yang galib dilakukan, untuk dapat memastikan hilal (awal Ramadan) terdapat dua hal yang dapat dikaji, yakni apa tanda masuknya awal bulan Qamariah dan bagaimana menentukan awal bulan tersebut.
Tanda menentukan bulan Qamariah bisa diketahui melalui munculnya bulan sabit di ufuk barat, begitu pula berakhirnya, ditandai adanya bulan sabit baru yang juga berarti tanda awal bulan selanjutnya (Ramadan).
Sudah tentu dalam menentukan awal bulan tersebut kita mengacu kepada petunjuk Rasulullah yang terkait dengan penetapan awal Ramadan dengan memilih salah satu dari tiga alternatif, yakni: (1) Ruyatul Hilal (melihat bulan sabit); (2) menyempurnakan bilangan hari bulan Syakban; dan (3) memperkirakan bulan sabit.
Para pihak yang memiliki kompetensi menentukan awal Ramadan di Indonesia memilih salah satu dari ketiga alternatif tersebut. Kerap memang berbeda, karena alternatif yang dipilih memang tidak sama.
Terlepas dari semua penentuan itu, pelaksanaan ibadah puasa Ramadan harus mengacu kepada hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, yang berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits lain diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menyebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang di antara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud).
Hadits ketiga, menyebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’i) (sumber google.com).
Indonesia yang memiliki pembagian tiga waktu sebenarnya dapat memilih alternatif satu, yakni melihat bulan sabit di wilayah Indonesia Timur yang lebih dulu dua jam dibandingkan waktu Indonesia Bagian Barat. Proses peenyaksian mereka di wilayah Papua misalnya akan menjadi acuan kuat bagi pemilihan alernatif pertama dengan membandingkan pada hasil pengamatan pada dua wilayah lainnya (Tengah, Makassar) dan Barat (Aceh)..
Yang selalu menjadi pertanyaan saya mengapa orang di Arab Saudi sering lebih dulu sehari menunaikan ibadah puasa atau melaksanakan salat Idul Fitri ketimbang Indonesia yang notabene lebih dulu enam jam dibandingkan waktu Arab Saudi. Pada tahun 1996, ketika menunaikan ibadah umrah, saya melaksanakan salat magrib di luar kota Mekkah dan melihat ke angkasa. Tampaknya, orang Arab lebih mudah melihat awal hilal, karena angkasa di wilayah gurun dan bukit batu Arab Saudi itu bebas dari kabut dibandingkan Indonesia yang tropis dan selalu berawan. Apakah Indonesia perlu melakukan pengamatan di Arab?
Awal puasa di kampung
Begitu mendengar TV dan membaca suratkabar perihal penetapan awal Ramadan saban tahun di Makassar, saja selalu terkenang mundur ke akhir 50-an dan awal tahun 60-an, tatkala masih di kampung (Bima) sana. Teringat bagaimana penduduk kampung mencari tahu permulaan puasa. Belum ada televisi dan radio di kampung saya yang terbilang paling ujung di kabupaten. Pada tahun 1957 (saya lahir sebenarnya 1953) satu-satunya radio di kampung adalah milik kakek saya yang pulang dari Tanah Suci setelah berlayar pergi-pulang selama enam bulan menumpang kapal laut. Beliau menumpang kapal Hope dan pernah singgah berlabuh di Pelabuhan Makassar. Kakek juga pernah singgah di Pasar Butung Makassar ketika dalam perjalanan pulang ke Bima. Selembar peta kota Makassar dia pajang di dinding rumah panggung kakek. Ketika masih hidup, beliau selalu menanyakan pasar Butung yang memang letaknya tidak kurang dari 500 m dari bibir dermaga Soekarno-Hatta Makassar setiap saya pulang kampung. Beliau lahir tahun 1901, sama dengan tahun lahir Bung Karno, dan meninggal dalam usia 87 tahunan.
Namun radio milik kakek ini tidak berusia lama. Rusak. Entah apa penyebabnya. Dugaan saya, gara-gara tangan kakek yang selalu ‘sandar’ di tombol pencari gelombang sepanjang siaran berlangsung. Setiap ada gangguan sedikit, pasti tangannya beraksi. Padahal, kakek tuna aksara dan buta bahasa Indonesia. Pekerjaan administratif yang beliau lakukan selama puluhan tahun selaku gelarang (kepala desa sekarang) hanyalah tandatangan saja. Setiap saya melihat kakek membubuhkan tandatangan pada surat yang dibuat wakil gelarang, tidak ubahnya mirip orang melukis. Jadi, untuk menggores satu kali tandatangan, kerap setengah menit diperlukan kakek untuk menyelesaikannya.
Pasca tidak ada radio di kampung, untuk mengetahui permulaan puasa, bilal (robo, bahasa Bima) sudah sangat maklum tugasnya. Pada malam hari menjelang keesokan hari diperkirakan awal puasa Ramadan, sekitar pukul 19.30 dia sudah berjalan dalam gelapnya malam sejauh 1 km ke kampung tetangga.Tidak ada lampu beterai penerang menyertai dia. Lampu senter termasuk barang luks kala itu. Hanya terjangkau oleh kantong orang-orang kota atau pegawai negeri saja. Kebetulan gelarang di kampung tetangga memiliki satu unit pesawat radio merek transistor yang terbuat dari kayu jati. Sama dengan merek dan jenis radio kakek saya.
