Sabtu, 17 Oktober 2009

Derita TKI Dituduh ‘Selingkuhi’ Balita

Dalam penerbangan pulang dari Brunei Darussalam dengan pesawat Boeing 767 Royal Brunei, 1 Desember 2008, saya bertemu dengan salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari Dubai, Uni Emirat Arab. Semula, saya kira dia TKI yang baru pulang dari Brunei Darussalam. Dia duduk di kursi nomor 42 F, tepat di sebelah lorong yang mengantarai saya dengan dia. Sebelum saya ajak dia bincang-bincang, saya sempat nguping hasil pembicaraannya dengan seorang teman TKI-nya yang di kursi dekat jendela. Saya jadi penasaran juga mendengar kisahnya. Saya pun mengajaknya berbincang-bincang.
Namanya Sulastri. Nama itu sempat saya sontek saat membantu mengisi kartu imigrasi. Dia kelahiran Purwakarta, di dekat Bendungan Jatiluhur. Dia baru setahun bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab. Majikannya adalah seorang keturunan Lebanon asal Beirut. Keluarga ini baru dikaruniai 2 anak. Seorang berusia 4 tahun laki-laki, dan seorang lainnya masih bayi.
Saban hari pekerjaan Sulastri adalah membersihkan rumah, mengurus anak-anak majikannya, memasak, dan segala macam pekerjaan pembantu rumah tangga. Gaji yang diberikan 600 dinar sebulan. Tetapi yang dia terima hanya berkisar Rp 1,5 juta per bulan. Mungkin saja sisanya diberikan kepada agen perusahaan yang telah menempatkan dia ke majikan asal Lebanon itu.
Masalah kemudian muncul, karena sang majikan melihat anak laki-lakinya yang berusia 4 mulai bertingkah aneh. Anak yang belum tahu apa-apa itu mulai berulah nakal. Dia menciumi teman-temannya. Bingung dengan penyebab kelakuan anaknya itu, majikannya pun melayangkan tuduhan kepada Sulastri. Dialah yang dianggap jadi biang masalah. Sudah mengajarkan kelakuan tak senonoh itu. Tudingan yang paling kejam malah Sulastri dicurigai telah melakukan making love dengan balita itu. Sesuatu yang sangat mustahil dilakukan perempuan seusianya. Perempuan asal Purwakarta itu telah menyangkal. Tidak melakukan perbuatan laknat itu.
’’Masa mungkin saya berbuat macam-macam dengan anak di bawah umur. Mana ada gairah. Saya muslim, tidak ada gunanya saya salat setiap saatnya tiba,’’ kata Sulastri dalam penerbangan yang ’’mengambil masa’’ dua jam antara Bandar Seri Begawan-Jakarta itu.
Sulastri menerima berbagai siksaan atas tudingan yang dia sangkali. Dia pernah disekap di kamarnya selama majikannya pergi menjaga toko mereka, karena takut Sulastri melarikan diri. Makan pun seadanya. Bahkan yang diberikan adalah sisa-sisa mereka. Siksaan pun mulai dari kaki hingga muka. Boleh jadi, Sulastri beranggapan bahwa itulah cara majikannya mengusirnya dari rumah. Kalau pun diusir, sebut Sulastri, mestinya dapat dilakukan dengan baik-baik. Tetapi alasan seperti ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi di luar negeri, terutama di negara kawasan Teluk. Apalagi, kalau anak majikannya sudah remaja. Gampang sekali dijadikan biang untuk menuduh dan menuding TKI berbuat tak senonoh dengan anak majikan.
’’Lihat saja muka saya merah-merah, bekas siksaan majikan,’’ Sulastri menunjuk wajahnya yang sebagian terbungkus jilbab.
Tidak ada jalan lain bagi Sulastri, kecuali harus angkat kaki dari negara tersebut Itu pun tidak mudah. Sebab, uang sepeser pun tidak ada di kantongnya. Gaji sudah empat bulan tidak diberi. Mau melapor, selalu dalam keadaan terkurung di kamar. Diisolasi. Mungkin majikannya takut kalau anaknya mengulangi tudingan itu.
’’Bagaimana hingga bisa pulang?,’’ tanya saya.
’’Saya langsung dibelikan tiket ke Indonesia melalui Royal Brunei,’’ sahut Sulastri.
Meskipun dibelikan tiket untuk pulang, tetapi hati Sulastri tetap saja gamang. Masalahnya, uang di kantong nihil sama sekali. Lembaran uang Rp 20 ribu di dompetnya diambil. Jangankan yang lembaran kertas, uang receh pun digasaknya pula. Tidak ada uang sepeser pun di koceknya.
Karena mungkin takut dilapor ke orang Indonesia, majikannya sengaja membelikan tiket pesawat negara asing, Brunei Darussalam, Royal Brunei, yang terbang dari Abu Dhabi ke Bandar Seri Begawan baru melanjutkan ke Jakarta. Sulastri mengaku, dia meninggalkan Abu Dhabi, pukul 23.00 hari Minggu (30/11) dan tiba pagi di Bandar Seri Begawan keesokan harinya. Dia lalu menyambung dengan pesawat dari perusahaan yang sama dan satu pesawat dengan saya.
’’Bagaimana transportasinya dari Cengkareng ke Purwakarta?,’’ saya balik bertanya.
’’Saya tidak tahu, Pak. Katanya, dari Bandara Cengkareng sewa mobil sampai Rp 350 ribu,’’ kata perempuan yang kontraknya memang setahun di Dubai itu.
’’Mungkin itu kalau carter,’’ imbuh saya.
’’Nggak tahu juga. Saya tidak tahu bagaimana nanti,’’ katanya iba dan tak terasa pesawat mulai mengurangi ketinggiannya, tanda tak lama lagi akan mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Naskah: M.Dahlan Abubakar

Menengok' Makassar dari Bandar Seri Begawan Catatan M.Dahlan Abubakar Dari Brunei Darussalam

Selama tiga hari, antara 28 s.d. 30 November 2008, di ibu kota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, berlangsung BIMP EAGA Friendship Games VI. Dalam 'pesta sukan' tiga hari itu, dipertandingkan tujuh cabang olahraga. Saya tidak ingin berbicara mengenai olahraga secara 'ansich' dalam wacana ini, tetapi sedikit mencoba menggambarkan betapa pembangunan fasilitas olahraga dan situasi kehidupan keseharian di negara dengan penduduk sekitar 380 ribu lebih orang tersebut berlangsung.
Bandar Seri Begawan adalah ibu kota negara, sementara Makassar adalah ibu kota provinsi. Dalam hal populasi penduduk, luas wilayah, jelas Makassar jauh lebih unggul. ''Keunggulan'' yang lain, kehidupan masyarakat yang sangat tidak tertib pun kita miliki. Makassar jauh lebih luas dibandingkan Kota Bandar Seri Begawan.
Meskipun prestasi olahraga Brunei Darussalam di kawasan ASEAN saja, tidak bagus-bagus amat, namun negara ini cukup berbangga mampu menyediakan fasilitas olahraga yang sangat memadai bagi penduduknya. Tentu kiya tidak bisa tiru. Pemeliharaan fasilitas olahraganya juga luar biasa. Fasilitas olahraga hampir ditemukan di setiap jengkal tanah lapang. Yang lebih hebat lagi, fasilitas olahraga maupun perumahan berada di tengah-tengah hutan yang asri dan terjaga. Sepintas lalu, bahkan mungkin memang seperti itu, Brunei Darussalam justru dibangun di tengah kawasan hutan di bagian utara barat daya Pulau Borneo. Jalan-jalan kota menawarkan pemandangan hutan yang sangat elok. Hutannya benar-benar menjadi paru-paru kota.

Sebelum ke Brunei Darussalam, kekhawatiran yang muncul dalam benak saya adalah kesulitan angkutan umum. Masalahnya, penduduknya tidak memerlukan angkutan umum, karena rata-rata penduduk memiliki mobil pribadi. Seorang pejabat Brunei, Mohd.Kamransah bin Hj Lamat yang bekerja di Jabatan Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, pernah mengantar saya ke Stadion Nasional Hassanal Bolkiah menunggang mobil pribadi merek 'Ford' dengan harga lebih dari satu milyar rupiah. Kamransah juga bertindak sebagai Manajemen Tim ''Majra Football Club'', sebuah kesebelasan di Kota Bandar Seri Begawan.

Brunei Darussalam, meski wilayahnya tak begitu luas, hanya 576 km2, tetapi negara Hassanal Bolkiah itu boleh bangga. Negara ini ogah menerima Ringgit Malaysia sebagai alat pembayaran, meskipun bertetangga dengan negara bagian Malaysia, Labuan dan Sabah di sebelah utaranya. Nilai kurs dollar Brunei jauh lebih tinggi ketimbang Ringgit Malaysia. Kurs Brunei dijual pada kisaran Rp 8.000 per dollar Brunei. Sementara 1 Ringgit Malaysia dijual pada kisaran Rp 3.500. Selain itu, harga barang di Malaysia lebih murah ketimbang di Brunei. Fotocopy untuk selembar saja dikenakan 25 sen, berarti sekitar Rp 2.000. Ini gila. Di Indonesia fotocopy hanya 100 atau 150 perak per lembar.
Yang lucu, harga bahan minyak malah justru lebih mahal di Brunei. Padahal, negara ini kaya minyak. Bahan bakar sejenis premium harganya $ 1,2. Hitung saja, berarti Rp 9.600 per liter (dengan kurs Rp 8.000/dollar Brunei). Bayangkan dengan di Indonesia yang Rp 6.500 dan bakal turun lagi menjadi Rp 6.000 per liter pada tanggal 1 Desember 2008. Tidak heran kalau Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan bahwa harga BBM premium di Indonesia termurah di ASEAN. Harga itu pun dan yang kini diturunkan menjadi Rp 6.000, malah didesak turun lagi oleh beberapa gelintir mahasiswa yang berdemo di Makassar
.
Masalah lain yang selalu menjadi bahan decak kagum kami (kontingen Sulsel) di Brunei Darussalam adalah tata tertib berlalu lintas. Kita nyaris tak menemukan polisi lalu lintas di jalan. Juga sedikit, dan nyaris tidak ada sepeda motor yang lalu lalang. Sepeda motor yang ada justru ukuran besar. Untuk urusan Formula3, menurut istilah Mirdan, salah seorang dosen UNM.

Saya menemukan banyak polis, ketika terjadi satu 'accident' (kecelakaan lalu lintas) pada sebuah persimpangan jalan. Di setiap pertigaan selalu ada kalimat ''beri laluan'', maksudnya dahulukan yang berjalan lurus. Meskipun jarak kendaraan yang mau memotong jalan itu masih tiga ratus meter, namun yang bergerak lurus selalu diberi kesempatan dulu. Begitu pun dengan pejalan kaki. Tentu saja, di Brunei, pengemudinya sudah terdidik, sehingga pantas menunggang mobil mewah. Kalau di Makassar, mobilnya mewah, tetapi masih suka buka kaca mobil lalu membuang sampah di jalan raya. Dia hanya takut, kalau kebetulan sedang mengantar orang yang dia segani, macam majikan.
Kita tentu sulit meniru Brunei, tetapi setidak-tidaknya ada yang bisa dipelajari. Misalnya, tertib berlalu lintas, kebersihan, dan urusan lingkungan hidup. Di Makassar, hutan sebagai paru-paru kota hanya terdapat di Unhas dan Kantor Gubernur Sulsel. Yang lain juga ada hutan, tetapi ''hutan gedung''.

Rahman Pina, Anda Tak Sendiri Oleh M.Dahlan Abubakar Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unhas