Bilal akan nguping berjam-jam di rumah gelarang desa tetangga itu bersama warga desa yang lain untuk mengetahui dan hingga ada informasi awal permulaan Ramadan. Jika pada berita pukul 20.00 belum ada siaran yang ditunggu-tunggu, dia akan menanti siaran pukul 21.00 (yang kebanyakan siaran ekonomi pembangunan). Pada pukul 22.00 Wita tidak ada siaran nasional, kecuali dalam beberapa tahun kemudian RRI Nusantara IV Makassar mewartakan siaran Nusantara IV. Biasanya, siaran yang ditunggu-tunggu itu muncul pada pukul 23.00 Wita yang digabung dengan berita olahraga. Mungkin sebelum siaran itu, para petinggi MUI dan Departemen Agama di Jakarta sudah selesai rapat menentukan awal Ramadan.
Kehadiran bilal kembali di kampung malam itu mudah diketahui. Mulai di ujung kampung dia sudah berteriak, mengumumkan awal Ramadan keesokan harinya. Suaranya melengking memecah keheningan malam yang dinginnya mencapai 18 derajat Celsius. Hanya suara jengkrik kampung yang sepi diapit gunung mengiringinya bagaikan bunyi dawai gitar pengiring. Orang-orang di kampung saya jelas sudah puluhan kali mimpi indah. Listrik tidak ada membuat mereka pada ;pukul 20.00 rata-rata sudah pulas. Tidak heran program KB gagal di kampung saya atau mungkin belum ada program pembatasan jumlah anak kala itu. Saya saja (kemudian) bersaudara 10. Beban ayah yang seorang guru sedikit ringan, karena (hingga 1965) tiga putranya meninggal dunia. Jadi tinggal 4 orang pada tahun 1965. Tetapi ayah agaknya merasa perlu ‘’mengisi’’ tiga anggota pasukannya yang meninggal dunia itu lagi agar ganjil menjadi 6 orang hingga tahun 1970.
Khawatir teriakan tidak didengar warga yang tertidur pulas, bilal masih menyimpan cara lain. Dia ke masjid dan memukul beduk berkali-kali dengan irama khas Ramadan. Pukulan yang berbeda dengan saat masuknya waktu salat lima waktu. Pukulan beduk di kampung saya memberi empat isyarat. Pertama, isyarat awal puasa yang dipukul pada saat setelah ada pengumuman resmi pemerintah mengenai permulaan Ramadan. Kedua, isyarat masuknya waktu berbuka. Ketiga, isyarat agar warga bangun memasak sahur. Keempat, tanda akhir Ramadan yang berlanjut hingga menjelang pelaksanaan salat Idul Fitri.
Pada isyarat terakhir inilah kadang-kadang beduk masjid ‘kewalahan’ menerima hentakan pukulan potongan akar bambu sebesar lengan anak kecil sepanjang 40 cm yang dijadikan pemukul dari warga. Kerap kulit kerbau di bagian beduk yang dipukul itu tercabik-cabik. Anarkis juga.
Tentu saja kisah 40-50 tahun silam di kampung saya itu tak ditemukan lagi sekarang. Teknologi informasi sudah merambat ke sana dan juga desa-desa (istilahnya kini) tetangga lainnya. Desa saya tahun 2010 ini – meski termasuk desa tertinggal – berhasil meraih juara II lomba desa tingkat kabupaten. Prestasi yang sedikit lebih baik (dari juara III ) ketika kakek saya menjabat gelarang pada lomba serupa tahun 60-an. Kebetulan juga yang menjabat kepala desa sekarang adalah cucunya (adik saya). Media komunikasi radio dan tv hingga telepon genggam sudah marak dimiliki warga. Ini mungkin termasuk ukuran ‘kemajuan’ desa saya. Awal Ramadan tak perlu lagi dengan ‘membabak-belur’ beduk masjid yang memang sudah tidak ada. Digantikan oleh suara pengeras suara yang lebih informatif dan komunikatif.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1431.

Tulisan ini dimuat di Harian Fajar Makassar, 12 Agustus 2010

Sabtu, 31 Juli 2010

In Memoriam Andi Moein MG

Wartawan Tulen itu Telah Tiada

Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel
Sekitar pukul 04.30 Selasa subuh, ponsel saya berbunyi. Saya terbangun. Gerangan berita apa masih sepagi buta begini, gumam saya. Ternyata setelah saya tengok, rekan Gunt Sumedi yang mengirim pesan pendek. Apa gerangan. Tidak mungkin dia minta tulisan untuk mingguannya. Selain, terlalu subuh dan dapat mengganggu kenyenyakan tidur, juga minggu lalu baru saya kirim satu tulisan.
‘’Innalillahi wa inna ilaihidi rajiun’’. Telah meninggal dunia wartawan senior Sulsel Andi Moein MG. Itu kalimat yang saya baca subuh itu.