‘Rahman Pina Sebatangkara di DPRD Makassar’’. Demikian judul tulisan AS Kambie, di halaman 3 Harian Tribun Timur, Selasa (29/9). Kalau dilihat dari substansi jumlah anggota Dewan Kota Makassar, judul itu benar-benar membuat kita ’miris’ dan ’prihatin’. Begitu sedikit anggota Dewan yang memiliki prinsip seperti Rahman Pina.
Kasus ini muncul, karena Rahman Pina menolak para anggota Dewan harus ’menuntut ilmu’ berupa pelatihan di Departemen Dalam Negeri, Jakarta. Seperti dimuat media, kontroversi pandangan Rahman Pina dengan anggota Dewan yang lain telah memicu terjadinya ’disharmoni’ internal oknum di anggota Partai Golkar.
Saya tidak bermaksud membela siapa-siapa, tetapi – meski terlambat -- hanya ingin urun rembuk dan mengemukakan pandangan seputar pelaksanaan pelatihan di Jakarta yang membuat 49 orang anggota Dewan Kota Makassar harus meninggalkan Rahman Pina sebatangkara.
Pelatihan seperti ini sangat penting memang. Para anggota Dewan perlu diinjeksi ’ilmu’ mengenai kelegistasian dalam mengemban tugasnya lima tahun ke depan. Apalagi, banyak di antara mereka adalah muka-muka baru yang harus mulai ’belajar’ dari awal agar pelaksanaan tugasnya ke depan dapat berjalan lancar. Dengan pelatihan seperti ini, mereka akan memperoleh berbagai ’resep’ (kalau dapat dikatakan seperti itu, meski tidak atau belum tentu akan menjadi semacam ’obat’ untuk menyelesaikan masalah) yang digunakan dalam melaksanakan amanah rakyat ke depan.
Namun demikian, dalam melihat kegiatan ini kita harus mempertimbangkan dari berbagai aspek. Pertama, -- sebagaimana diwacanakan Rahman Pina – adalah aspek efisiensi, khususnya berkaitan dengan masalah dana. Dana Rp 416 juta yang digunakan untuk ’menyekolahkan’ 49 orang anggota Dewan bukan dana yang sedikit, di tengah pemerintah saat ini selalu harus efisien menggunakan dana. Saya setuju dengan pandangan Rahman Pina bahwa mendatangkan pembicara dari Jakarta (jika memang yang memiliki kompetensi seperti itu tidak ada di Makassar) jauh lebih efisien ketimbang 49 orang anggota Dewan harus ’boyongan’ ke Jakarta. Banyak hal yang bisa diirit jika pilihan ini yang dapat dijadikan acuan.
Kedua, kita dapat memberdayakan sumber daya manusia lokal yang tentu saja saya yakin tidak kalah dengan kualitas dan kompetensinya dengan yang dari Jakarta. Kita terlalu lama ditanami stigma bahwa mereka yang dari Jakarta itu selalu mampu melihat segala persoalan bangsa. Saya kira tidak selamanya. Soal pembangunan daerah, Makassar pernah menjadi tujuan sejumlah aparatur pemerintah di Indonesia sebagai lokasi pelatihan, ketika Pusat Studi Kebijakan dan Manajemen Pembangunan (PSKMP) Universitas Hasanuddin melaksanakan berbagai program pelatihan tenaga-tenaga perencana pembangunan/birokrat pemerintah. Ketika jaya-jayanya (tidak bermaksud menyebut sekarang tidak jaya lagi) PSKMP Unhas, peserta pelatihan tidak saja datang dari Kawasan Timur Indonesia yang sudah menjadi kawasan basisnya, tetapi juga ada peserta dari Kawasan Barat Indonesia. Misalnya saja, ada peserta dari Aceh dan Jakarta serta beberapa daerah lainnya di Sumatera dan Jawa. Mestinya, peserta dari kedua daerah itu cukup mengikuti pelatihan serupa di Jakarta yang selama ini menjadi kiblat berbagai pelatihan, termasuk yang dikiblati oleh 49 anggota Dewan Kota Makassar. Tetapi, Makassar bisa tonji.
Saya yakin, sumber daya manusia kita di Makassar tidak kalah dengan yang ada di Jakarta. Kita memiliki banyak pakar di Unhas, UNM, UIN, LAN, dan beberapa perguruan tinggi swasta seperti UMI, Universitas Islam Muhammadiyah, Unismuh, dan sebagainya. Kepakaran mereka juga variatif. Kita tinggal pilih. Pelaksanaan pelatihan di luar Makassar, saya khawatir bisa saja menggiring opini publik kepada adanya anggapan bahwa tenaga sumber daya manusia kita dalam bidang politik dan pemerintahan tidak cukup kapabel. Di Makassar, kita dapat merekrut mereka yang pernah menjadi birokrat dan kini kembali ke kampus misalnya. Para mantan anggota Dewan dan pakar-pakar yang lain, bisa menjadi ’guru’ yang baik bagi para anggota Dewan. Mereka sudah memiliki pengalaman empirik di lapangan yang tentu saja diimbangi oleh kemampuan teoretis yang dimilikinya. Terasa aneh, orang Jakarta malah banyak minta orang lokal/daerah untuk berbicara mengenai daerahnya di Jakarta, sementara anggota Dewan Kota Makassar malah ’menyerahkan diri’ untuk diceramahi oleh orang Jakarta. Mengapa kita tidak memanfaatkan sumber daya manusia kita sendiri – yang juga bertahun-tahun berguru di Jakarta dan luar negeri sekalipun – untuk membekali para wakil rakyat kita?
Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan melihat persoalan secara spesifik lokal Makassar, Sulawesi Selatan. Saya yakin, ketika para pembicara merupakan orang-orang birokrat di Jakarta yang menjadi ’guru’ dan ’dosen’ para anggota Dewan Kota Makassar, mampukah mereka melihat persoalan-persoalan spesifik di lokal Sulawesi Selatan dan Makassar khususnya? Kita mestinya harus sadar. Kasus masa lalu tidak terulang lagi. Mengapa pembangunan bangsa dan negara yang sudah berusia 64 tahun merdeka ini ini tetap berjalan pincang? Pembangunan di Kawasan Timur Indonesia selalu dikeluhkan bagai dianaktirikan. Jawabannya hanya satu, semua masalah di tanah air yang maha luas ini selalu diplot dari ibu kota negara melalui sebuah grand scenario (skenario besar) yang harus diberlakukan dan diterima oleh seluruh daerah dengan latar belakang aspek yang sangat heterogen dan beragam. Baik itu menyangkut aspek geografis, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan keamanan. Mustahil skenario yang dipikirkan dari sebuah hotel berbintang di dan oleh orang Jakarta harus diterapkan di daerah-daerah tertinggal macam di Sulawesi hingga Papua yang sama sekali kurang mereka pahami permasalahannya.
Keempat, perlu juga kita pikirkan aspek rasa kepentingan masyarakat. Maksud saya, setidak-tidaknya para anggota Dewan dapat menyelami perasaan rakyat yang sudah memberi kepercayaan kepada mereka dengan mau ’berhidup’ efisien dan ekonomis. Dengan biaya Rp 8,5 juta per kepala untuk akomodasi, transportasi, dan kebutuhan lainnya, jika dilaksanakan di Makassar bisa jauh banyak dana yang bisa diirit. Di Makassar fasilitas hotel sangat memadai. Tenaga sumber daya manusia pun tidak kalah. Mestinya, para wakil rakyat kita lebih memiliki kepekaan untuk memahami riak-riak rasa rakyat yang memilihnya. Belum duduk di kursi panas, rakyat sudah lebih awal dipertontonkan bagaimana wakil-wakil mereka mulai melakukan kegiatan yang bersifat rekreatif dan sebenarnya bisa dilakukan di daerah sendiri.
Kelima, tanpa bermaksud berpretensi macam-macam, jangan sampai ’pelatihan’ semacam ini tidak lebih dari sebuah ’proyek proposal’ pihak tertentu yang harus ngotot dan tidak boleh tidak dilakukan. Saya menangkap ada aroma eksternal yang tertitip melalui pelatihan ini. Perkiraan saya ini boleh benar boleh salah. Saya kembalikan kepada nurani para anggota Dewan Kota Makassar sendiri. Sebab, saya tangkap, apa yang dikemukakan Rahman Pina sebenarnya sangat masuk akal dan wajar-wajar saja. Tidak ada hal yang utopis. Anggota Dewan yang disebut-sebut ala Obama itu, hanya ingin memberi imej (image) agar anggota Dewan Kota Makassar tidak mengkedepankan kepentingan dirinya sendiri. Saya tidak menafikan, pelatihan seperti ini lebih banyak bersifat rekreatif.
Dari rangkaian pengalaman masa lalu, sudah waktunya para anggota Dewan kita mengoreksi diri. Mencoba belajar dari berbagai kerikil masa lalu yang sering menjadi sorotan rakyat. Katakanlah, studi banding versi anggota Dewan. Sebab, rata-rata hasil studi banding tidak pernah ’dilaporkan’ kepada rakyat melalui media. Apa sebenarnya yang dipetik dari studi banding. Lokasi studi banding pun harus dianalisis secara cermat relevansinya. Mungkinkah hasil studi banding itu dapat diterapkan di daerah sendiri?
Saya sangat salut dengan banyaknya pihak yang melakukan studi banding ke Kabupaten Jayapura Papua. Orang tentu akan bertanya memang, mengapa harus jauh-jauh melakukan studi banding ke daerah Papua yang selama ini selalu dikaitkan dengan potret keterbelakangan? Di Kabupaten Jayapura orang bisa belajar. Bagaimana seorang Habel Melkias Suwae, Bupati Jayapura dua periode, berani menyerahkan dana Rp 1 milyar ke masing-masing distrik (kecamatan)-nya per tahun. Harapannya, rakyat distrik yang akan memikirkan apa kebutuhannya sendiri dengan memanfaatkan dana yang ada untuk membangun daerahnya secara masuk akal dengan pengawasan komprehensif. Saya yakin, anggota DPRD di Sulsel belum pernah ke sana, sementara dari Sumatera Barat dan lainnya sudah lebih dulu bertandang.
Akhirnya, buat adinda Rahman Pina, tidak perlu gusar dan gelisah. Anda memang sebatangkara tidak ke Jakarta, tetapi prinsip yang dipegang telah membuat adinda tidak seorang diri. Rakyat tentu akan banyak sependapat dan seprinsip dengan adinda.

Dimuat di Harian Tribun Timur, Makassar, 30 September 2009.

JK Terobos Sarang Konflik Tanpa Pengawal Oleh M.Dahlan Abubakar

Di Pusat Perfilman Umar Ismail, 23 Juni 2009, M.Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan peranannya dalam perdamaian di Ambon ( Kompas 24/6). Dalam orasi singkatnya, dia mengatakan, selain dia -- dalam kapasitas Menko Kesra --, juga hadir Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang didampingi Kapolri Jenderal Da’I Bachtiar, Kasum TNI Letjen Djamari Chaniago, Asop Kasum TNI Mayjen Adam Damiri, dan Manyjen Syafri Syamsuddin. Ketika SBY memutuskan kembali ke via Ternate, Jakarta, JK didampingi Dr.Hamid Awaluddin, dan dr.Farid Husain memilih tetap tinggal di Kota Ambon yang kala itu masih ‘mendidih’. Kota Ambon sudah dikapling berdasarkan komunitas dengan latar belakang dendam yang membara.
Saya hadir pada acara di Pusat Perfilman Umar Ismail itu, karena salah satu buku yang dibahas di pertemuan itu, Dendam Konflik Poso yang ditulis Dr.Hasrullah, M.A., dosen Fisip Universitas Hasanuddin dan diterbitkan Penerbit Gramedia, penyuntingannya dari disertasi menjadi buku dipercayakan kepada saya. Tetapi bukan karena acara launching buku itu yang menarik saya mengomentari keterlibatan JK ini, melainkan karena saya termasuk salah seorang wartawan yang ikut memilih tinggal di Kota Ambon pada tahun 26 Januari 2002 itu bersama JK, Hamid Awaluddin, dan Farid Husain.
Sebagai seorang wartawan (Pedoman Rakyat Makassar yang sudah almarhum), bersama salah seorang wartawan lain ketika di Ambon memiliki ruang gerak sangat terbatas. Jelas kami tidak bisa leluasa di tengah suasana kota yang masih menerapkan jam malam. Saya mengambil jalan aman saja. Setelah pertemuan antara para pihak yang bertikai dengan JK, SBY, Kapolri, dan Pemprov Maluku dan berlangsung sangat alot dan ’panas’ di kediaman Gubernur Maluku pada siang hari, saya bersama bersama teman wartawan Fajar, menuju ke depan Masjid Al Fatah untuk mengirim berita melalui kantor redaksi Harian Ambon Ekspres.
Ternyata ketika kami pergi mengirim berita ke Makassar, JK, Hamid Awaluddin, dan Farid Husain bergerak memasuki pemukiman nonmuslim di salah satu bagian kota Ambon tanpa mobil dan personel pengawal bersenjata sama sekali. Setahu saya, JK, Hamid Awaluddin dan Farid Husain tidak memiliki pengawal khusus dalam lawatan itu. Soalnya, beliau bukan menteri yang menangani masalah keamanan dan pertahanan. Kalau sebagai menteri koordinator tentu hanya ada ajudannya, Yogi yang anggota Polri membawa sepucuk pistol.
Mengapa JK berani menerobos barikade dan masuk ke daerah konflik dengan menolak disertai pengawal? Dari segi keamanan, seorang menteri memasuki daerah yang masih berkobar dalam dendam konflik adalah tabu. Tidak boleh ada pejabat negara tanpa pengawalan ke mana pun dia pergi, apalagi ke daerah konflik.
Secara berkelakar, JK selalu mengatakan,’’Saya punya kegiatan bisnis juga di Ambon, jadi mereka kenal saya. Dan, tidak mungkin orang Ambon membunuh saya’’.
’’Kalau bawa pengawal, nanti dibilang penakut,’’ JK mengungkapkan kembali alasannya dalam pertemuan di Gedung Perfilman Usmar Ismail dua hari lalu itu. Tetapi tidak hanya itu, JK selalu melakukan sesuatu dengan keyakinan tinggi, tanpa ragu-ragu, menghadapi orang yang sedang marah dan memanggul senjata sekalipun.
Hamid Awaluddin pada bagian tulisannya ’Meluncur Tanpa Mobil Pengawal’’ di buku ’’Perdamaian Ala JK, Poso Tenang, Ambon Damai’’ yang diterbitkan Grasindo (2009) menulis panjang mengenai langkah nekat JK ini.
’’Tak dinyana, JK tiba-tiba minta dipinjami mobil karena ingin ke kawasan yang diklaim masing-masing pihak yang bertikai sebagai jurisdiksinya. Gubernur Saleh Latuconsina panik sekali mendengar keinginan JK tersebut. Gubernur Latuconsina mendesak saya agar meyakinkan JK supaya tidak ke kawasan yang diinginkan.
’’Rencana beliau sebisa mungkin ditunda dulu, Pak Hamid. Saya sendiri sulit membayangkan apa yang bakal terjadi di sana. Tempat itu masih sangat panas dan tidak bisa ditebak. Jalan menuju ke sana saja masih rawan, apalagi lokasi itu. Di jalan menuju tempat itu ‘kan setiap hari masih ada penembakan. Bagaimana mungkin saya membiarkan Pak Menteri ke sana. Tolonglah Pak Hamid agar Pak Menteri tidak ke sana,’’ pinta Gubernur Latuconsina penuh iba di kediamannya.
Tidak ada yang mampu mengubah pikiran, tak ada yang kuasa menahan kehendak JK. Ia tetap ingin ke sana. Saya sendiri sudah pernah menyampaikan saran Gubernur Latuconsina kepada JK karena malam sebelumnya, JK sudah memberitahu saya tentang keinginannya itu. Lagipula, saya tahu watak JK yang sulit diubah jika ia yakin apa yang hendak dilakukannya itu benar.
Suasana pun kian panik. Pihak keamanan akhirnya terpaksa mengikuti keputusan JK. Namun, ada syaratnya. JK harus diiringi oleh sejumlah mobil pengawal dengan tim keamanan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Gubernur pun setuju ide itu. Lagi-lagi, ide tersebut kandas di tangan JK.
’’Tidak perlu ada mobil pengawal dan tim keamanan. Negeri ini aman, kok,’’ kata JK.
Pihak keamanan ternyata tak kehabisan akal juga. Mereka mundur untuk tidak menyiapkan mobil pengawal dan pasukan pengamanan buat JK. Tetapi, mereka menyiapkan penembak mahir yang disebar secara diam-diam. Untuk itu, sebelum JK berangkat, para penembak mahir tersebut diterjunkan lebih dahulu ke lapangan.
Mendengar ide ini, JK sekali lagi, menolak.
’’Saya sudah bilang, saya ini wakil pemerintah yang harus menjamin keamanan dan rasa aman setiap warga di Ambon ini. Saya harus memberi contoh bahwa saya berjalan tanpa pengawal dan penembak mahir ke mana pun, dan itu aman. Bagaimana mungkin Anda mengatakan bisa mengamankan Ambon kalau Anda sendiri belum apa-apa sudah merasa tidak aman. Pengawalan dan pasukan keamanan adalah tanda tidak amannya kota ini. Ini yang membuat orang takut dan trauma. Ini semua yang membuat rakyat selalu merasa tertekan. Kita jalan tanpa itu semua,’’ tegas JK.
Akhirnya memang, dua mobil kijang meluncur tanpa iringan kendaraan lain. JK disertai Mayjen Polisi Simatupang, saya, dr.Farid Husain, dan ajudan JK. Tampak sekali ketegangan di rumah dinas Gubernur siang itu, saat mengiringi kepergian kami. Semua mata memandang ke JK dan mobil yang hendak dipakai. Semua mengiringi kepergian JK dengan harap-harap cemas. Kelihatan semua pasukan keamanan yang mengitari rumah Gubernur siang itu, diinstruksikan agar tetap siaga, kendati tidak harus mengiringi kepergian JK.
Sebelum berangkat, JK bertanya pada ajudannya.
’’Yogi kamu bawa senjata, ’kan? Ada berapa pelormu di dalam?’’.
Spontan Yogi yang dari kepolisian itu menjawab.
‘’Ada pistol, Pak. Saya punya lima butir peluru,’’ katanya.
‘’Ya, itu cukup mengamankan kita kalau ada apa-apa,’’ jawab JK.
Mendengar JK berkata begitu, Mayor Jenderal Pol.Simatupang menambahkan.
’’Saya juga membawa pistol dengan peluru, Pak’’.
’’Nah, apalagi ini. Jauh dari cukup untuk men gamankan kita semua,’’ tambah JK.
Di atas mobil, terus terang, saya berpikir tentang keselamatan saya kalau sesuatu terjadi. Berbagai pikiran kelabu datang di benak saya. Semuanya bermuara pada bayangan tentang sesuatu yang bisa saja terjadi dan menyangkut keselamatan kami dalam perjalanan.
Ketika tiba di masjid, JK mencoba menggoda saya.
’’Hamid, kamu jangan takut. Ada dua orang yang bawa pistol. Sebelum ada yang menembak kamu, lebih dulu ini dua polisi menembak kepala mereka. Ini polisi terlatih dan terdidik untuk menembak, sementara mereka amat amatiran. Sudahlah, bismillah kita akan aman,’’ kata JK meyakinkan.
Singkat kisah, JK dan rombongan tiba di kediaman Uskup Mandagi yang amat disegani dan memiliki pengaruh serta wibawa di kalangan Kristen. Ternyata sang Uskup sedang tidur siang. Para petugas di kediaman Uskup geger Menko Kesra datang. JK membiarkan Uskup tak diganggu dan membiarkan dirinya menunggu sembari mengobrol dengan teman-teman rombongan.
Mereka yang di sekitar kediaman Uskup merasa memperoleh berkah ditandangi Menko Kesra. Mereka juga mengatakan, tidak ada orang yang akan mengganggu JK di tempatnya. Kalau ada yang ganggu, ’kan kita tidak akan damai nantinya,’’ sahut mereka.
Pertemuan tersebut ternyata sangat menyejukkan. Uskup sendiri merasa senang dan tidak menyangka JK mau mendatangi kediamannya. JK juga minta Uskup mendorong terciptanya perdamaian di Ambon.
Lepas dari Uskup, JK dan rombongan kecilnya ke Masjid Taqwa (Al Fatah?), pusat komunitas muslim. Di masjid ini sudah menunggu Kiai Haji Wahab. Ratusan orang menyemut menyambut JK yang kemudian membawanya masuk ke masjid. Kunjungan JK ke Uskup agaknya sudah tersebar luas juga. Mereka pun heran kok JK berani masuk ke sana.
’’Ini semua karena Allah,’’ kata JK.
Usai salat, JK langsung ke sebuah ruangan di samping masjid, bertemu para tokoh Islam. Tujuannya sama dengan yang di Uskup, mendorong umat mau melakukan dialog dengan komunitas Kristen. Ternyata mereka menyambut dengan antusias.
’’Amiin..,’’ sambut mereka, sampai ada yang tiba-tiba bertakbir ’’Allah akbar, Allah akbar’’.
Ternyata keasyikan saya dan teman mengirim berita tersebut bermasalah. Kami tidak boleh lagi tembus ke kediaman Gubernur Maluku, tempat kami menginap bersama JK, karena sudah masuk jam malam. Memang sempat terjadi dialog antara saya dengan teman-teman wartawan Ambon Ekspres. Mereka menjawab, daerah yang dilalui sudah berada di kawasan kelompok lain. Apalagi, kami adalah pendatang dan bukan dari kelompok mereka.
’’Lantas apa solusinya?,’’ tanya saya mulai gusar, takut dicari JK dan Farid Husain. Sebab, kalau hilang dan HP kami tidak dapat dihubungi bisa-bisa dianggap hilang.
’’Solusinya hanya satu,’’ kata kawan itu.
’’Apa itu?,’’ sergap saya ingin tahu.
’’Tunggu sampai pagi!,’’.
’’Ha..., jadi kami harus bermalam?,’’ sahut saya yang belum juga reda kagetnya.
’’Ya. Tidak ada jalan lain. Bisa juga, kalau ada mobil pengawal khusus yang datang menjemput,’’ katanya lagi.
Saya berpikir, bermalam, jelas membuat gelisah JK dan Farid Husain, karena dalam beberapa jam kami tidak kembali ke penginapan pasti dicari. Bisa-bisa kami dianggap hilang. Yang terjadi, kalau dianggap hilang, mungkin bakal ada mobil pengamanan yang datang mencari. Kalau meminta mobil pengawal, bagaimana caranya? Sama-sama sulitnya.
Saat pikiran buntu menemukan jalan keluar ke kediaman Gubernur, saya keluar di jalan raya di depan Masjid Al Fatah. Jalan di depan masjid ini tak pernah sepi waktu itu, meski suasana Kota Ambon masih panas. Kalau kita melihat suasana para penjual durian dan sebagainya di depan masjid itu, seolah-olah suasana tegang di Kota Ambon tidak pernah terjadi. Penduduk saling bercanda dan gembira melakukan transaksi jual-beli. Tentu saja, yang melakukan transaksi adalah dari komunitas yang sama.
Pusing dengan situasi yang ada, mata saya tiba-tiba melihat iring- iringan mobil parkir di halaman Masjid Al Fatah. Saya berlari ke halaman masjid, mencari tahu siapa gerangan pejabat tersebut. Ternyata, JK dan Farid Husain yang baru saja bertemu dengan para jamaah masjid tersebut dan siap meninggalkan masjid. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung berlari ke kantor redaksi Ambon Ekspres untuk memberitahu teman Fajar agar segera naik ke salah satu mobil rombongan JK. Benar juga, kami melompat naik ke mobil Pak Hamid Awaluddin dan dr.Farid Husain.
’’Lan, you dari mana?,’’ sapa dr.Farid Husain yang sudah akrab dengan saya sejak awal di Unhas.
’’Habis kirim berita di Ambon Ekspres,’’ sahut saya ketika kendaraan mulai memasuki daerah demarkasi. Suasananya memang sangat mencekam. Memang sepintas tidak ada orang yang berkeliran, tetapi percayalah bahwa di dekat pagar dan pintu halaman rumah sekian banyak pasang mata dalam siaga satu mengawasi orang yang melintas.
Setiba di kediaman gubernur, ternyata JK, Hamid dan Farid Husain melanjutkan pertemuan dengan kelompok muslim. Saya dan teman Fajar hanya mengikuti dari luar ruang pertemuan, karena acara berlangsung tertutup. Ketika lonceng menunjukkan pukul 01.00 Waktu Indonesia Timur, terdengar satu ledakan keras dari salah satu bagian Kota Ambon. Suaranya menggelegar terdengar sangat jelas, karena kediaman Gubernur Maluku berada di daerah ketinggian. Saya yakin, JK, Farid Husain, dan peserta pertemuan di dalam ruangan mendengar ledakan keras itu. Tetapi, pertemuan berjalan terus.
Saya tidak berusaha mengikuti pertemuan itu hingga tuntas, karena selain tertutup, juga deadline berita sudah berlalu beberapa jam. Tokh, kalau mau meminta informasi tentang hasil pertemuan, saya dan Fajar dapat lakukan keesokan hari sebelum kembali ke Makassar atau sekalian di atas pesawat.
Pertanyaan yang muncul kala itu di kalangan awam adalah, mengapa seorang JK yang Menko Kesra harus mengurus konflik. Bukankah ini merupakan porsi Menko Polkam. Dalam perjalanan dengan pesawat Fokker 28 Athirah, yang selalu menerbangkan beliau, saat saya juga ikut meliput perjalanannya, JK selalu mengatakan bahwa persoalan konflik ini pemicu (triger)-nya adalah ketidakadilan, terutama masalah kesejahteraan. Pada tahun 2003, kata JK, terdapat 2 juta pengungsi di Indonesia dan itu merupakan jumlah pengungsi terbesar di dunia. Kalau masalah kesejahteraan sudah teratasi, pasti tidak akan terjadi konflik. Makanya, akar permasalahannya harus dicari dan baru dicari solusi penyelesaiannya. Dan, selama ini kita hanya melihat permasalahan yang muncul, sering mendiagnosa apa pemicunya. JK memang beruntung, selalu bisa mendiagnasa suatu masalah sebelum mengambil tindakan. Mungkin ini juga berkah kehadiran seorang Farid Husain yang dokter ahli bedah.