Kekhawatiran dan keprihatinan saya terhadap senior yang satu ini sudah lama. Saya selalu berharap beliau selalu sehat. Pernah masuk RS Pelamonia beberapa waktu silam, tetapi kembali ke rumahnya. Saya lega, beliau sehat lagi. Namun beberapa hari silam, saya baca di koran, kondisinya kian payah. Keprihatinan saya kian meninggi. Apa pasal?
Tatkala masih sehat dan hadir dalam berbagai acara PWI Sulsel, Pak Moein selalu menyapa saya dengan satu kalimat tanya yang mungkin bagi saya cukup klise.
‘’Kapan bukunya selesai. Jangan-jangan nanti saya sudah tidak ada baru terbut,’’ itulah kalimatnya yang selalu dia alamatkan dan membuat saya selalu gamang.
Mengapa beliau bertanya begitu? Soalnya, saya memang pernah meminta biodatanya untuk menjadi bagian dari buku yang saya tulis. (kini sudah selesai diedit dan dikoreksi dan siap masuk percetakan). Data dan kisahnya memang menarik dan menggambarkan almarhum adalah wartawan tulen. Salah seorang lelaki yang sangat berani memilih profesi wartawan hingga akhir hayatnya. Bayangkan, sebelum beralih menjadi wartawan, dia adalah seorang birokrat yang berurusan dengan masalah keuangan. Yang ketika itu jelas bermandikan duit.

Tiga zaman

Andi Moein MG adalah sosok wartawan tiga zaman. Mengaku mulai menjadi wartawan sejak tahun 1948, Andi Moein, begitu senior yang satu ini karib disapa, mengawalinya dengan ‘mencuri’ kertas stensilan pada kantor Regering Voorlichting Dienst (RVD), kantor Departemen Penerangan NICA. Kantor RVD tersebut kemudian ditempati Kanwil Deppen Sulsel di Jl.Sultan Hasanuddin dan kini berubah lagi menjadi Kantor KONI Sulawesi Selatan.
“Pencurian kertas itu dilakukan atas kerjasama dengan Azis Saleh asal Sinjai yang bekerja di kantor itu. Azis termasuk tenaga infiltran (penyusup) pejuang 45,” kata Andi Moein.
Bermodalkan kertas stensilan itulah dia menerbitkan Mingguan Pelajar Angkatan Muda (PAM) atas prakarsa Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Sinjai (IPPIS) pimpinan A.Abdullah Asapa, ayahanda Rudiyanto Asapa, S.H., Bupati Sinjai sekarang ini. Selain Abdullah, juga ada Drs.H.A.M.Saleh Asapa, mantan Sekda Sinjai.
Jika orang bertanya kepada Andi Moein, mengapa jadi wartawan? Maka, jawabnya pendek.
“Saya cinta kebenaran (Because I love the truth),” kata Moein.
Betapa tidak, pers berfungsi menerangi yang gelap, menegakkan kebenaran dan menumpas yang batil. Dia sadar dan semua kaum wartawan pasti menyadari, fungsi pers dalam era pembangunan ini tidak cukup hanya merupakan cermin yang pasif dari keadaan masyarakatnya dan tidak cukup hanya memberi informasi kepada masyarakat melalui berita-berita yang obyektif. Sebagai kekuatan perjuangan bangsa, pers nasional di era pembanguan lahir dan batin ini harus dapat menjadikan dirinya sebagai kekuatan pembaharu. Kekuatan gerakan reformasi menuju Indonesia baru yang dicita-citakan setiap insan Indonesia. Tak terkecuali insan pers.
“Saat kebenaran mulai redup, di situlah pers harus mulai muncul sebagai obor penerang,” kata Moein.
Pada awal pemulihan kedaulatan RI tahun 1950-an, Moein mengalami kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Perlawanan fisik pejuang 45 di Sulsel rontok total. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan siasat dan gerakan diplomatik. Moein mencoba balik haluan. Ia berupaya menerobos bekerja pada Kas Negara Indonesia Timur yang waktu itu didominasi NICA. Nama lembaga itu dulu adalah Landskas Administratuur Kantoor. Moein mencoba bekerja dengan berbekalkan sedikit kemampuan Bahasa Belanda. Kebetulan pimpinan kantor kas waktu itu adalah seorang Belanda, Tuan Yansen Hoff. Moein diterima bekerja dengan jabatan sebagai ajunt klerk. Gajinya, F (Florin) 125, uang Belanda, per bulan.
“Saya hidup berkecukupan. Kebetulan Sekolah Menengah Tinggi (SMT, sekarang SMU Sawerigading), tempat saya belajar jam belajarnya diubah pukul 14.30, sementara saya pulang kerja pukul 14.00. Jadi, saya langsung ke sekolah,” kenang Moein.
Meski nyaris tidak ada waktu istirahat, Moein tak pernah lelah. Rasa capek tidak terasa, karena masih remaja dan penuh semangat juang. Dia memilih sekolah ini, karena tidak masuk dalam binaan Belanda. Dia non-NICA.
Setelah enam bulan bekerja, Moein dikirim tugas belajar ke Semarang. Bidang yang dipelajarinya adalah administrasi keuangan. Lantaran Moein tidak senang dengan urusan mengatur administrasi keuangan, akhirnya dia melarikan diri. Sekaligus berhenti bekerja pada Kantor Administrasi Keuangan Negara Indonesia Timur itu.