Sekolah Yoka Papua,Kini Tinggal Nama

Jika dari Bandara Sentani, Papua ke arah Jayapura, menjelang masuk Abepura, ada pertigaan. Di sebelah kiri, ada papan penunjuk warna hijau. Di situ tertulis: Abepura dan Yoka (di bagian kanan papan nama). Jika kita berkendaraan, mulailah memberi lampu sein kanan. Sekitar 100 m lagi Anda akan berbalik arah melalui jalan lain. Itulah jalan menuju Yoka, tempat yang bila orang tua-tua mendengarnya, pasti membayangkan di situlah pernah berdiri dan eksis sekolah sambungan yang sangat disiplin dan berkualitas.
Sebuah papan dari tembok menyambut kita di sebelah kiri jalan. Di situ tertulis: Selamat Datang di Yoka....’’. Jalan sudah tersiram aspal mulus. Di kiri kanan, banyak rumah penduduk. Permanen atau semi permanen. Pohon produktif juga ada. Soalnya, Yoka berada di pinggir danau Sentani yang luas itu.
Memasuki kompleks sekolah, yang tersisa adalah gedung-gedung tua yang tidak dipakai lagi. Sebuah gedung yang dulunya berfungsi sebagai sekolah dan tempat belajar, kini sudah dimanfaatkan sebagai salah satu kantor dinas Kota Jayapura. Gedung-gedung yang lain masih ada. Ada gedung tempat ruang makan, yang kini sudah berubah menjadi lapangan bulutangkis. Di belakang gedung tempat makan itu, hanya ada orang yang tinggal. Mungkin penjaga gedung-gedung yang tinggal jadi saksi bisu kejayaan Sekolah Putra Yoka masa lalu.
Rumah kepala sekolah tidak lagi berpenghuni. Di antara rumah guru dan gedung tempat makan, ada sebatang tiang telepon besi yang kokoh berdiri. Seolah tidak mau hilang begitu saja ditelan masa. Ingin tetap menjadi sejarah bahwa di tempat ini pernah eksis sekolah yang sangat berkualitas.
Beberapa bangunan lain masih tegak. Asrama guru masih ada. Juga tidak berpenghuni. Dia menjadi saksi bisu bahwa para guru yang berjasa pada orang-orang yang kini jadi orang, pernah tinggal di situ. Juga masih ada tempat mandi dan sebagainya. Di tempat inilah, untuk mandi saja, anak didik harus menggunakan komando dan aba-aba dengan menggunakan semprit. Semprit pertama, semua anak didik sudah siap di pinggir danau. Semua harus siap. Semprit kedua, terjun ke danau. Mereka muncul langsung naik lagi ke darat. Semprit ketiga mulai menyabun badan. Semprit berikutnya, terjun lagi. Begitulah disiplin ditegakkan di sekolah ini.
Salah seorang yang kini sudah jadi orang dan pernah belajar di sekolah ini adalah Habel Melkias Suwae. Lelaki kelahiran Tablanusu 28 Mei 1952 ini, sekarang menakodai Kabupaten Jayapura, setelah bagaikan anak tangga menduduki berbagai posisi penting sebelumnya. Habel masuk asrama di sekolah Yoka dalam usia 10 tahun. Itu terjadi setelah dia tamat SR 3 tahun di Tablanusu. Kalau dihitung-hitung dengan wajib belajar sembilan tahun, berarti sudah masuk kelas empat. Saat itu Habel dianggap besar. Kalau dibayangkan sekarang anak seusia mereka dan duduk di kelas empat diasramakan. Tidak biasa kalau kita lihat masa sekarang. Biasa diasramakan setelah melangkahkan kaki ke sekolah menengah tingkat atas (SLTA). Tetapi dulu, memasuki kelas 4, anak-anak di asramakan. Seperti Habel, Messakh Yaung kakak kelas Habel, Dicky H.N.Yakore, teman sekelas Habel, yang kini sebagai Kepala Kampung Mauris Kecil Distrik Demta.
Tinggal di asrama harus bekerja untuk kepentingan bersama. Cari kayu dan membabat rumput adalah rutinitas keseharian di Yoka. Habel masih ingat, satu kejadian yang hingga kini sulit dia lupakan. Suatu hari, bersama anggota kelompoknya, dia pergi membabat rumput. Entah bagaimana caranya, Habel tak ingat jelas, tiba-tiba saja kaki temannya terkoyak tersambar parang tajam yang dia ayunkan. Habel tidak tahu kalau di balik rumput tegak kaki temannya itu. Daging kaki temannya menganga. Habel merasa telah melakukan kesalahan. Menyesal. Tentu saja, tidak disengaja. Teman itu tentu kesakitan luar biasa. Kini, dia sudah meninggal dunia.
Di lain kesempatan, teman-teman dapat hukuman. Ada yang bekerja hari Sabtu. Dia kurang teliti. Ada kabel telanjang berisi strom lolos dari penglihatannya. Seorang temannya mau memperbaiki kabel telepon. Messakh Yaung, kakak kelas Habel berkisah, ternyata kabel telepon itu tersandar di atas kabel listrik. Temannya itu tak sangka itu ada strom. Berbahaya. Tersentuh, anak tersebut menemui ajalnya.
’’Malam-malam kami lari karena ketakutan,’’ kenang Habel.

Disiplin Tinggi

Disiplin di sekolah Yoka, cukup keras. Yang dapat hukuman tetap tinggal di asrama, Yang tidak dapat hukuman boleh pulang. Yang tinggal juga harus kerja, terutama pada saat jam kerja. Sudah habis jam kerja, tiba olahraga, mereka olahraga sedikit, kemudian istirahat dan mandi.
Rutinitas sekolah, setiap kegiatan ada jadwal waktunya. Habis makan, pas Meneer yang datang, mereka minta sesuatu. Pada malam Sabtu, lemari besar, lebar, segala jenis permainan ada di situ. Film-kah, buku cerita-kah, apa saja ada di situ.
’’Jadi malam Minggu, yang tidak distrap (dihukum) dan ke mana-mana, bisa baca cerita-cerita ambil sudah. Malam minggu, lemari permainan dibuka, ’’ kata Dicky H.N. Yakore, 68 tahun, teman sekelas Habel Melkias Suwae di Vervolgschool (VVS) Yoka.
Kalau malas bermain (dadu dan sebagainya), mungkin mereka minta film apa yang sedang diputar di bioskop terkenal. Lewat RRI, mereka minta Meneer itu. Malam Minggu ini, kita mau nonton film ini. Waktu itu, kata Dicky, kita anak-anak senang kan film-film, seperti film koboi, film perang (Perang Dunia II).
’’Sudah, Meneer bilang,’’OK’’,’’ kata Dicky lagi.
Meneer yang bertugas ini ada juga dari unsur ABRI. Dia langsung kontak saja. Tong langsung antar dari Agent, Angkatan Laut Belanda punya kompleks. Mereka tinggal antar ke sana, malam kita putar. Jadi, murid biar dapat hukuman, tidak pulang juga, tetapi hiburannya cukup. Sudah jam istirahat, kita tidur. Jadi seperti istirahat siang, mau baca-baca buku begini, harus tidur. Mandor harian lewat dan begitu dia kembali dan melihat ada yang tidak ada, nama sudah dicatat. Pura-pura tidur, dia tulis. Itu yang menyebabkan kita dilatih untuk hormat kepada yang senior. Sebab, di satu meja ada yang kelas dua dan tiga. Misalnya kalau ada yang kelas tiga menyuruh kelas dua agar mencuci piring, maka tidak ada jalan lain, yang kelas dua harus ambil dan mencuci piring itu. Kalau yang kelas dua melawan, tetap dihukum.
‘’Jadi rasa hormat kepada yang tua, disiplin, kejujuran, memang lewat pendidikan asrama. Itu banyak manfaatnya diperoleh dalam kehidupan sekarang, sehingga membentuk kita sebagai pribadi yang baik. Menghargai sesama dan menghormati sesama,’’ ujar Dicky yang pernah menjabat Staf Perwakilan Provinsi Irian Jaya di Surabaya tersebut..
Perkelahian sering terjadi juga, seperti iri hati, kecemburuan kelompok, seperti anak-anak Sentani dengan anak-anak Pantai (Abe) atau anak-anak Sentani dengan anak-anak Genyem, Nimboran. Itu biasa terjadi. Tetapi kalau sampai perkelahian, berarti kalau mandor harian sudah tahu dan itu dilaporkan ke direktur, mana yang salah hukumannya memang berat. Harus dikeluarkan dari sekolah. Dan, ada yang dikeluarkan. Langsung gulung tikar dan bungkus bantal, pulang. Kalau tidak dengar berturut-turut sampai tiga kali dan keempat masih berbuat lagi, harus gulung tikar bantal dan OK, selamat jalan, selamat pulang.
Ketika mau libur esoknya, siswa dibekali. Dikasih cornet beef satu kaleng, mentega, kismis, roti dua balok. Itu untuk bekal dalam perjalanan. Kita bawa, kata Dicky, dan sehabis libur, kita datang biasanya terima selimut baru, kelambu baru, baju yang baru lagi.
Dari sistem dan cara makan, cara pengaturan asrama yang demikian, tidak ada anak-anak yang berani dan mau tidak tidur siang. Atau yang berani dan mau membuat hal-hal yang bertentangan dengan aturan internal. Sebab, risikonya harus gulung tikar bantal dan pulang kampung. Seorang murid yang tidak bisa tidur siang, harus berusaha sedapat mungkin agar tidur.
Jadi, jadwal itu ketat. Dengan waktunya sekalian. Dan, itu berpindah dari mandor ke meja yang satu ke meja yang lain. Jadi, meja itu berfungsi juga sebagai regu. Regu kerja yang akan bergantian setiap minggu. Peta lokasi VVS itu sudah digambar rapi. Mulai dari pembersihan jalan, pembersihan rumput, dengan membantu direktur dan guru-guru yang lain di rumah, itu juga sudah langsung dijadwalkan. Tinggal di-rolling begitu.
Buku tidak pernah dibeli. Sekolah tidak pernah dibayar. Buku dalam bahasa Belanda. Ada juga dalam bahasa Indonesia (Melayu), tetapi sedikit. Guru-gurunya orang Belanda, ketika pada zaman Belanda. Guru-guru di VVS Yoka itu juga datang dari Ambon. Biasanya ada dua tiga orang. Pada saat Dicky dan Habel belajar, saatnya Belanda harus tinggalkan Papua (dulu, Irian Barat). Seiiring dengan penyerahan kedaulatan atas Irian Barat kepada Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. Guru-gurunya kemudian digantikan oleh orang Indonesia sendiri. Seperti waktu itu yang terakhir, Pattiasina dari Ambon. Terus ada Pak Guru Fou, Pak Guru Pattipeme.
Habel sendiri mengakui, kehidupan di Asrama Yoka memang serba terjadwal ketat. Tempat tidur harus rapi. Semuanya harus serba diatur. Mereka yang tamat dari sekolah di Yoka langsung melanjutkan pendidikan ke sekolah guru, atau sekolah pamong praja, dan atau sekolah teknik. Itu tidak dipilih, tetapi sesuai dengan nilai. Habel sendiri yang meraih angka 6-7 harus ke sekolah guru.
Kegiatan lain pun menggunakan komando seperti itu. Mulai dari makan. Duduk di meja makan. Perintah berdoa. Mencicipi makan, dan seterusnya. Jangan pernah coba melanggar aturan baku seperti ini. Jika ada yang mencoba membangkang, mandor sudah siap mencatat. Hadiahnya, sanksi. Biasanya disuruh membersihkan kamar mandi dan WC. Jika tidak, disuruh kerja bakti. Pilihan lain, tidak diberi kesempatan menikmati udara di luar asrama selama hari Minggu. Jalan-jalan ke kota, sekadar reakreasi. Melepaskan diri dari kejenuhan hidup di asrama yang serba ketat dan disiplin.