“Andaikata saya terus bekerja sebagai pegawai negeri, tentu saja sudah jadi pejabat ahli keuangan. Kini sudah dapat pensiun. Lumayan,” kata Moein sembari tertawa.
Jeritan hati Moein berkata lain. Ia ingin menyalurkan bakatnya sebagai seorang jurnalis. Batinnya terus bergolak. Akhirnya, dunia jurnalistik menjadi pilihan hidupnya. Bekerja pada sektor lain, ia rasakan hampa. Terasa hati ini sepi. Kesepian selalu mengisi rongga dadanya.
Karier jurnalistik pun dia mulai tapaki bersama kawan-kawannya di kalangan pemuda pelajar pejuang 45. Negara Indonesia Timur (NIT) kemudian dibubarkan dan bergabung dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Salah seorang Perdana Menteri merangkap Menteri Perekonomian NIT waktu itu adalah Nadjamuddin Daeng Malewa, yang pada tahun 1944 pernah menjabat Wali Kota Makassar I. Bersamaan dengan itu, lahir pula pers. Napasnya pun mengikuti alur irama perjuangan. Makanya, disebutlah pers Indonesia sebagai Pers Perjuangan.
“Tragedi terbesar bagi hidup seseorang adalah jika dia tidak tahu pekerjaan apa yang cocok bagi dirinya dan bakatnya,” begitu Moein berprinsip.
Dia sadar, Jurnalistik adalah dunianya. Sejak semula dia menyadari menjadi wartawan adalah harus terus belajar. Dia harus terus membaca segala hal. Seorang wartawan adalah sosok generalis. Harus tahu semua masalah, meski hanya sedikit. Ada juga wartawan yang tahu banyak mengenai yang sedikit. Orang mengatakan, keahlian seperti ini disebut pakar.
’’Bagi seorang wartawan, begitu berhenti belajar atau membaca, maka identik dengan bunuh diri. Habislah riwayatnya. He is not a journalist any more. (Ia tidak lagi menjadi seorang wartawan),’’ sebut Moein.
Moein menjadi wartawan lantaran sesuai dengan panggilan hati nurani. Itulah sebabnya dia memilih karier jurnalistik sebagai palangan pengabdian, ketimbang menjadi seorang yang mengurus duit dan ujung-ujungnya berlimpah harta. Kalau orang tidak punya prinsip dengan idealismenya, mana mau beralih dari urusan berkutat dengan duit dengan kehidupan yang sarat tantangan sebagai seorang jurnalis.
Lapangan pekerjaan yang ini sangat mengasyikkan. Memang tidak ‘mengenyangkan’ dalam arti tidak menikmati kehidupan material dan glamour atau pun berlimpah kemewahan. Pada sisi lain, pekerjaan sebagai wartawan dipadati rasa bahagia, karena mengabdi untuk kepentingan umum. Mengamalkan tegaknya hak dan menumpas yang batil dalam segala manifestasinya.
Menutu Moein, seperti diungkapkannya dalam Standar Kompetensi Wartawan Suatu Keniscayaan (2006), dia mulai total menggeluti dunia kewartawanan sekitar tahun 1953. Dia mulai berani menabrak dunia yang tampak ’glamour’ ini setelah bermodal pengetahuan jurnalistik yang diperolehnya. Dia pun mencoba melamar ke Harian Tinjauan pimpinan Hasan Usman (almarhum), salah seorang wartawan senior.
Moein pun dengan langkah pasti sembari mengepit sejumlah dokumen yang diperkirakan cukup mendukung keinginannya menjadi wartawan, termasuk dokumen Akademi Wartawan pimpinan Parada Harahap di Jakarta, menghadap Hasan Usman.
’’Yang kami butuhkan bukan sertifikat akademis, melainkan kemampuan berkarier di bidang jurnalistik. Untuk itu, silakan Anda menemui pimpinan SMP Frater Makassar dan lakukan wawancara. Hasil wawancara serahkan kepada saya besok,’’ ujar Hasan Usman selaku Pemimpin Redaksi Harian Tinjauan yang tak urung mengagetkan Moein.
Bermodalkan sedikit bahasa Belanda yang masih dikuasainya – karena sempat belajar di sekolah Belanda –HIS (Hollands Inlands School), Sekolah Bumiputra Belanda – Moein pun mewawancarai Pimpinan SMP Frater yang kebetulan keturunan Belanda.
Usai wawancara, Moein menulis hasil wawancaranya dan menyerahkannya kepada Hasan Usman.
’’Syukur, kita sekarang sudah memperoleh wartawan berpendidikan akademis. Sekarang juga Saudara Moein resmi kami terima bergabung dengan Harian Tinjauan. Saudara kami tugaskan sebagai reporter,’’ sahut Hasan Usman begitu membaca hasil liputan wawancara Moein dengan si Belanda itu, sembari menjabat tangan si reporter baru.
Setelah tiga bulan menjabat reporter, Moein dialihkan di percetakan. Tugasnya, menangani pekerjaan opmaak atau perwajahan koran sekaligus mengoreksi ulang berita yang siap naik cetak.