Sekolah memiliki kebun. Para murid juga belajar bagaimana membuat bedeng. Bagaimana menanam sawi, menanam sayur, tomat, merica, dan semangka. Hasil tanaman itu dibawa ke asrama untuk dimakan sama-sama. Hubungan keluar dengan masyarakat setempat tidak ada. Karena ini kelas internal, jadi aturan yang berlaku memang demikian.
Kalau masalah internal, langsung ditangani oleh internal sekolah. Waktu itu mereka bawa ke Toko Juliana. Jadi, masuk sirop, tindis keluar sirop. Susu keluar susu. Ovaltin keluar ovaltin. Tinggal tindis tombol saja.
Messakh Yaung, 60, termasuk kakak kelas Habel di VVS Yoka. Ketika dia duduk di kelas 3, Habel dan Dicky baru masuk. Tetapi, mereka masih sempat berkomunikasi. Pembangunan pendidikan di Papua sebenarnya bermula dari Yoka ini. Maka tak heran, dari VVS ini banyak alumninya jadi orang di kemudian hari. VVS Yoka ini dikhususkan buat laki-laki, sementara untuk perempuan dipusatkan di Genyem.
Ayah tujuh anak dengan 30 cucu dan baru setahun pensiun dari Diklat Provinsi Papua ini, tinggal di Yoka. Habel dan Dicky termasuk angkatan terakhir VVS Yoka. Sebab, setelah tahun 1965, pendidikan diambilalih oleh pemerintah Indonesia. Yaung tamat dari VVS Yoka tahun 1963, pada tahun Habel mulai belajar di sekolah itu.
Pendidikan di Yoka berlangsung mulai pada pukul 07.30 hingga pukul 13.00. Setelah makan siang dan istirahat (tidur), pada pukul 15.00 bangun tidur untuk kerja bakti yang berlangsung mulai Senin hingga Jumat. Bagi yang tidak bekerja, kena hukuman. Potong rambut pun dibagi ke dalam beberapa kelompok dan dilakukan pada sore hari.
Usai kerja bakti pukul 16.30. Para murid masuk asrama, mandi dan makan pada pukul 17.30. Pada malam hari sekitar pukul 19.00-20.00 mulai belajar lagi selama satu jam. Tidak boleh ada yang tidak belajar. Ada yang melanggar, hukuman sudah menunggu. Berulangkali, dan bosan ditegur, harus gulung tikar dan kembali ke orang tua. Murid tinggal bawa surat tembusan untuk orang tuanya. Dikeluarkan dari sekolah. Tidak ada kompromi.
Pada hari Sabtu malam para murid biasanya rekreasi. Rekreasi tidak lain dari bebas belajar malamn. Semua jenis permainan dikeluarkan. Tempat bermain di ruang makan (kini jadi lapangan bulutangkis). Sekali sebulan diizinkan keluar asrama. Itu pun hanya sehari pada hari Minggu saja. Sore hari sudah harus masuk asrama lagi. Terlambat masuk, kembali mandor mencatat. Sanksi sudah menanti. Pada hari Natal para murid dikasih hadiah pakaian satu orang satu.
’’Senang juga dapat hadiah pakaian, meski tidak baru betul,’’ kenang Habel 45 tahun kemudian di lokasi bekas sekolahnya, gedung-gedung tua yang tinggal kenangan, 13 Maret 2008 sore.
Tamatan VVS tiga tahun ada yang ke sekolah ambtenaar. Teman-teman Dicky masih ada yang hidup, seperti Messakh Yakormelena. Pak Youw Sumilena di Distrik Yokari, pejabat Sekretaris Daerah Kota Jayapura juga alumni VVS Yoka. Menurut Messakh Yaung, VVS Yoka merupakan cikal bakal pendidikan di Papua. Oleh sebab itu, alumninya rata-rata menjadi orang. Sayang, bekas VVS Yoka itu tinggal gedung yang jadi saksi bisu mekarnya pendidikan di Papua, 45 tahun silam. Dia lenyap bersamaan dengan beralihnya Papua ke pangkuan Republik Indonesia. Padahal, sistem pendidikannya dulu sangat bagus. Begitu masuk dalam wilayah RI, seluruh sistem pendidikan Belanda jadi sirna. Kini, puing-puing sistem pendidikan Belanda itu tak berbekas sama sekali. Yang tersisa hanyalah gedung-gedung tua yang jadi saksi bisu. (de@r).

Perjalanan Yenny Rustan ke Israel Disambut Wanita Cantik Bermuka ‘’Besi’’

Menyebut nama Israel, kita akan teringat dengan kata zionis. Begitu kata zionis terdengar, pikiran pun akan tiba pada tindak kekerasan yang dilakukan aparat keamanannya. Negara Yahudi itu juga dikenal sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki badan intelijen dan spionase terkenal dan canggih di dunia. Mossad, disebut-sebut sebagai badan intelijen paling penuh taktik dan intrik mematikan di jagat ini. Mengalahkan badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) yang juga terkenal itu. Ke negara itu, Ir.Yenny Rustan, Dirut PT BPR Irian Sentosa melawat selama beberapa hari. Pengalamannya memasuki negara itu, secara khusus dikisahkan kepada ProFiles, suatu malam, beberapa jam setelah alumni UKI Paulus Makassar itu mendarat di Makassar beberapa waktu silam.