Enam bulan kemudian, Moein dapat promosi tugas. Ikut meliput perjalanan tur keliling Sulawesi Gubernur Lanto Daeng Pasewang. Lama perjalanan dua pekan, menggunakan kapal Permata milik Pemda Sulawesi. Dengan kapal tersebut, rombongan menelusuri wilayah Sulawesi yang kala itu masih satu provinsi.
Reportase perjalanan Gubernur Sulawesi tersebut Moein serahkan kepada Hasan Usman. Laporan itu dimuat bersambung selama sebulan di Tinjauan.
’’Saya bangga dan kagum pada hasil reportase Anda. Untuk itu, mulai hari ini, Saudara bertugas sebagai redaktur pelaksana (managing editor) Harian Tinjauan. Berarti, saya sudah mengalihkan sebagian tugas-tugas saya pada Saudara Moein yang kini sudah matang dalam karya jurnalistik,’’ kata Hasan Usman dengan bangga.
Almarhum dilahirkan di Bikeru, Sinjai 30 Juni 1931. Ayahnya, H.Andi Mappa Gessa Dg.Situru (almarhum) Arung Bulo-Bulo Barat Kabupaten Sinjai, Sulsel, salah satu kerajaan di Sulsel pada masanya. Mappa Gessa itulah yang melengket erat pada nama MG setelah Andi Moein. Ibunya, H.Andi Syiang, almarhumah.
Moein kecil memasuki pendidikan sekolah Belanda Hollands Inlands School (HIS) hingga kelas 5 sebelum Perang Dunia II tahun 1942. Begitu Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, Moein pun belajar pada Thu Gakko, Sekolah Menengah Jepang tahun 1945. Setahun kemudian dia masuk SMP. Pernah juga masuk SMA Sawerigading, SMT Sawerigading, dan SMT Nasional. Yang disebut terakhir adalah perguruan nasional yang mendidik kader pejuang 45 menjadi kader-kader republikein. Di dalam diri Moein pun mengalir dan tertanam perasaan dan jiwa nasionalisme. Dari hari ke hari dia mencoba memahami ABC-nya politik. Ia memasuki Perguruan Sawerigading karena dia termasuk figur yang tidak mau bekerja sama dengan NICA. Juga tidak mau belajar di sekolah yang dibina Belanda.
Ada kisah menarik dialami Moein pada-masa tahun 40-an, seperti dikisahkan dalam Standar Kompetensi Wartawan Suatu Keniscayaan (2006), buku yang mendahului buku ini (bagian wawancara dengan Pak Moein dilakukan sebelum buku tersebut terbit). Pada suatu malam dia berkunjung ke sebuah rumah di perempatan, persis di ujung Jl.Shyberg Weg ( Jl.Syarief Al Qadri, sekarang). Di rumah mungil ini sering terjadi pertemuan pemuda pejuang 45. Ternyata kemudian, L.E.Manuhua (alm., Pemimpin Umum/Redaksi Harian Pedoman Rakyat) yang ketika itu masih berstatus pemuda belia lagi bujangan. Rupanya, Manuhua bermukim di situ. Di sekitar itu bermukim juga teman-teman Pak Moein seperti tiga bersaudara Abdjam, Doa, dan Muhammad Sulaeman. Ketiga bersaudara kandung ini berasal dari Ternate.
Suatu malam, Moein melihat Manuhua memutar radio kecil yang saat itu disebut brood radio (radio kecil). Suaranya dikecilnya, sehingga hanya dapat didengar jika telinga didekatkan pada radio tersebut. Mengapa suaranya dikecilkan begitu rupa? Ya, karena pada saat itu, Kota Makassar dikuasai NICA (Belanda). Masyarakat dilarang memutar radio untuk mendengarkan siaran RRI Yogyakarta, Ibu kota Republik Indonesia ketika itu. Moein pun tidak mau ketinggalan. Dia mencoba nguping siaran radio tersebut bersama Manuhua untuk mendengar siaran radio Yogyakarta dengan perasaan penuh waspada, karena takut diketahui Belanda. Tampaknya, saat itulah Presiden Soekarno sedang berpidato mengutuk pemberontakan PKI di Madiun. Bung Karno dengan suara lantang berteriak melalui siaran RII dan pemancar Yogyakarta.
Dalam mendiskusikan sesuatu, para pemuda itu biasanya bergabung dengan Hanoch Luhukay, pemuda asal Maluku yang kemudian menjadi dosen Fakultas Sastra Unhas. Luhukay tidak saja dikenal sebagai kutu diskusi, tetapi juga sangat telaten dengan dokumentasi koran. Edisi harian Pedoman Rakyat sejak awal terbit hingga kini, ada di rumahnya.
Enam tahun kemudian (1952), ayah empat anak ( kemudian) menamatkan pendidikan di SMA Bagian Budaya di Malang, Jawa Timur. Dia termasuk pelajar ‘demobilisan – Pelajar pejuang 45. Pada tahun 1953, Moein memasuki Akademi Wartawan Pimpinan Parada Harahap. Setelah itu, berbagai pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan Deppen RI diikutinya.
Pengalaman jurnalistik Andi Moein cukup panjang. Pada tahun 1948 dia bekerja pada Mingguan Angkatan Muda (PAM) di Makassar. Dia juga pernah menjadi Redaktur Mingguan PERINTIS (Majalah Pemuda Pejuang Kemerdekaan di Era Revolusi Fisik 45 di Makassar). Juga ikut membantu Harian Pedoman Rakyat edisi Makassar semasa revolusi fisik. Antara tahun 1954-1959, menjabat Redaktur Harian Tinjauan di Makassar, Redaktur Harian BARA di Makassar (1969-1960), Redaktur SKM Pemandangan di Makassar (1960-1962), Redaktur Harian Mercu Suar di Makassar (1965) bersama dengan Dien Monoarfa dan Djamaluddin Latief (alm.). Pernah juga menjadi Redaktur Pelaksana SKM Orde Baru (1966). Bergabung dengan SKM Orde Baru di Makassar (1968-1970) bersama Rahman Arge, Arsal Alhabsy, Husni Djamaluddin (keduanya almarhum) , dan Drs.Saleh Bustami. Lalu, mendirikan SKM Indonesia Pos bersama Burhanuddin Amin. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi SKM di Makassar Press ( sejak 5 Oktober 1970- hingga sekarang).
Moein selain menulis di korannya sendiri, juga menulis di Harian Pedoman Rakyat dan penerbitan lokal lainnya. Ia menjadi Pembina beberapa media tabloid dan majalah di Makassar hingga usianya yang memasuki 74 tahun saat ini. Ia pernah memimpin Lembaga Pendidikan Kader Wartawan (1972-1976). Tiap tingkatan pendidikan berlangsung 6 bulan.
Berbagai penghargaan pernah diraih Andi Moein. Sejumlah piagam pendidikan dan penghargaan dari Deppen RI, Piagam Penghargaan Penegak Pers Pancasila dari PWI Pusat yang diserahkan oleh Menteri Penerangan RI, Harmoko, waktu itu. Juga ada Piagam Penghargaan P4 Tingkat Nasional. Piagam Penghargaan ORPADNAS. Piagam Penghargaan dari PWI Sulsel perihal kesetiaan pada profesi kewartawanan. Penghargaan dari SPS Pusat terhadap Pengabdian pada SPS. Penghargaan dari Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Pusat atas jasa menyukseskan Program BKKBN. Piagam Penghargaan (Pemegang Gelar Kehormatan) sebagai Veteran RI dari Menteri Pertahanan RI (NPV.17.062.B79). Memperoleh penghargaan Kebudayaan dari Departemen P dan K Sulawesi Selatan dan penghargaan dari Kodam XIV Hasanuddin bidang Pembinaan Kesenian Budaya di Sulawesi Selatan.
Selain menjadi wartawan, Andi Moein juga aktif dalam berbagai organisasi.
Andi Moein MG selain menulis untuk Suratkabar, juga sudah banyak menulis buku. Beberapa judul telah lahir dari.
Seorang Moein adalah sosok yang selalu peduli. Dia bagaikan penasihat panjang tanpa ujung waktu perihal perlunya mahluk wartawan taat asas. Wartawan harus memiliki etika. Wartawan harus memiliki kompetensi. Wartawan tidak bisa lahir dari pinggir jalan. Tidak bisa lahir lantaran pintar bicara laksana penjual obat di emper-emper toko. Wartawan harus memiliki ilmu. Dia tidak lahir karena hanya ada kemauan tanpa keterampilan. Wartawan adalah sosok intelektual, bukan manusia yang hanya mengandalkan ototnya belaka.
’’Kalau para wartawan ingin disebut sebagai wartawan profesional, salah syaratnya adalah harus mematuhi etika pemberitaan,’’ kata Moein MG.
Tentu saja, secara khusus, masalah etika ini bisa mengacu pada Kode Etik Jurnalistik PWI yang baru yang mulai berlaku efektif 1 Januari 1995.
“Kesimpulannya, saya jadi wartawan, karena panggilan hati nurani. Ini bukan pelarian. Sekali lagi, kerja jurnalistik adalah panggilan hati nurani saya yang paling dalam. Titik!,” kunci Andi Moein MG.*

Senin, 12 Juli 2010

In Memoriam Hj Andi Siti Nurhani Sapada:

Oleh M.Dahlan Abubakar

Tepat pukul 23.00 Wita, Minggu (11/7) saya membuka email. Menengok kalau-kalau ada informasi penting, setelah dua hari saya tidak buka di Chiang Mai dan Bangkok Thailand, 10 dan 11 Juli 2010. Astaga, begitu saya mencoba klik email kiriman Kak Udhin Palisuri yang juga terbagi ke sejumlah teman facebook, saya setengah berteriak menanyakan kepada istri.
‘’Mi, Petta Nani meninggal dunia??????,’’ kata saya yang masih berslimut kaget.
‘’Ya, hari Kamis. Kemungkinan dimakamkan di Barru atau Parepare,’’ katanya lagi. Saya terdiam sejenak. Seperti merasa diri berdosa, karena sehabis dirawat di rumah sakit beberapa bulan silam, saya tidak pernah membesuknya lagi di kediamannya.