ISRAEL. Nama yang kondang dengan prestasi antagonistik. Tiada perilaku baik terbayang ketika negara disebut-sebut. Kehidupan bernegara warganya penuh dengan kecurigaan. Soalnya, Israel memiliki banyak musuh. Tidak jauh-jauh. Di seberang pagar pembatasnya sendiri. Itu musuh konvensional dan klasik, Palestina.
Memasuki negara itu, kita akan berhadapan dengan hanya satu kata. Ketat. Jangan waktu masuk, saat keluar pun diperiksa habis. Pemeriksaan selain untuk urusan yang sudah rutin, mereka juga mencegah terjadinya penyelundupan nakotika, senjata tajam, dan tentu saja, senjata api.
Memasuki gerbang pemeriksaan di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, para tamu akan disambut perempuan berbadan ‘kekar’. Cantik pula. Tetapi, jangan pernah mencoba mencolek atau mengusiknya. Mereka bersenjata lengkap. Semua barang bawaan pendatang tamu diobok-obok habis. Kantong celana, baju, dan jaket pun harus kosong melompong. Tidak boleh berisi. Ada paspor, apakah dia hanya mengacak saja, by filing, gak tahulah. Ada pendatang, pemeriksaan paspornya cepat. Biasanya orang tua dan lanjut usia. Jika ada orang yang dicurigai, dia tahan paspor.Tour leader sudah berpesan, kalau masuk Israel, ikuti saja apa maunya (petugas pemeriksa). Semakin kita gemas, akan lama sekali paspor ditahan. Bahkan, semakin dia bikin-bikin. Biasa juga, paspor dibiarkan begitu saja tanpa diutak-atik. Mereka malah melayani pendatang lain yang di belakang.
Kebetulan, Yenny empat orang. Suami, Yenny, dan teman. Ada teman dan orang tua Yenny, pengurusan paspornya cepat. Dompet-dompet dibuka. Para petugas perempuan tersebut memeriksa dengan alat sejenis kuas. Ternyata ‘kuas’ itu untuk mendeteksi barang seperti serbuk mesiu atau serbuk narkotika. Kuas itu tinggal disapukan pada dompet pendatang. Kalau aman, tentu saja alat itu tak menangkap sesuatu.
Meski di paspor mereka tahu dari Indonesia, tetapi saat masuk mereka tidak bertanya ke Israel untuk apa. Ketika proses pemeriksaan paspor, ada yang bertanya mana paspornya, mereka menjawab: tunggu sebentar! Ternyata dia tahan. Dia kerjakan orang lain dulu. Bahkan, ada pendatang dari suatu negara, isi tasnya dibongkar tuntas. Barang-barangnya diobok-obok. Ternyata, hasil scanning alat deteksi mereka memperlihatkan ada sesuatu yang mencurigakan. Barang itu dicari sampai dapat.
Tel Aviv, ibu kota Israel, kota yang sangat bersih. Gemerlapan dan bersih. Bahkan lebih bagus dan gemerlapan. Keluar dari Tel Aviv memasuki Yerussalem tidak ada lagi kehidupan malam. Orang Palestina tidak leluasa ke Israel dan sebaliknya. Pemerintah negara zionis itu sudah membuat benteng pembatas yang cukup tinggi, sekitar 10 m. Tour leader rombongan Yenny menginformasikan bahwa tembok tersebut berhasil menekan jumlah serangan yang datang dari arah Palestina. Benteng itu mengelilingi Palestina. Kalau pintu ditutup, bisa-bisa rakyat mati kelaparan.
Waktu masuk ke Palestina, rombongan Yenny dari Yerussalem. Keluar dari Palestina langsung berhadapan dengan tentara Israel lagi. Saat di atas mobil, semua penumpang pendatang harus membongkar tas. Diperiksa lagi. Tapi, tour leader sudah pengalaman. Kalau tentara Israel naik menggeledah tas, peserta tour disuruh menyanyi saja. Ada satu nomor lagu Israel yang mereka senang. Saloom…saloom… Saat pendatang menyanyi itu, tentara-tentara Israel tertawa. Mereka tahu yang datang itu peziarah. Tidak ada kepentingan apa-apa. Katanya, yang bagusnya, di Isarel, walaupun bertempur atau ada gencatan senjata, mereka tidak pernah mengganggu peziarah. Sebab mereka tahu peziarah itu membawa devisa bagi negara. Baik di Palestina maupun di Yerussalem sendiri. . Rombongan Yenny Rustan memperoleh Obed, sang pemandu, yang lancar berbahasa Indonesia. Dia seorang Yahudi, tetapi masuk Katolik. Pernah berkunjung ke Indonesia selama sebulan.
Menurut Yenny Rustan, tempat yang biasa disaksikan di layar kaca sering pecah perang atau bentrokan bersenjata, lokasinya jauh dari Yerussalem. Kira-kira sejauh Makassar dengan Mamuju. Jadi bukan di dalam kota. Tidak ada tanda-tanda bahwa negara itu selalu bentrok dengan pejuang Hamas atau Palestina. Hanya memang yang kontras adalah soal kultur. Biasanya, di perkampungan Arab tampak pemukimannya sangat kumuh. Berbeda dengan perkampungan Yahudi yang bersih. Kalau pagi, saat pasar di perkampungan Arab, jalan penuh kotoran. Perbandingannya sangat kontras, sebab letak perkampungan dua etnik itu berseberangan jalan saja. Apalagi, Obed, sang pemandu, lancar berbahasa Indonesia. Dia seorang Yahudi, tetapi masuk agama Katolik. Pernah berkunjung ke Indonesia selama sebulan.
Selama sepuluh hari, rombongan Yenny berada di Israel, setelah sebelumnya mengunjungi Mesir tiga hari. Saat keluar dari Israel, tetap diperiksa dengan sangat ketat. Barang-barang yang dibeli ditanya petugas. Pada saat pulang, orang Israel menghindari ada orang yang membawa barang yang bukan miliknya. Seseorang harus tahu dan hafal bahwa barang itu benar miliknya. Petugas akan bertanya di mana barang itu dibeli. Mereka juga menghindari ada orang lain menitip barang pada orang lain. Mereka juga akan mengecek. Barang pun dibuka. Mereka akan bertanya di dalam tas dan kopor itu isinya apa saja. Jika seseorang tidak bisa menjawab, persoalannya bisa panjang. Bikin masalah baru.Pertanyaannya juga sangat ngawur. Barang itu dibeli untuk siapa? Beli di mana? Harganya berapa? Tujuannya, mereka ingin tahu bahwa barang yang dibawa itu benar-benar miliknya. Bukan barang orang lain. Untuk menjamin kelancaran perjalanan belaka. Umumnya, petugas di bandara pintu keluar Israel lancar berbahasa Inggris.
Di Israel sebenarnya hidup rukun tiga agama yang berbeda. Yahudi, Islam, dan Kristen. Tempat ziarah mereka yang berbeda agama itu umumnya berdekatan. Mereka sudah anggap biasa saja. Ketika rombongan Yenny bertanya soal tayangan di TV, pemandu menjawab enteng. Gambar tersebut sudah diputar berulang-ulang untuk memberi ilustrasi mengenai kekerasan atau konflik yang terjadi.

Dapat Hadiah Mainan Cucu

Suatu hari saya terbang ke Jakarta, menggunakan pesawat Garuda siang. Kalau tidak salah, waktu itu saya akan menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Hubungan Masyarakat Perguruan Tinggi Negeri/Swasta dan Dinas Pendidikan se-Indonesia di Bogor. Di atas pesawat saya bertemu dengan teman lama, Drs. Amal Natsir yang ketika itu menjabat salah satu badan di Provinsi Sulawesi Selatan.
Sembari menunggu jam tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya menghadiahkan Pak Amal Natsir sebuah buku kecil yang saya tulis berjudul ’’Berguru dari Keawaman’’. Buku ini, berisi kisah-kisah humor Prof.Dr.Ir.Radi A.Gany selama menjabat Bupati Wajo Sulawesi Selatan yang dikemas dengan gaya penulisan feature human interest (kisah menarik perhatian).
Usai menyerahkan buku itu, saya ke belakang, toilet. Seorang pramugari menghadang saya begitu muncul di pintu.
’’Pak, apa ini bukunya yang jatuh,’’ kata Pramugari itu dengan ramah.
’’Oh, iya, tetapi saya sudah hadiahkan kepada seorang teman saya,’’jawab saya kaget, karena ketika berdialog dengan Pramugari, tiba-tiba Pak Amal Natsir juga nongol di toilet sebelah kanan.
’’Nah, ini teman yang saya kasih hadiah buku ini,’’ jelas saya lagi.
’’Benar, saya dihadiahkan buku ini. Tetapi yang tulis beliau ini,’’ Pak Amal Natsir memberitahu. Rupanya buku itu terjatuh dari kantong jas Pak Amal Natsir ketika akan memasuki toilet, sehingga Pramugari itu memunggut dan sempat membacanya selama Pak Amal Natsir di kamar kecil.
‘’Memang kenapa, bukunya, Mbak,’’ kata saya.
’’Bukunya menarik dibaca ,’’ kata Pramugari itu.
’’Mau??? Ehhh.. sebentar, berapa kru pesawat semuanya?,’’ kata saya lagi.
’’Aduh... terima kasih banyak, Pak,’’ sahut Pramugari itu tak bisa menahan rasa gembiranya.
Hari itu, ternyata saya harus menghadiahkan buku tersebut 10 eksemplar kepada seluruh awak Garuda. Untung juga, saya membawa stok banyak. Rencananya akan dibagi-bagikan kepada teman-teman di Jakarta. Jika tidak ketemu, akan dihadiahkan kepada teman di Rakornas Humas nanti.
Saya kemudian menyerahkan 10 buku kisah humar, diiringi pandangan para penonton yang tiba-tiba saja menyaksikan pemandangan yang lain dalam sesi penerbangan hari itu.
’’Terima kasih, Pak Dahlan,’’ kata Pramugari yang lumayan juga manisnya itu, setelah 10 buku berpindah tangan.
’’Mbak, nanti mungkin bakal sering melihat yang punya foto ini (Pak Radi). Beliau selalu terbang dengan Garuda dan selalu duduk di depan (kelas bisnis). Sapa saja, sambil bercanda,’’ ujar saya lagi.
Setelah menjadi dermawan buku, saya mengisi sisa jam terbang dengan pulas. Ini kebiasaan saya kalau bepergian. Termasuk jika bepergian dengan kendaraan mobil dan juga kereta. Apalagi, hari itu saya tidak membaca buku bacaan cadangan.
Ketika pengumuman siap mendarat diumumkan, Pramugari yang menerima buku dari saya tadi – lupa namanya—muncul lagi di dekat saya yang kebetulan duduk di kursi nomor C, pinggir lorong .
’’Terima kasih, Pak Dahlan. Ini kami titip mainan buat cucunya,’’ kata Pramugari sembari menyerahkan berbagai model mainan anak-anak sekantong plastik tebal. Ya, mainan gambarnya yang ada di dalam buku ’belanja di udara’’ (shopping on board). Rupanya, awak Garuda itu membaca biodata di buku, kalau saya sudah punya dua cucu.
Saya hanya ucapkan terima kasih sembari menambahkan, mengapa harus repot segala. Sebab, membawanya juga – pikir saya – repot juga.
Apa boleh buat, begitu tiba di gedung terminal, mainan itu saya tumpuk di dalam koper. Ya, biar tidak banyak yang bergelantungan. Ya, inilah seni memperbanyak teman. ***

Cengkareng, tahun 2005.