‘’Habis, Bapak tidak pernah menelepon, jadi tidak pernah kami memberitahu,’’ imbuh istri saya. Ponsel, memang saya matikan, karena selain tidak memasang/buka roaming internasional, juga sengaja saya matikan.
Saya termeenung sejenak. Mengenang masa-masa silam kebersamaan saya dengan almarhumah. Interaksi saya dengan Hj Andi Siti Nurhani Sapada yang akrab saya sapa Petta Nani, nyaris tidak bersekat. Saya bagaikan anaknya sendiri. Terkadang almarhumah tiba-tiba menelepon ke ponsel saya. Pertanyaan pertama yang muncul setiap menelepon adalah, di mana saya berada. Soalnya, setiap Petta Nani, entah kenapa, saya tepat sedang tidak di Makassar. Terkadang di Jakarta, Papua (antara 2007-2008) dan tempat-tempat lainnya.
Beliau mengenal saya kenal ketika saya aktif-aktifnya sebagai wartawan Pedoman Rakyat. Jika ada kegiatan, saya selalu ditelepon dan diberitahu. Apalagi, almarhumah tahu saya dari Fakultas Sastra dan sedikit memiliki rasa seni.
Pada peringatan Ulang Tahun ke-80 tahun 2009, saya pun hadir di Hotel Losari Metro. Almarhumah dilahirkan 25 Juni 1929 di Parepare. Almarhumah gembira sekali ketika itu. Ada Pak A.Amiruddin,Pak Syahrul Yasin Limpo, dan Pak Idrus A Paturusi. Kebahagiaannya berlimpah lagi karena sejumlah anak, cucu, dan teman semasa gadis remajanya juga hadir. Bahkan sempat bernyanyi bersama. Di antara teman akrabnya adalah Drg.Hj Halimah Daeng Sikati. Pada malam itu, Halimah Dg.Sikati sempat bernostalgia masa remaja mereka, di samping menyumbangkan suaranya secara bersama.
Tidak terbayangkan, peringatan ini terakhir yang ramai dihadiri kerabat handai tolan. Bersyukurlah, Petta Nani masih sempat memperoleh bonus usia 81 tahun. Ketika beberapa bulan lalu, beliau dirawat di RSUP Wahidin Sudirohusodo, sebelum ke kampus, saya menyempatkan diri membesuknya. Saya ajak istri sama-sama menjenguknya. Petta Nani selalu berpesan kepadea saya membawa dan memperkenalkan ‘mantan pacar’ku itu kepadanya. Namun selalu saya katakan, ‘’Ibu agak kerepotan, karena sudah dikuasai oleh sepasang cucunya. Satu menit saja tidak lihat neneknya sehabis pulang kantor, pasti ponsel bersering. Jika terlambat pulang akan diwawancarai, bahkan menjurus ke interogasi’’. Dasar cucunya wartawan.
Saya sempat mencium tangannya. Petta Nani selalu berusaha memperlihatkan dirinya sehat. Beliau bangun duduk dan selalu berkelakar mengenai situasinya yang bagaikan dikerangkeng. Beliau selalu ingin merasa bebas, meski kesehatannya tidak memungkinkan. Begitulah ketika usai seminar di Parepare dan mau turun dari rumah panggung di Suppa, Petta Nani agak kewalahan melangkahkan kakinya. Saya yang sudah merasakan bukan orang lain bagi almarhumah, tak sungkan-sungkan membimbingnya turun dari rumah panggung di pinggir pantai itu.
Sama ketika sehabis menelepon dan meminta saya datang ke rumahnya di bilangan Jl.Hertasning, beliau selalu berusaha menyambut saya duduk di kursi tamunya. Kadang-kadang saya minta almarhumah agar istirahat saja. Namun beliau merasa tidak enak kalau saya duduk melongo sendiri sambil melihat foto-foto yang baru dia bikin.
Perjuangkan Pahlawan
Interaksi saya dengan almarhumah agak sering ketika dalam empat tahun terakhir ini gencar melaksanakan berbagai pertemuan dan seminar membahas kisah perjuangan ayahnya, Datu Suppa Toa Andi Makkasau, seorang pejuang dan perintis kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Almarhumah sangat bersemangat mendorong dan memperjuangkan agar ayahnya memperoleh gelar sebagai Pahlawan Nasional. Masalahnya, salah seorang pejuang yang lebih muda dari ayahnya, yakni Andi Abdullah Bau Massepe sudah memperoleh gelar tersebut.
Terkadang, almarhumah mengeluh kepada saya perihal perjuangannya menjadikan ayahnya sebagai salah seorang pahlawan dari daerah ini penuh lika-liku. Saya kerap berpikir, inilah amanah yang akan beliau tinggalkan jika saat meninggal dunia cita-cita dan pejuangannya ini belum tertunaikan.
Perjuangan ayahnya tidak sebanding dengan tokoh pejuang pada masanya. Ia tidak pernah mau menyerahkan diri pada penjajah Belanda. Belanda yang takut massa rakyat akan marah bila mendengar darah keturunan raja dan pemimpin serta tokoh pejuangnya tercurah ke bumi, memilih cara lain untuk menghentikan langkah Datu Suppa Toa memimpin rakyat. Konon beliau diikat dan diberati dengan lesung batu lalu dilempar ke laut. Ditenggelamkan dan tentu saja mati pelan-pelain.
Di lokasi yang diperkirakan sebagai tempat ditenggelamnkannya jasad Datu Suppa Toa hidup-hidup selalu dikunjungi Petta Rani dan keluarga setiap datang ke Parepare. Saya pun pernah menyertai kunjungan Petta Nani ke pinggir laut itu, setelah menghadiri seminar mengenai ayahnya, sebagai persiapan pengusulan almarhum sebagai pahlawan.
Kisah penghilangan nyawa Datu Suppa Toa ini nyaris tidak ada yang tahu. Kalau saja Teluk Parepare itu bias mengamuk bahwa di lubuknya telah tumpah darah dari seorang pejuang, mungkin laut itu akan mengirim tsunami pada masa itu dan membunuh penjajah yang ada di pantai.
Menurut Petta Nani, di Teluk Parepare itulah ayahnya bersama para pejuang lain, Andi Mangkau dan Tahir Daeng Tompo mengakhiri hidupnya secara sangat keji. Mereka harus mengabdikan diri demi perjuangan bangsa tanpa pernah tahu kesalahannya dan diadili.
‘’Saya hanya tahu mereka itu punya cita-cita luhur untuk masa depan bangsanya. Mereka juga turut berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia,’’ tulis Petta Nani dalam bukunya Nuansa Pelangi edisi ke-2 yang tersimpan rapi di perpustakaan pribadi saya.
Memang terasa aneh juga kalau Datu Suppa Toa Andi Makkasau tidak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Soalnya, ada ‘adik’-nya yang lebih muda, sudah meraih gelar pahlawan nasional. Dan, saya kira merupakan amanah bagi siapa pun yang merasa terkait – termasuk juga saya dan beberapa teman, antara lain Kak Nunding Ram selaku tim perumus seminar di Parapere itu – memikul beban ini. Tentu saja yang sangat kompetensif adalah Gubernur Sulawesi Selatan.
Saya tidak pernah menyangka, Petta Rani akan pergi pada saat saya tidak ada di Indonesia. Bulan lalu, mungkin juga bertepatan dengan ulang tahunnya ke-81, saya membongkar-bongkar laci dan menemukan selembar foto dua tokoh senitari kondang Sulawesi Selatan, Ny.Ida Joesoef Madjid dan Ny.Hj. Andir Siti Nurhani Sapada sedang berbincang-bincang di kediaman Rektor Unhas (Radi A.Gany, waktu itu) yang menjamu sastrawan besar W.S.Rendra. Saat itu juga hadir Husni Djamaluddin (alm.). Saya tidak pernah punya firasat apa-apa dengan foto-foto ini.
Selamat jalan Petta Rani, semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbil alamin.

Selasa, 15 Juni 2010

Ayam Tertawa di Pasar Hobi

Ayam jantan berkokok sudah biasa. Juga bukan barang aneh. Tetapi, ayam ‘tertawa’ baru aneh. Lantaran ada ayam bersuara aneh seperti ini, beberapa waktu yang lalu di Parepare dilaksanakan lomba ayam tertawa. Yang hebat lagi, pada saat para ‘pemenang’ diundang maju dan menempati posisi masing-masing dengan predikat juara yang diraihnya, ayam-ayam itu kompak juga memperdengarkan ‘tertawa’-nya yang berkepanjangan.
‘’Kalau yang juara itu, harganya tidak main-main, Pak. Bisa mencapai Rp 15 juta per ekor,’’ kata salah seorang penjual ayam tertawa di Pasar Hobi. Toddopuli, Makassar, ketika dikerumuni belasan mahasiswa peserta English Journalism dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sabtu (12/6) siang.
Kedatangan mahasiswa yang saya pimpin itu, sengaja untuk mengetahui perihal ayam tertawa itu. Menurut sang penjual, ayam yang tertawanya berdurasi sampai 30-60 detik harganya sangat mahal. Kalau pendek, harganya berkisar Rp 1 juta. Ayam sejenis ini ternyata berasal dari Sidrap. Untuk menciptakan ayam yang kelak dapat ‘ngakak’ tidak ada perlakuan khusus. Makanannya biasa saja, seperti yang dijual di pasar-pasar hobi seperti ini.
Dalam kunjungan itu, dua orang mahasiswa juga ‘mewawancarai’ seekor ayam jantan yang juga dikenal ‘suka tertawa’. Ketika ditempatkan di pinggir jalan, dia mogok tertawa. Selidik punya selidik, ada dua penyebab hingga ayam berwarna putih itu mogok tertawa. Pertama, dia kepanasan. Kedua, ternyata ayam itu keenakan dibelai salah seorang dari dua mahasiswa putri yang mencoba ‘’mewawancarainya’.
‘’Pantasan ayamnya tidak mau ‘tertawa’, dari tadi dibelai terus. Dengan pandangan mata menerawang dia tenang saja menikmatinya,’’ kata saya yang disambut tertawa kedua mahasiswa saya itu.
M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel