Senin, 11 Januari 2010

Enrekang Cari Kontraktor CD

Sebagai pengusaha sejak tahun 1978 tidak lagi menggantungkan biaya dari orang tua, Ir La Tinro Latunrung memang layak menjadi contoh seorang bupati yang kreatif. Meski menyelesaikan pendidikan di Unhas terbilang lama -- delapan tahun --, namun sepuluh bersaudara ini pernah meraih predikat terhormat saat melaksanakan kuliah praktik di ITB.
‘’Saya pernah meraih juara I lomba praktik di ITB. Jsdi, kita harus bangga menjadi alumni Kampus Merah,’’ ujar La Tinro ketika menerima kunjungan kerja Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A Paturusi yang meninjau kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Cendana dan Maipa, 6 Agustus.
La Tinro juga sukses melaksanakan program kerja periode pertamanya dengan baik. Kabarnya, dia berhasil mempermulus jalan hingga ke pelosok kampong dan desa. Langkah ini merupakan terobosan paling penting yang harus memperoleh prioritas program pemerintah. Masalahnya, terbukanya sarana perhubungan akan mampu menggerakkan ekonomi pedesaan. Lalu lintas transportasi produk perekonomian dan pertahian akan semakin lancer. Dan, yang paling penting adalah biaya yang dikeluarkan rakyat tidak kian membengkak.
Kits semakin tidak mengerti, mengapa selama ini para pemimpin tidak semua memikirkan kepentingan dan kebutuhan yang mendasar rakyatnya. Yang paling mendasar`yang diperlukan rakyat adalah terciptanya rasa aman, sarana transportaasi membaik, pertumbuhan ekonomi baik, dan interaksi antara pemimpin dengan rakyatnya dan antar-rakyat itu sendiri berjalan harmonis.
Dalam hal membangun jalan ini, beredar anekdot, La Tinro tidak mampu melaksanakan satu program yang sangat prestasius. Apa itu? Ternyata yang dimaksud adalah bagaimana meluruskan jalan-jalan di poros Enrekang-Tana Toraja yang berliku-liku dan meliuk-liuk itu. Tentu saja mustahil. Mana bisa meluruskan jalan raya yang memang sejak zaman Belanda memang kondisinya sudah begitu. Jangan berharap diluruskan, adanya saja jalan dengan berliku-liku itu sudah pantas disyukuri. Ini mengingat medan berbatu dan bergunung yang harus ditaklukkan untuk membikin jalan yang mengitari lereng Gunung Bambapuang itu.

Kontraktor CD
Ada satu kegagalan lain La Tinro yang sejak bupati-bupati sebelumnya juga belum pernah ditemukan solusinya. La Tinro sendiri mengakui itu. Kata dia, sudah enam tahun terakhir ini (termasuk tahun pertama periode kedua pemerintahannya), dia kelabakan dan pusing tujuh keliling mencari kontraktor dengan spesifikasi khusus dan sangat khas. Apa pula itu? Kontraktor celana dalam (CD).
Menurut alumni Unhas tahun 1984 ini, dia malu hati juga membiarkan Buntui Kabobong (bukit perempuan) itu dibiarkan tanpa busana. Meski gara-gara kondisinya yang original itu telah membuat bukit ‘’porno’’ itu menjadi obyek wisata. Ya, obyek wisata tak lazim, porno.
Maka, agar bukit itu bias tampil ‘sopan’ dan dapat menutup auratnya, La Tinro mengundang para kontraktor celana dalam untuk menjahitkan celana dalam. Kalau sudah bercelana, bukit itu jelas tidak akan porno lagi dan bisa menutup auratnya.
‘’Ternyata tidak ada kontraktor yang mampu dan berminat,’’ kelakar La Tinro, jebolan Jurusan Elektro Unhas yang mengaku pernah menjadi juara lomba panjat tiang listrik ini.
Upaya itu hingga kini tidak pernah berhasil. Guna menyiasati bukit tersebut, kata La Tinro, diusahakan menanam kembang yang pada saat tertentu warnanya merah. Hitung-hitung kini menambah atraksi. Namanya kembang sepatudea. Pemikirannya, kalau kembang itu mekar dan berwarna merah, dari kejauhan akan kelihatan merah pula. Itu tanda bahwa bukit tersebut sedang ‘berhalangan’, menyontek kodrat bulanan yang bertamu ke perempuan.

M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Kepiting Cangkang Lunak di Tambak Sewaan

Niat awal melaksanakan praktik penelitian aplikatif ini bermula dari sebuah keprihatinan. Rasa keprihatinan melihat kondisi pengembangan komoditas udang di Sulawesi Selatan. Pasalnya, tambak yang luasnya 150.000 ha itu banyak yang terlantar alias tidur ditinggalkan pengelolanya. Mereka pada merubung udang sebagai komoditas keroyokan, karena si bungkuk itu merupakan komoditas primadona saat Indonesia diterpa krisis monoter tahun 1997-1998.
Data yang ada, tambak yang produktif hanya sedikit. Khusus untuk komoditas kepiting saja, produksi total yang mestinya digaet adalah 18.848 ton, namun kenyataannya hanya 538,42 ton saja atau 2,9%. Masalah yang mendera para petani adalah karena komoditas andalan itu diserang penyakit. Mereka juga tidak punya pilihan. Tidak dapat lagi mengatasi kendala yang dihadapi, tambak-tambak itu pun ditinggalkan.
‘’Maka, terjadilah tambak-tambak marginal yang tidak dikelola dengan baik. Melihat adanya tambak marginal ini kami berpikir memanfaatkannya untuk memelihara komoditas lain yang tahan terhadap penyakit yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan tidak kalah dengan udang, yakni kepiting. Kepiting cangkang lunak inilah yang jadi alternative kita pelihara di tambak-tambak marginal tersebut,’’ kara Dr.Ir.Hadiratul Kadsiah yang bersama Dr.Ir.Asmi Citra Malina, Ir.Rustam, M.S., dan Dr.Ir.St.Rohani, M.S, melaksanakan proyek Budidaya Kepiting Bakau Cangkang Lunak di sekitar pesisir Sungai Pampang, Kota Makassar.
Praktik kegiatan membudidayakan kepiting lunak ini sebenarnya merupakan hasil temuan para peneliti sebelumnya. Dilihat hasil-hasil riset, ternyata dengan sistem pelepasan organ itu akan mempercepat moulting kepiting. Jadi, Ira dkk berpikir bahwa dengan mengambil kepiting yang moulting itu menjadi kepiting lunak, maka kulitnya tidak lagi mengeras.
Ternyata setelah dilihat di pasaran, nilainya mahal. Setelah dicoba dibudidayakan, ternyata prosesnya tidak makan waktu lama. Inilah salah satu alasan hingga Dikti mau mengulur dana untuk membiayainya. Pengembalian modal yang cepat dan prospek pasar yang bagus. Dikti juga dalam memberikan bantuan yang berkaitan dengan pengabdian selalu melihat apakah ini bermanfaat bagi masyarakat dan atau memberikan profit yang bagus.
Proyek ini merupakan hasil kompetisi di tingkat nasional Program Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P2M) Ditjen Dikti 2007-2009. Tiga perguruan tinggi memenangkan proyek seangkatan dengan Unhas, termasuk UI dan ITB. Ira dkk menamakan kegiatan ini berjuluk ‘’Iptek bagi Inovasi dan Kreativitas Kampus’’ (IbIKK). Kegiatan ini diberikan kepada para dosen perguruan tinggi dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di universitasnya masing-masing guna menghasilkan kegiatan yan memproduksi profit oriented (berorientasi keuntungan).
Atas dasar itulah, kata Ira, pihaknya mengajukan proposal yang kemudian diterima oleh Ditjen Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (DP2M) Dikti, hingga kegiatan budidaya kepiting cangkang lunak ini pun start. Jadi, proyek ini sifatnya multiyear. Sekarang sudah jalan tahun ketiga.
Di atas tambak seluas 1 ha yang disewa Rp 6 juta per tahun, para dosen Unhas ini melaksanakan aplikasi penelitian kepiting cangkang lunak. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Prof.Dr.Ir.Yushinta Fujaya (pernah dimuat Majalah Identitas). Hanya saja, aksi para dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas ini sudah langsung dilakukan secara massal. Sebab, selain mengembangkannya di Makassar, tim Ibu Ira, begitu Hadiratul Kadsiah akrab disapa, sudah melanglangbuana ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat petambak.
Proyek ini bernilai Rp 100 juta per tahun, selama tiga tahun. Unhas menyediakan dana pendamping Rp 50 juta per tahun. Dana sebesar itu digunakan untuk mempersiapkan lahan, termasuk menyewa lahan, membeli bahan baku kepiting, dan perlengkapan lain seperti keramba, alat penerangan, dan sebagainya.
Sebenarnya, kata Ira, budidaya ini mirip dengan tanaman tumpangsari di bidang pertanian. Tanaman tumpangsari diselipkan di antara tanaman jangka panjang. Tentu saja, tanpa mengganggu dan mengusik tanaman yang sudah ada. Begitu pun dengan pembudidayaan kepiting lunak ini. Di tambak yang disewa tetap dapat dikembangkan jenis komoditas lain, seperti udang, bandeng, dan sejenisnya. Ira dan kawan-kawan hanya ‘meminjam’ permukaan air untuk melaksanakan misi kegiatan pengabdian masyarakat dan akademiknya itu.
‘’Kami membutuhkan 12 line keramba, tiap keramba berisi 10 kotak. Satu kotak ukurannya 25 x 25 cm,’’ kata Ira, di tengah tambak yang disewanya di pesisir Sungai Pampang, 5 Desember 2009.
Awalnya, lahan disiapkan, dibuatkan keramba, dan bibit didatangkan dari berbagai sumber. Selama ini didatangkan dari Kera, Siwa, Wajo, Malili, ada juga dari Pangkep. Harga bibit Rp 12.00 – Rp 17.00 per kg. Satu kilogram bisa naik 10-15 ekor. Itu juga yang harus menjadi syarat bibit kepiting cangkang lunak ini.
Persentase hidupnya bagus. Tingkat mortalitas (kematian hidup) rendah sekali. Di bawah 3%, bahkan cuma 0,2% kematiannya. Bahkan, pernah tidak ada kematian. Setiap kotak diisi 3 tiga ekor kepiting cilik. Setelah terjadi moulting (pergantian kulit) dua ekor diungsikan ke kotak yang lainnya. Setelah itu dilakukan teknik pelepasan organ atau teknik pelepasan organ sendiri (autotomi). Pada saat moulting inilah terjadi intervensi yang dilakukan manusia, yakni mencopot empat dari masing-masing lima ‘kaki’ kepiting. Yang dibiarkan hanyalah kaki belakang yang berfungsi sebagai kaki berenang. Kaki itu juga pada saat darurat seperti itu juga berfungsi sebagai ‘pemegang’ dan ‘peraup’ makanan yang terdiri atas ikan-ikan kecil segar non-ekonomis yang dicincang dan dikhususkan buat ‘’teman-teman’’ ini. Biasa juga tidak perlu dicincang, asal ukurannya kecil. Seperti ikan teri (mairo, bahasa Makassar). Mengapa harus dicabut semua? Kalau tidak, kepitingnya bisa ‘melarikan diri’’ dan kabur dari kotak. Ini akan merepotkan Ira dkk.
Campur tangan dengan menyiasati proses pergantian kulit itulah yang kelak membuat kulit dan cangkang kepiting bakal menjadi lunak. Saat itu, ada intervensi manusia untuk menahan, sebab jika secara alami, kulit kepiting akan keras kembali. Kepiting itu ditahan lalu diambil dan merendamnya di air tawar. Tidak diapa-apain, hanya direndam di air tawar sekitar 5 menit. Kemudian diangkat, dan kulitnya tidak akan mengeras lagi. Pengerasan tubuhnya sudah tertahan. Tidak ada perlakuan khusus dalam bentuk zat aditif dan sebagainya. Betul-betul 100% organik. Sebab, para eksporter ini tidak mau menerima kepiting yang dipelihara dengan campur tangan pupuk an-organik. Jadi, harus menerapkan eko-labelling.
Jadi, usai copot kaki-kakinya, kepiting akan hidup di air tawar. Sebab, kalau terus di air asin, kulitnya akan mengeras lagi lantaran kebanyakan kalsium. Ketika masa hidup di air tawar tersebut, cangkang-cangkang yang sudah ‘’mutilasi’ tadi akan tumbuh kembali. Pelepasan organ tubuh kepiting (capit, yakni yang biasa menjepit, kaki jalan, dan kaki renang) tidak dapat dilakukan seenaknya. Yang dilepas adalah capit dan kaki jalannya. Itu pun kepiting sendiri yang mencopotnya. Orang hanya menusuk jarum, member stimulan. Sebab, dengan ditusuk, kepiting merasa ada tekanan eksternal dari luar tubuhnya merasa sakit, dia akan melepas sendiri organ tubuhnya. Harus dilakukan pada waktu yang sangat tepat. Jika dilakukan pada saat yang tepat dengan moulting, proses tumbuhnya akan berlangsung secara alamiah. Berbeda dengan jika dicopot pada saat bukan musim pergantian kulitnya atau dicabut begitu saja. Tingkat kematian bisa tinggi. Organ tubuh kepiting bias luka dan boleh jadi bakal ngambek, alias tidak mau tumbuh. Jadi, kalau dia melepaskan sendiri organ tubuhnya tidak bakal stress dan luka-luka. Itu alami saja sebenarnya. Berikutnya akan terjadi regenerasi dan jari jemarinya akan tumbuh secara penuh.
Pelepasan organ dilakukan begitu ada bibit setelah diadaptasikan sejenak. Biasanya kepiting masih ‘’diborgol’’ langsung ditusuk dengan jarum agar dia merasa sakit dan organnya dia lepas atau copot sendiri. Baru kemudian disimpan di keramba.
Masa panennya juga singkat. Berkisar antara 2-4 minggu. Jika dijual, kini bisa mencapai harga Rp 75.000 per kg dengan kuantitas 8 ekor per kg.
Masyarakat
Kegiatan ini memang diarahkan agar masyarakat bisa mencontoh dan mengikutinya. Selama ini banyak penelitian yang belum diaplikasikan. Akibatnya, banyak juga masyarakat yang belum merasakan manfaatnya. Ira berharap, kegiatan ini bisa langsung diserap oleh masyarakat dan menjadi motivasi bagi mereka meningkatkan pendapatannya.
Menurut anak pasangan Haji Abdul Hafid-St Ramlah ini, pihaknya melakukan penyuluhan tiap tahun. Selain budidaya, juga manfaatnya buat masyarakat melalui penyuluhan dan demonstrasi. Tim Ira ini jalan ke daerah-daerah. Sekarang ini sudah buka di Sinjai dan di Kera, Siwa. Khusus di Kera, semula memelihara kepiting cangkang keras, namun setelah disuluh dengan cangkang lunak ini, mereka beralih dan ikut memelihara kepiting cangkang lunak. Selain Sinjai dan Siwa, juga Pinrang yang dilaksanakan kerja sama Dinas Perikanan dengan LPPM Unhas.
Kalau masyarakat mau melakukan sendiri, kendalanya mungkin pada biaya pengadaan bibit. Sebab harganya cukup mahal. Tetapi jika dihitung-hitung sampai panen, keuntungannya malah lebih besar lagi. Petani hanya memerlukan biaya awal, berapalah untuk sewa tambak dan pembuatan keramba serta bibit. Jika sudah tersedia, untuk kelanjutannya tidak terlalu besar lagi biaya operasionalnya.
‘’Jika mereka punya tambak sendiri, sebenarnya biayanya lebih murah lagi,’’ kata anak ketiga dari empat bersaudara (semua perempuan) dan berprofesi sebagai dosen ini.
Kalau dihitung kasarnya, imbuh Ira yang dulu hobinya berkebun dan kini bertambak itu, berdasarkan pengalaman selama ini, mungkin sekitar Rp 20 juta sudah siap sarana usaha awal. Lahan yang diperlukan untuk budidaya kepiting lunak ini tidak terlalu luas. Sebab, yang digunakan adalah keramba. Inilah salah satu keuntungan kepiting cangkang lunak ini, yakni padat sebarannya tinggi. Dia pakai keramba dan tidak memerlukan areal yang luas. Bisa dikontrol dengan mudah. Tidak perlu seperti memelihara komoditas lain yang harus basah-basah dan kotor-kotor segala. Kita bisa bersih-bersih, sebab tepiannya. Tidak perlu turun berbasah-basah. Bisa polikultur (polyculture).Di bawah kita bisa tetap memelihara udang dan bandeng. Bahkan, bisa juga memelihara rumput laut.
‘’Inilah, kita pinjam air permukaan. Hasil yang kita lihat, selama melaksanakan kegiatan ini, malah udang-udang itu tidak diberi makan, justru gemuk-gemuk, dibandingkan tidak ada keramba budidaya kepiting cangkang lunak di atasnya,’’ kata Ira yang menyelesaikan pendidikan S-1 (1992), S-2 (1997) dan S-3 tahun 2008 di Unhas itu.
Dalam budidaya ini tidak ada intervensi pupuk atau segala macam jenis pupuk an-organik. Murni pupuk organik. Tidak ada perlakuan khusus dari aspek pemupukan dan pemberantasan hama. Murni pakai air alami dari luar. Jadi, budidaya ramah lingkungan.
Jika tambak harus disewa jelas mahal. Apalagi kalau di kota, seperti Makassar. Di daerah, kalau 1 ha per tahun Rp 1 juta bisa dapat. Apalagi kalau disewa, itu hanya permukaannya saja. Kalau pemilik atau penggarap lahannya mau pelihara komoditas lainnya di bawah, bisa dan ini bakal lebih murah lagi.
Khusus di tambak yang disewa Unhas sekarang, setahun bisa panen tiga kali. Hanya ada masa istirahat, yakni antara bulan Agustus-September. Ini berkaitan dengan masa krisis benih. Masa krisis ini dimanfaatkan membersihkan keramba dan mengeringkan tambak serta memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di tambak. Masa produktif sekitar bulan Maret. Pada bulan ini bisa capai 300 kg per bulan panen.
Selain kendala bibit, juga masalah listrik (apalagi sering padam seperti sekarang ini). Sebab, di tambak itu aliran listrik belum ada. Lokasi pemeliharaan kepiting cangkang lunak dekat dengan rumah penduduk agar dapat aliran listrik. Apalagi, kepiting ini moulting-nya pada malam hari. Pada malam hari, kontrolnya eksta. Bahkan diperiksa saban menit di keramba-keramba yang ada. Apa ada yang moulting atau tidak. Makanya, diperlukan penerangan yang cukup untuk melihat kepiting yang sedang ‘ganti baju’. Untungnya, kepiting cangkang lunak ini jarang terserang penyakit.
‘’Penyakitnya lari ke bawah permukaan air, sementara kepiting cangkang lunak ini hidupnya di atas permukaan air. Jadi, dia yang menunggangi dan menenggelamkan penyakit, sehingga tidak sakit-sakit,’’ kata Ira terkekeh.
Ir.Rustam, M.S. menambahkan, pengaruh endapan air membuat kepiting bebas dari penyakit. Semua zat beracun tenggelam. Oksigen di dasar tambak juga kurang dibandingkan permukaan air. Di permukaan air terjadi pergantian oksigen yang baik.
Setelah pelepasan organ, kepiting itu diletakkan di keramba, dipelihara dan diberi pakan. Dalam dua minggu, sudah harus siap-siap kalau ada yang dapat dipanen.Panennya tidak sekaligus. Bertahap, bahkan jam demi jam. Biasanya, seminggu dikumpulkan baru diambil oleh kolektor. Sebab, tidak langsung banyak. Beberapa ekor per malam.
Setelah jalan tiga bulan, Ira dan kawan-kawan sudah meneken akta notaries untuk membuat badan usaha yang mandiri, tetapi masih tetap di bawah naungan universitas. Sejenis satu jenis usaha yang mandiri yang profit oriented. Bagaimana menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa maupun dosen itu sendiri. Jangan hanya penuh dengan teori-teori melulu, tetapi praktiknya di lapangan biasanya nihil.
Soal pasar produksi kepiting lunak, untuk lokal adalah Surabaya dan Bali. Biasanya langsung dijemput di sini. Kolektornya biasa mengekspor ke Jepang, China dan Hongkong. Amerika masih susah ditembus, karena mereka menganggap sistem pelepasan organ yang dilakukan masih dianggap belum sesuai selera mereka. Padahal, pada prinsipnya kita melakukan pelepasan organ yang alami. Bukan melalui tindakan yang ‘’biadab’’. Tidak tindak kekejaman yang terjadi dalam proses ini.
Produksi setahun, pernah mencapai angka 500 kg/bulan. Yang susah sebenarnya adalah pengontrolannya. Tambak seluas yang ada sekarang, yang control minimal tiga orang. Kalau sudah mulai panen, sistemnya per shift. Tidak boleh lepas semenit pun di keramba. Kontrol terhadap kepiting yang melakukan moulting, sebab berlangsung malam hari hingga subuh. Masa kerjanya malam. Ini yang susah. Walaupun kita mau tingkatkan produksi, tetapi tenaga lapangnya terbatas, tetap susah juga.
Anti Kolesterol
Jika dikonsumsi, persoalan kolesterol kepiting sering jadi pemikiran. Tetapi, konsumen tidak perlu gelisah. Tingkat kolesterol kepiting cangkang lunak ini rendah jika dibandingkan kepiting keras. Sebab, kepiting cangkang lunak ini dimakan dengan kulitnya. Kulit kepiting bisa menormalkan kolesterol dan asam lemak. Dia menjadi penetral atau menetralisasi. Lain dengan kepiting keras yang kita hanya makan isinya yang kolesterolnya lebih tinggi.
‘’Jadi lebih aman ketimbang kepiting keras,’’ kata ibu lima anak yang dilahirkan di Bone, 6 November 1969.



BEP 47, 16 & IRR 31,34%

Hasil pelaksanaan tahun 2009 mengungkapkan, usaha ini telah menghasilkan keuntungan yang cukup besar dengan BC Ratio mencapai 1,313. Titik impas (break event point—BEP) mencapai 47,1698 dan IRR mencapai 31,3485%. Produk telah dipasarkan ke eksporter dan outlet Unit Usaha Jasa dan Industri (UJI)/Iptek bagi Bisnis Kampus (IbIKK) di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas.
Program ini, kata Dr.ir.Hadiratul Kudsiah, MP mampu mendorong perguruan tinggi membangun akses yang menghasilkan produk jasa dan/atau teknologi hasil ciptaannya sendiri. Wujud IbIKK di perguruan tinggi dapat berupa badan usaha atau bermitra dengan industri lainnya dan dapat didirikan dan dikelola kelompok dosen sesuai kompetensinya di level laboratorium, pilot plant, bengkel, jurusan/departemen, fakultas/sekolah, UPT, pusat riset, dan pengembangan atau lembaga lain yang berada di perguruan tinggi. Sekali didirikan, IbIKK diharapkan harus berkelanjutan sehingga insiatif awal perlu disusul dengan ketekunan berusaha dan kejelian menangkap peluang pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Hadiratul Kudsiah mengatakan, misi program ini adalah menciptakan science and technology park (taman sains dan teknologi) di kalangan perguruan tinggi guna mengembangluaskan budaya knowledge baced economy.
Sedangkan tujuan program, mempercepat proses pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi, membantu menciptakan akses bagi terciptanya wirausaha baru, menunjang otonomi kampus perghuruan tinggi melalui perolehan pendapatan mandiri atau bermitra, memberikan kesempatan dan pengalaman kerja kepada mahasiswa, mendorong berkembangnya budaya pemanfaatan kerja kepada perguruan tinggi bagi masyarakat, dan membina kerja sama dengan sektor swasta termasuk pihak industri dan sektor pemasaran.
Keluaran program ini diharapkan terbentuknya unit profit di perguruan tinggi berbasis produk intelektual dosen, produk jasa dan/atau barang komersial yang terjual dan menghasilkan pendapatan bagi perguruan tinggi, paten dan atau wirausaha-wirausaha baru berbasis Ipteks. Keluaran ini diharapkan dapat member dampak berkembang dan meluasnya budaya kewirausahaan dan pemanfaatan hasil riset maupun pendidikan di perguruan tinggi guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Di samping itu juga memberikan peluang , dan updating sains dan teknologi di perguruan tinggi.
Tahap pelaksanaan
1. Persiapan, termasuk pengeringan tambak
2. Pembuatan karamba, jembatan, ruang pasca panen, penerangan, dll.
3. Setting karamba dan perlengkapannya di tambak.
4. Pengadaan benih kepiting bakau ukuran 10-15 ekor per kg.
5. Aklimatisasi
6. Pelempasan organ capit
7. Penebaran
8. Pemberian pakan
9. Panen
10. Pelembutan cangkang
11. Pemasaran segar atau beku.

Des Melita, M.Sc. (Direktur Program P2M Dikti)
Pejabat Direktur Program Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P2M) Ditjen Dikti, Des Melita, tanggal 6 Desember sempat bertandang ke tambak, lokasi pembudidayaan kepiting cangkang lunak yang dilaksanakan Hadiratuk Kudsiah dkk. Ia didampingi Pembantu Rektor I Unhas Prof.Dr.Dadang Ahmad Suriamiharja, M.Sc.
Setelah melihat hasil kerja para dosen Unhas, Des Melita mengatakan, program ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat kecil. Melalui program ini, mahasiswa juga dapat melakukan magang.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dana hibah untuk membantu para dosen melaksanakan karya seperti ini.
‘’Ini ka nada produknya dan bila berhasil akan merupakan pendapatan langsung bagi perguruan tinggi,’’ kunci Des Melita.

Prof.Dr.Dadang Ahmad Suriamiharja:
Bisa Tambah Kepercayaan Masyarakat
Proyek yang dilaksanakan Unhas ini selain menghasilkan produk langsung dari aspek profit, juga setidak-tidaknya akan menaikkan kepercayaan masyarakat terhadap Unhas. Sebab, Unhas dapat memperlihatkan produk penelitian dan karyanya yang dapat ditiru oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatannya.
Di Unhas memang ada format penelitian, yang sejatinya, penerapannya harus ke masyarakat. Penelitian itu dibagi ke dalam empat pokok utama berdasarkan karakteristik keilmuan, yang bidang medical complex, agro complex, science and technology, dan humaniora.
Diharapkan, produk hasil kepiting cangkang lunak dapat dilakukan lebih cepat dan itu kebih baik. Pemasaran produknya di Sulsel juga jauh lebih prospektif. Apalagi, banyak tersedia rumah makan, restoran, dan outlet yang menyediakan souvenir.
Melalui 59 program studi yang ada di Unhas, diharapkan muncul banyak proposal penelitian. Proposal itu diseleksi dalam dua tahap di Unhas guna menetapkan proposal mana yang layak dikompetisikan di tingkat nasional.
Proyek aplikatif seperti ini terasa ada dampak yang cukup besar bagi pengembangan kompetensi sumber daya manusia Unhas. Melalui kegiatan seperti ini, Unhas memperoleh peluang melaksanakan kegiatan yang dapat meningkatkan kadar kepercayaan publiknya. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah branding image.
Laporan: M.Dahlan Abubakar

Pemadaman = Kemacetan --> Pertumbuhan Ekonomi

Sejak Oktober 2009, Sulawesi Selatan dirundung pemadaman listrik yang terparah selama ini. Harian Fajar dalam beberapa bulan terakhir ini, setiap hari masih memuat iklan pengumuman pemadaman listrik di Kota Makassar. Kita tidak tahu, kapan pemadaman akan berakhir. Pemadaman bukan berdampak secara`ekonomis dan material. Secara`ekonomis, misalnya, rekening listrik saya yang berdaya 900 KWh, biasanya berkisar Rp 140.000, meroket menjadi Rp 170.000 dan pada bulan Desember 2009, meloncat naik menjadi Rp 240.000. Material, banyak masyarakat mengeluhkan rusaknya barang-barang elektronik mereka yang tidak menggunakan pengaman.
Sudah bisa ditebak, melonjaknya rekening tersebut tentu ada kaitannya dengan pemadaman yang dua kali sehari. Bayangkan saja, selama 30 hari dikali dua kali pemadaman, listrik di rumah harus menarik pertama dua kali lipat. Belum lagi, kalau mati sebentar, hidup lagi berkali-kali yang biasanya kerap terjadi justru di akhir tahun.
Pemadaman
General Manager PT PLN Sulselbar, Ir.Haryanto WS, M.M. dalam suatu kesempatan bertandang ke Unhas mengurai, pada kondisi normal, daya mampu listrik di wilayahnya 550 MW, beban puncak 541 MW, sehingga tersisa cadangan – meski hanya sedikit – 9 MW. Namun setelah pemadaman mulai Oktober 2009, kondisinya terbalik. Daya mampu 344 MW, beban puncak 434 MW, cadangan 90 MW.
Saya yang nimbrung menyoal pemadaman listrik dalam pertemuan kitu mengibaratkan pemadaman listrik di Sulselbar ini bagaikan sebuah kemacetan. Pemadaman terjadi karena terbatasnya daya mampu listrik dan tingginya beban puncak. Beban puncak meroket, karena tingginya permintaan konsumen. Jadi berlaku hukum ekonomi, supply and demand. Dalam 20 tahun terakhir, di Sulselbar hanya terjadi penambahan pembangunan daya baru 60 MW plus 60 MW di PLTG Sengkang, sementara pertumbuhan pembangunan properti melaju tidak terkendali. Ironisnya, setiap developer hendak menjual unit-unit perumahan yang dibangun selalu mengiming-imingnya dengan ketersediaan listrik yang memadai dan pengaliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum.
Repotnya, kata Haryanto, di tengah krisis listrik tersebut, pembangunan yang dilakukan oleh pihak swasta belum memberikan perspektif yang positif. PLTM Tangka Manipi sejak tahun 2007 belum terwujud. PLTU Takalar dengan kapasitas 30 MW ditutup tahun 2008. PLTU Bosowa di Jeneponto dengan kapasitas 2 kali 100 MW belum ada kelanjutan programnya. Begitu pun dengan dengan PLTA Poso belum jelas. Penyebabnya adalah dana dan regulasi.
Secara kasat mata, pemadaman itu terjadi, karena tidak berimbangnya antara jumlah kebutuhan dengan pasokan yang tersedia. Jumlah kebutuhan terlalu tinggi, sementara pertumbuhan daya kita dalam 20 tahun terakhir hanya 60 MW. Jumlah perumahan dan fasilitas properti terus bertumbuh secara signifikan. Di dalam negeri terjadi pola kebutuhan mengejar persediaan daya. Kalau di luar negeri, justru terbalik, persediaan disesuaikan dengan kebutuhan.
Repotnya lagi, program 10.000 MW yang dicanangkan M.Jusuf Kalla ketika menjabat wakil presiden, kini mungkin tinggak cerita. Kita pun kian pesimis membahas program pengadaan daya listrik baru, di tengah pemerintah bingung dengan penyelesaian kasus Bank Century yang kian bagaikan bola liar.
Kemacetan
Jika melihat pemadaman listrik dari sisi sebab akibatnya, maka tidak ubahnya dengan kemacetan lalu lintas yang mulai merambah Kota Makassar. Kemacetan terjadi, karena jumlah kendaraan terus bertambah secara tidak terkendali. Setiap bulan, ada sekitar 800 unit kendaraan roda empat baru menyerbu Makassar yang tentu saja akan segera ikut meramaikan lalu lintas dan ikut mempersempit arus lalu lintas di Makassar.
Pada sisi lain, jumlah kendaraan yang terus bertambah secara signifikan itu, tidak diikuti oleh penambahan ruas jalan, khususnya pada jalur-jalur padat. Misalnya saja, pada jalur ke arah timur kota, seperti Jl. Urip Sumoharjo, Jl.Perintis Kemerdekaan. Jalan ke luar kota di bagian utara hanya bertumpu padas Jl.Urip Sumoharjo dan Jl.Perintis Kemerdekaan serta Jl.Tol Ir.Sutami. Ketika kemacetan mendera Jl. Perintis Kemerdekaan, praktis kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.
Sebenarnya, pemerintah kota Makassar dan Sulsel, bukan tidak ada upaya membangun jalan pintas tengah (middle ring road) yang membentang dan memotong dari Borong Raya ke Jl.Perintis Kemerdekaan, tetapi entah mengapa, peresmian pembangunan jalan yang dilaksanakan di Jl.Borong Raya semasa H.M.Amin Syam menjabat Gubernur Sulsel itu terhenti tanpa kabar.
Pertumbuhan
Pemadaman listrik secara`langsung atau tidak langsung menunjuk adanya dinamika pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang menaik. Ini jelas positif. Banyaknya properti yang tumbuh menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi dan pergerakan investasi yang yang positif di daerah ini. Seperti dikemukakan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, ketika menerima wartawan kampus Penerbitan Identitas Unhas, 11 Desember 2009, listrik jelas merupakan ukuran suatu sumbu kehidupan ekonomi kita. Sebab listrik adalah segalanya bagi kehidupan manusia.
‘’Kalau jalan berlubang dan air belum mengalir dengan lancer, kita bisa cari alternatif, tetapi kalau listrik padam, semua serba tertahan. Ini menjadi sesuatu yang sangat serius bagi pemerintah daerah Sulsel,’’ kata Syahrul Yasin Limpo.
Dalam setahun terakhir ini, jika dikritisi, terjadi lompatan pertumbuhan perekenomian Sulsel di tengah pemadaman listrik tersebut. Kebutuhan listrik yang sangat tinggi itu juga mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang juga tinggi. Sebab dengan adanya listrik masyarakat membeli TV, kulkas, radio, komputer. Oleh sebab itu, pemerintah harus terus mengupayakan adanya penambahan daya baru, Sebab, kebutuhan listrik ini akan terus bertambah. Lihat saja pertumbuhan pembangunan properti kian marak di beberapa ruas jalan baru. Dan, semua itu membutuhkan penerangan listrik. Ketergantungan orang terhadap listrik nyaris sama dengan kebutuhan akan barang primer lainnya. Jika tidak terpenuhi secara siginifikan, saya khawatir pada periode yang sama tahun depan, krisis dan pemadaman serupa akan terulang lagi. Jadi, jika tidak ada penambahan daya yang dominan, kita akan terus memutar ‘film pemadaman; yang sama.
Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Papua Menatap Indonesia.

Judul :Dari Papua Meneropong Indonesia
Penulis : Ans Gregory da Iry
Penerbit : Grasindho
Tebal : 189 halaman
Tahun terbit : 2009

Selama ini, kita, Indonesia, melihat daerah-daerah dalam bingkai sentralistik. Daerah-daerah dipandang dan diperlakukan dalam format yang sama, meski ratusan tahun silam kita sudah kenal istilah bhinneka tunggal ika (bercerai-berai tetap satu). Akibatnya, aneka ragam aspek sosiokultural yang dimiliki daerah-daerah tidak connect (terkait) benar dengan pandangan sentralistik yang ada maupun perencanaan pembangunan yang ditawarkan. Pembangunan Indonesia selalu dikemas dalam sebuah grand design (rencana besar) yang sebenarnya tidak tepat untuk daerah-daerah tertentu. Tidak semua daerah dapat mengadopsi design yang ditawarkan pusat. Di sinilah letak permasalahannya.
‘’Dari Papua Menerepong Indonesia’’, judul buku Ans Gregory da Iry ini, mencoba membalik pandangan yang sudah sangat kronis itu. Membalik pandangan tentang Indonesia yang selama ini selalu disorot dan diteropong dari pusat. Sebenarnya judul ini menawarkan ironi kepada kita. Bagaimana Indonesia memahami Papua dan daerah-daerah dalam konteks dan format keindonesiaan yang utuh berdasarkan karakteristik dan keberagaman masing-masing daerah. Bukan melihat daerah-daerah di Indonesia dalam keseragaman pandangan orang-orang pusat.
Dua puluh enam tulisan yang terangkum di dalam buku ini merupakan percikan pemikiran Ans yang pernah dimuat di berbagai media, antara lain; Timika Pos, Radar Timika,dan Mingguan DIAN, dalam rentang waktu antara tahun 2000-2006. Naskah-naskah ini kemudian diklasifikasi menjadi empat bab yakni,I. Politik, Keamanan, Perdamaian, dan Hak Asasi Manusia, II. Hukum, Keadilan, dan Adat Istiadat. III. Perempuan, Persamaan Gender, dan Perceraian, dan IV. Sosial dan Pendidikan.
Berbicara masalah politik, keamanan, perdamaian, dan hak asasi manusia, Papua dapat menjadi laboratorium hidup untuk menguji hipotesis mengenai aspek-aspek ini. Soal politik kita sama-sama maklum, tidak pernah berujung, dengan keinginan sebagian kecil masyarakat adat Papua yang hendak merdeka, lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peringatan Hari OPM pada setiap bulan Desember selalu diikuti oleh keprihatinan, saat bendera Bintang Kejora dikibarkan. Penyerangan terhadap karyawan Freeport dalam perjalanan antara Tembagapura dan Mimika, selalu dikait-kaitkan dengan kelompok Oerganisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin Kelly Kwalik (meninggal Desember 2009) selalu mengindikasikan gangguan keamanan yang tak pernah berakhir di ujung timur Indonesia itu.
Persoalan hak asasi manusia di Papua, pun termasuk aspek yang saling berhubungan dengan masalah politik, keamanan,dan perdamaian. Ada adagium yang hidup di Papua saat ini, mereka menjadi kelompok masyarakat kelas kedua di tanahnya sendiri. Jika mereka berjualan, maka akan ditemukan di emper-emper toko, sementara para pendatang menempati lods-lods toko dan mall. Ini pemandangan yang miris di Tanah Papua. Padahal, dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia rumusan PBB yang terdiri atas 30 pasal itu, pada pasal 3 berbunyi setiap orang mempunyai hak untuk hidup, kemerdekaan, dan keamanan dirinya. Apakah orang Papua sudah memiliki ini?
Persoalan hukum, keadilan sama, dan adat istiadat pun sama problematiknya. Menerapkan hukum saat ini, sama susahnya dengan tidak menerapkan hukum. Bagaikan buah simalakamma. Seorang warga Papua yang ditahan polisi karena melakukan tindakan kriminal, akan menimbulkan masalah hukum baru ketika sejumlah kerabatnya datang berunjukrasa ke kantor polisi dan melakukan pengrusakan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Papua, tetapi di seluruh Indonesia pasca reformasi ini.
Inilah yang membuat Indonesia belum benar-benar menjadi negara hukum, ditambah lagi dengan jual-belI hukum di tingkat atas/pusat yang kian marak akhir-akhir ini. Menurut Prof.Dr.Achmad Ali, S.H., M.H., Indonesia baru menuju menjadi negara hukum.
Papua memiliki hukum adat yang dijaga ketat. Aspek ini merupakan kearifan lokal yang perlu menjadi bahan pemikiran kita semua dalam menempatkan Papua sebagai bagian dari NKRI dengan sifat khasnya. Adat ini hidup dalam posisi Papua, khususnya Kabupaten Mamiki yang menjadi sentral tulisan Ans ini, berada dalam keroyokan berbagai suku/etnis yang sangat jamak. Menurut Ans, sedikitnya ada 16.000 orang dari berbagai macam suku bangsa di dunia bekerja di proyek pertambangan PT Freeport Indonesia. Maka, seorang bupati harus mampu menempatkan diri sebagai pemimpin dari orang-orang yang beranekaragam itu dan mendayagunakan potensinya.
Persoalan yang paling krusial di Papua adalah masalah perempuan. Perempuan Papua adalah pekerja keras, tetapi mereka sering masih diperlakukan secara diskriminatif oleh pihak pria. Ini berakibat perempuan Papua sering mengalami apa yang disebut dengan domestic violence (kekerasan rumah tangga) dari pihak suami. Bersama Prof.Dr.WIM Poli, Dr.Sitti Bulkis, saya pernah melakukan penelitian mengenai Perempuan Papua, yang kemudian melahirkan buku Derita, Karya, dan Harapan Perempuan Papua (Penerbit Identitas Unhas, Makassar, Desember 2008). Kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga sering terjadi, tanpa penyelesaian yang memuaskan, terutama karena keluarga merasa aib jika kekerasan diketahui umum.
Soal jender pun merupakan masalah yang menarik dikaji di Tanah Papua. Gelar pendidikan tinggi yang diraih seorang perempuan Papua ternyata belum menjadi jaminan bagi dia untuk tidak memperoleh perlakuan dan tekanan psikologis dari sang suaminya. Seorang perempuan Papua lulusan doktor dari Australia dan merupakan sosok pertama kaumnya yang meraih gelar akademik setinggi itu di Papua, kerap mendapat perlakuan yang sangat menyakitkan dari sang suami yang notabene karyawan salah satu perusahaan tambang ternama. Tak tahan didera beban psikologis seperti itu, perempuan yang kini menjadi dosen di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura tersebut memilih hidup sendiri.
Masalah pendidikan di Papua sebenarnya mulai memudar ketika Indonesia mengambilalih kekuasan di Tanah Papua, setelah masa penentuan nasib sendiri melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Pendidikan di Papua mengadopsi sistem pendidikan Belanda yang disiplin dan keras. Saya pernah mengunjungi dua lokasi, sekolah Perempuan di atas salah satu bukit di Kecamatan Nimboran dan sekolah Pria di Yoka yang dua-duanya kini tinggal kenangan. Sekolah perempuan tinggal bekas tembok tua yang sudah tertutup hutan, sementara Sekolah Pria Yoka tinggal gedung yang sudah berubah fungsi dan jadi saksi bisu kejayaan masa lalunya. Di salah satu aula yang pernah dijadikan ruang makan siswa, hingga akhir 1964, kini sudah berubah menjadi satu lapangan badminton.
Banyak orang Papua yang kini sudah jadi pemimpin, lahir dari sekolah ini. Khususnya di Yoka, disiplin siswa ditegakkan. Makan dan tidur harus dikomando dan ada tata tertibnya. Termasuk mandi dan nyemplung ke pinggir danau Sentani yang dijadikan tempat mandi siswa saban pagi.
Inilah sisi-sisi yang hilang dan digugat kembali oleh Ans Geogory da Iry di dalam bukunya yang dikemas dengan gaya tulisan esei. Buku ini tidak menjemukan dibaca, karena Ans tahu betul bahwa gaya penulisan esei jurnalistik selalu cenderung mampu mencegah kebosanan orang membaca.
Ans Gregory da Iry adalah mantan wartawan Suara Karya Jakarta. Setelah pensiun dari PT Freeport Indonesia, kini dia bermukim di Bogor. Mengisi masa tuanya, pria kelahiran NTT ini menjadui konsultan Kehumasan. Sudah banyak buku yang ditulis Ans, yang ketika menjadi wartawan Suara Karya sering mengikuti perjalanan Menteri Pertahanan M.Jusuf (alm.). Buku yang berisi kumpulan esei jurnalistik ini dapat diperoleh di berbagai took buku Gramedia.
M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Gurita Cikeas,dan Kebebasan Bertanggung Jawab

Ketika KM Tilongkabila yang saya tumpangi pergi-pulang, Makassar-Bima-Makassar (23 dan 27 Desember 2009) melintas di dekat perairan Selayar, tiba-tiba ponsel saya yang sudah beberapa belas jam tidur panjang, menjerit kecil. Sebuah SMS muncul di layar.
‘’Membongkar Gurita Cikeas. Perlu? Pesan malam ini,’’ bunyi pesan melalui layanan pendek itu dari seorang senior, guru, teman dan sahabat saya.
Saya menjawab seadanya.
‘’Wah, ternyata kemelut republik ini serumit itu. Saya berhari-hari tidak ikuti perkembangan, karena berada di ujung kampung, kini masih di perairan Selayar. Mudah-mudahan kasus ini tidak menggoyang negara’’.
Saya benar-benar tidak tahu persoalan. Dinihari, Selasa (29/12) saya mencoba bertualang di dunia maya. Masya Allah, ternyata apa yang saya bayangkan tidak seenteng itu. Sepenggal persoalan yang bersumber dari sebuah buku yang ditulis oleh tokoh kritis George Junus Aditjondro bertajuk ‘’Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’’ telah menggoyang dan mendominasi informasi terbaru media massa.
Aditjondro memang dikenal sebagai penulis buku yang membuat banyak pejabat Indonesia merah telinga. Dialah yang membongkar bisnis keluarga Cendana melalui satu bukunya yang heboh, sampai-sampai sang penulis diburu oleh penguasa rezin Orde Baru dan membuat dia berdomisili di Australia.
Karya alumni Cornel University tersebut tak ayal lagi masuk dalam daftar judul buku yang dilarang edar oleh pemerintah, cq. Kejaksaan Agung. Banyak pihak yang memperkirakan, desakan pihak Cikeas boleh jadi ikut bermain dalam proses pelarangan tersebut. Namun, salah satu online menulis, Jaksa Agung Muda Intelijen HM Amari mengatakan kepada wartawan, tidak ada pesan khusus dari Cikeas berkaitan dengan peredaran buku ini.
‘’Saya tegaskan tidak ada arahan atau desakan dari Cikeas,” kata Amari kepada wartawan di Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta, Senin (28/12/2009), seperti dikutip salah satu online.
Kata dia lagi, buku ini dipelajari Kejagung karena mendapat sorotan dari masyarakat.
“Maka kita prokatif sebagai salah satu tugas menjaga ketertiban umum,” tuturnya.
Ketika membaca frase ‘ketertiban umum’ ini, saya teringat ikon Sistem Pers Pancasila pada era Orde Baru yang selalu mendogma para wartawan dengan kalimat ‘’wartawan memiliki kebebasan yang bertanggungjawab. Dalam memberitakan sesuatu harus menjaga jangan sampai mengusik ketertiban umum’’. Singkatnya, wartawan tidak boleh memberitakan sesuatu yang dianggap dapat menimbulkan gejolak di dalam masyarakat dan mengusik ketertiban umum. Indonesia memang senang dengan diskursus yang eufimistik seperti itu yang oleh salah seorang pakar bahasa Indonesia disebut ‘’ragam bahasa Orde Baru’’.
Dalam suatu pertemuan dengan Ketua PWI Pusat Harmoko (sekitar tahun 1984 ) di Kantor Wilayah Deppen Provinsi Sulsel di Jl.Sultan Hasanuddin (Kantor KONI Sulsel sekarang, meski tidak semegah seperti sekarang), saya termasuk salah seorang yang bertanya kepada Harmoko ketika itu. Saya katakan, di mana posisi wartawan dengan kebebasan yang bertanggungjawab itu dan harus menjaga ketertiban umum jika tidak memberitakan sesuatu malah menimbulkan gejolak yang tidak diinginkan. Saya memberikan contoh, ketika terjadi pembunuhan atas diri salah seorang pejabat bupati di Sulsel, wartawan dibungkam tidak memberitakan sesuatu. Masyarakat tidak memperoleh informasi sedikit pun tentang kasus itu secara resmi, kecuali yang beredar dari mulut ke mulut. Masyarakat resah dan gelisah dengan ketiadaan informasi resmi ini. Yang terjadi kemudian, justru muncul selebaran yang berisi informasi mengenai kasus itu yang ditulis seenak perutnya oleh orang-orang yang tidak jelas identitasnya.
‘’Ini bentuk wartawan harus menghormati kebebasan yang bertanggungjawab dengan tidak memberitakan suatu kejadian atau peristiwa yang dianggap dapat mengganggu ketertiban umum. Tidak diberitakan malah terjadi kegoncangan informasi di masyarakat. Bagaimana persoalannya kalau seperti ini?,’’ tanya saya waktu itu.
Harmoko mencoba menghibur saya dengan berkisah tentang kebebasan pers di dunia Barat, yang juga sudah saya lumat habis. Saya terima penjelasan panjang lebarnya meski tidak puas.
Pada tahun 1988, ketika baru saja Harmoko diangkat sebagai Menteri Penerangan dan membreidel tiga media di Jakarta lantaran memberitakan sesuatu yang dianggap membuat merah telinga pejabat Orde Baru, dalam suatu Lokakarya Wartawan di Cipayung Bogor saya kembali bertanya. Pertanyaan yang sama dengan Harmoko, saya alamatkan kepada R.H.Siregar, yang ketika itu menempati posisi Bidang Hukum PWI Pusat.
Singkatnya, dia tidak dapat memberikan jawaban yang pas, meski pasal-pasal tentang Kode Etik Jurnalistik dia dia lumat habis.
‘’Susah juga menjawab pertanyaan Saudara,’’ Siregar yang sudah almarhum itu menambahkan.
‘’Sebenarnya, saya hanya ingin mendapat jawaban pembanding saja. Pertanyaan yang sama pernah saya ajukan kepada Harmoko beberapa tahun sebelumnya. Tetapi saya tidak memperoleh jawaban yang pas dan memuaskan,’’ imbuh saya.
Pada masa Orde Baru pun banyak buku yang terkena embargo seperti itu. Yang pasti seluruh buku karangan Pramudya Anantatoer tak satu pun yang dibiarkan beredar di pasaran Indonesia. Buku mendiang sastrawan besar Indonesia itu malah terbit dan beredar di luar negeri. Malah, lebih banyak dialihbahasakan oleh Negara-negara lain. Sekarang, muncul lagi pelarangan seperti itu. Terasa ada nuansa masa lalu hadir lagi dalam kehidupan di kekinian kita. Mengapa tidak menerbitkan buku tandingan saja, seperti ketika Sintong Panjaditan dan Prabowo Sugianto terlibat saling polemik, kemudian berakhir dengan sendirinya setelah Prabowo menerbitan ‘’buku tandingan’’. Orang bisa membaca versi itu dari dua sisi.
Buku Adjitjondro ini pun bisa dijadikan contoh untuk menerbitkan buku tandingan. Yang penting, datanya dapat dipertanggunghawabkan. Nanti masyarakatlah yang akan menilai, mana yang benar dan salah. Semakin dilarang, biasanya rasa penasaran masyarakat itu kian besar. Rasa ingin tahu publik makin tinggi.
Buku karangan penulis Indonesia juga banyak yang dilarang sekarang. Misalnya Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September, dan Kudeta Soeharto, karangan Jhon Roosa, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965,, karangan Rhoma Dwi Arya Yuliantri dan Muhiddin M Dahlan, Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah, dan Kucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri, karya Cocrates Sofen Yoman, Enam Jalan Menuju Tuhan, karya Dharmawan MM, dan Mengungkap Misteri Keberagamaan Agama. Karya Syahrudin Ahmad.
Kita berharap, pelarangan buku- buku seperti ini dan juga film tentang kematian lima wartawan Australia di Balibo Timor Timur (Timor Lorosae) tahun 1975 bukan merupakan indikasi bahwa negara ini sedang berproses kembali ke iklim sebelum tahun 1998.

Oleh M.Dahlan Abubakar
Wartawan Senior Sulsel

Jumat, 01 Januari 2010

Lebaran Haji 2009

Sudah puluhan tahun saya tak berlebaran dengan keluarga di kampung halaman. Keinginan bersama keluarga merayakan hari lebaran bukan tidak pernah muncul, tetapi soal waktu jua yang menentukan. Dan, yang terpenting, adalah jadwal perjalanan kapal Pelni ke kampung, satu-satunya angkutan massal yang dapat saya pakai dengan biaya murah. Kalau saya sendiri, tidak ada persoalan. Gampang. Tinggal angkat koper. Tetapi, saya ingin berlebaran di kampung halaman lengkap dengan keluarga. Istri, anak, dan cucu ikut. Biar semarak.
Pada Lebaran Haji tahun 2009, saya sedikit beruntung. Seminggu sebelum lebaran, putri kedua saya mengakhiri masa lajangnya, dipersunting keluarga dari pihak istri. Lantaran acara bertepatan dengan kapal naik dok, sehingga keluarga yang hadir hanya ayah dan ibu, berikut tiga saudara saya serta sepupu – Abdul Karim H.Yasin -- yang tinggal di Denpasar Bali dan istri adik yang kebetulan baru saja berkunjung ke Jakarta. Dari keluarga yang lain, hadir juga Hj Hadidjah H.M.Saleh dan saudaranya Drs.Ibrahim H.M.Saleh, Kepala SMA Negeri 1 Belopa berserta istri dan anak-anaknya.
Dua hari setelah pesta di gedung IMMIM Makassar, pasangan pengantin baru harus mengikuti pesta di Tanete, Bulukumba, 187 km dari Makassar. Ibu, Sri Suharni, dan Muslim, menyertai saya, istri dan cucu ke Tanete. Ayah yang tangannya luka akibat kecelakaan dalam perjalanan darat Mataram-Bima, memutuskan tinggal di rumah bersama adik Nurhayati. Kami hanya menggunakan tiga kendaraan kecil. Sebuah mobil Avanza, Mitsubishi Grandia, dan Kijang LGX saya.
Karim lebih dulu kembali pada hari Sabtu, 21 November, langsung ke Denpasar. Muslim, Hadidjah, dan Raehana memutuskan pulang lebih dulu ke Bima tanggal 24 November 2009 melalui pesawat ke Mataram. Nurhayati dan Itja juga pada hari yang sama terbang ke Palu. Rombongan dari Bima yang tinggal hanyalah ayah, ibu, dan adik Sri Suharni, yang menunggu kapal Pelni selesai menjalani dok.
Ayah, ibu, dan Sri Suharni merayakan Lebaran Haji di Antang Makassar. Inilah pertama kali dalam hamper 30 tahun saya merayakan hari besar Islam itu bersama kedua orang tua. Kami menunaikan ibadah salat ied di Masjid Amirul Mukminin Kompleks Perumahan Unhas Bangkala.
Di rumah, kami saling bersalaman, meminta maaf. Inilah untuk pertama kali selama tiga dasawarsa, saya merangkul ayah dengan perasaan bahagia. Begitu pun dengan ibu. Terdengar desah haru napas ayah saat tangannya merangkul tubuh saya, anak sulungnya. Istri, anak, dan cucu pun, tak luput dirangkulnya.
Tanggal 28 November 2009, pengantin baru harus diantar ke Bulukumba. Mereka akan memulai hidup baru. Berpisah dengan kedua orang tuanya di Makassar. Ayah, ikut mengantar cucunya, sekaligus merasakan udara Tanete yang sejuk. Heri mengemudikan mobil Kijang LGX hitam yang kami beli tahun 2008 dengan harga Rp 139 juta.Ibu dan Sri tidak ikut.
Kunjungan ayah ke Tanete ternyata ada manfaatnya. Selain dapat berkenalan dengan keluarga di sana, juga sempat berkenalan dengan situasi dan iklim daerah yang cocok untuk tanaman buah-buahan. Udara yang sama dinginnya dengan di kampung saya saat musim kemarau. Hanya saja di Tanete, tanahnya basah terus sepanjang tahun.
Ayah juga sempat berkenalan dengan penjual bibit tanaman durian dalam suatu kunjungan yang tidak terjadwal. Ayah memperoleh hadiah lima pohon bibit durian Montong. Tiga pohon bibit Manggis diperoleh dari Pak Amiruddin Umar, ayah Briptu Achmad Amiruddin, suami Haryati, putriku. Bibit-bibit itu belum sempat ditanam, karena kesibukan ayah menjelang pernikahan adik saya yang bungsu, Farida, 25 Desember 2009.
Ayah kembali ke Bima 9 Desember 2009 bersama ibu dan Sri, menggunakan KM Tilongkabila. Heri mengantar kakek-neneknya, setelah menurunkan saya di kampus. Hari itu bersamaan dengan demo besar-besaran anti korupsi di seluruh Indonesia. Demo di Makassar yang terjadi di beberapa titik, ternyata kemudian bersifat anarkis. Tentu saja, mendapat sorotan khusus dari media elektronik dan diketahui publik di seluruh tanah air.

Profil Singkat Saya

Ketika kecil, jangankan bercita-cita menjadi wartawan, kata ‘wartawan’ saja tidak pernah saya dengar. Hanya saja, sejak kecil saya sudah senang mendengar radio. Memasuki masa pendidikan SMP, radio yang saya dengar lebih berkembang lagi. Tidak lagi hanya RRI Nusantara 4 Makassar yang sudah jadi langganan saya, tetapi Radio Australia yang dipancarkan dari Melbourne. Tangkapan sinyal radio luar negeri di kampungnya, di Bima, kampungnya, sangat kencang dan suaranya cukup jelas. Padahal, radio penerima yang saya miliki hanyalah merek Ralin, produksi dalam negeri, Bandung. Radio merek ini dibagikan dan dibayar dengan cara mencicil kepada para guru di seluruh kabupaten. Kebetulan ayah saya seorang guru sekolah dasar.
Saya yang dilahirkan di Bima, 12 Januari 1952 (semestinya 2 Oktober 1953) malah bercita-cita konyol mau menjadi penyiar radio asing. Padahal, modal apa yang saya miliki. Kata bahasa Inggris yang saya tahu, hanya yes dan no. Rasa ingin menjadi penyiar radio itu mungkin dipengaruhi keasyikan saya mengikuti kedua siaran radio tersebut.
Kemajuan cita-cita saya berubah lagi ketika dia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri Bima di Raba tahun 1969. Suatu hari, di kampung saya ada pertandingan olahraga perayaan Hari Ulang Tahun Proklamasi. Saya pun mencoba meliput kegiatan itu tanpa pengetahuan jurnalistik sama sekali. Tidak ada juga yang menyuruh, termasuk cara menulis berita dengan rumus 5W+H yang saya ketahui puluhan tahun kemudian. Cara menyusun berita pun mengikuti gaya yang saya dengar di RRI Nusantara 4 Makassar.
Berita yang disusun itu pun saya antar sendiri ke Radio Pemerintah Daerah (Rapemda) Bima di Raba. Sejak mengantar berita tersebut, saban malam selama seminggu, saya ke studio Rapemda yang terletak di dekat rumah jabatan Bupati Bima. Tentu saja, menunggui berita yang saya kirim disiarkan. Jelas, tidak pernah diberitakan, karena dibuat oleh individu dan bukan oleh Humas instansi. Waktu itu, mungkin seharusnya juru penerang kecamatan yang melaporkan kegiatan seperti ini. Tetapi, mana ada juru penerang seperti itu di kecamatan nun jauh di pelosok desa.
Kisah pengiriman berita ke Rapemda hilang ditelan waktu. Kesenangan menulis saya lampiaskan saja di buku catatan harian yang tidak pernah sempurna. Cerita pendek sering saya buat, juga buntu karena tanpa media penyaluran sama sekali. Suratkabar yang beredar di Bima kebanyakan dari Jakarta. Yang sering saya baca di sebuah toko di persimpangan tiga di Kota Bima hanyalah surat kabar Abadi.
Tanggal 8 November 1971 malam dia meninggalkan kampung halamannya, Bima, untuk melanjutkan pendidikan ke Ujungpandang. Seminggu kemudian, 15 November tepatnya, saya ‘’terdampar’’ bersama perahu Phinisi Bugis Masalihul Ahyar di antara Pulau Laelae dengan Bioskop Benteng (dulu) di tengah guyuran hujan lebat. Dari kampung saya bercita-cita masuk ke Akademi Pajak Indonesia (API) Makassar, tetapi akhirnya banting stir ke Fakultas Sastra Unhas. Alasannya, menghindar dari pelajaran berbau matematika.

Seorang Diri

Di Fakultas Sastra-lah saya berkenalan dengan dunia tulis menulis secara serius dan intens. Tercatat, Drs.Ishak Ngeljaratan, M.A. termasuk salah seorang guru saya. Beliaulah yang mengajarkan cara menulis esei dalam kuliah tatap muka seorang diri selama beberapa bulan. Untuk menyalurkan kesenangan menulis yang lain, saya berguru kepada M.Anwar Ibrahim (alm.), yang waktu itu baru saja dibebaskan dari penjara, karena kasus Angkatan Muda Sulawesi (AMS). Anwar Ibrahim pernah menjadi wartawan di Makassar sebelum dijebloskan ke tahanan.
Almarhum pulalah yang merekomendasikan saya mengikuti Pendidikan Jurnalistik I Unhas, November 1975. Lepas dari pendidikan ini, saya bergabung dengan Penerbitan Khusus identitas yang hingga kini masih saya pimpin dalam kapasitas sebagai Ketua Penyunting.
Sambil menjadi reporter identitas, saya juga mulai menulis di harian Pedoman Rakyat untuk rubrik Kampus Mahasiswa. Pada saat itulah saya berkenalan dengan M.Fahmy Myala, yang sudah menjadi Koresponden Harian Kompas di Ujungpandang. Terkadang selagi di boncengan sepeda motor Vespa Fahmy, saya sering mengajukan keinginannya menjadi wartawan di koran umum.
‘’Kak Fahmy, bagaimana caranya menjadi wartawan di koran umum,’’ kata saya suatu saat ketika Vespa yang ditumpangi bersama Fahmy melintas di Jl.Mongisidi.
‘’Oh, nanti saya perkenalkan dengan seorang teman. Namanya, Rosadi Sani. Dia bekerja di Pedoman Rakyat,’’ jawab Fahmy yang ternyata pada hari itu, langsung memperkenalkan saya dengan pria kelahiran Banjar tersebut.
Kami menuju bagian samping kantor ‘’PR’’ di Jl.A.Mappanyukki, tepatnya di kamar lay out. Rosadi sedang berkutat merampungkan halaman lampiran ‘’PR’’ siang hari itu.
‘’Pak Rosadi, ini saya bawa seorang anak muda yang mau jadi wartawan,’’ kata Fahmy.
Saya pun langsung berkenalan dengan Rosadi. Pengasuh rubrik ini kemudian bertanya mengenai track record saya. Setelah puas, dia pun mulai memberi tugas.
‘’Begini saja, kamu meliput kegiatan mahasiswa dan perguruan tinggi dulu. Nanti baru ke bidang-bidang lain,’’ katanya pendek.
Keesokan harinya, menggunakan sepeda ‘pagandeng’ kiriman orang tua dari kampung, saya pun mulai merambah jalanan kota. Mendatangi beberapa kampus perguruan tinggi untuk mewawancarai pimpinan perguruan tinggi atau meliput kalau ada kegiatan di kampus itu. Yang masih saya ingat betul, datang meliput di Kampus IKIP di Jl.Sultan Hasanuddin, yang kini ditempati Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Makassar.
Hanya selang setahun, mungkin karena prestasi dan bakat jurnalistik sudah tampak ada kemajuan, saya mulai dilepas mengikuti kunjungan pejabat ke daerah. Yang masih saya ingat, kunjungan pertamanya adalah ke beberapa daerah di bagian selatan Sulsel. Mulai dari Kabupaten Gowa hingga Bulukumba. Agendanya waktu itu adalah meliput hasil-hasil pembangunan bersama staf Kanwil Depatemen Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada tahun 1976, selain tercatat sebagai koresponden ‘’PR’’, saya juga menjadi staf di identitas dan juga Koresponden Suara Karya Jakarta. Pada tahun 1980, saya diangkat sebagai pegawai negeri di Unhas dengan pos di Hubungan Masyarakat. Meski jadi PNS, pekerjaan wartawan tidak pernah saya tinggalkan. Saya jadikan Unhas sebagai pos tugas. M.Basir, Pemimpin Redaksi ‘’PR’’ sering mengatakan, hanya orang kentut saja yang tak pernah diberitakan di Unhas. Ini terjadi pada masa Unhas dipimpin Prof.Dr.A.Amiruddin. Tetapi harus diakui, Unhas waktu itu memang tambang berita.
Pada tahun itu, ada pengalaman menarik. Saya ikut lomba karya tulis ‘Hemat Energi’ yang dilaksanakan Departemen Pertambangan dan Energi Sulsel. Saya tak tahu siapa jurinya. Tetapi, ketika diumumkan, ternyata pemenang I, II, dan III semua dari Penerbitan Kampus Identitas. Saya juara I, Aidir Amin Daud juara II, dan SM Noor, juara III.
Pada tahun 1981, ada pengalaman saya yang menarik. Awal tahun itu, saya masuk rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Tiba-tiba saja di rumah sakit tersebut ada keluarga pasien ‘mengamuk’. Saya tahu itu. Saya bangun dari kamar perawatan. Menengok apa yang terjadi. Bertanya kepada beberapa orang saksi mata.
Kembali ke kamar perawatan, saya bukannya terbaring lagi di tempat tidurnya, melainkan mengambil kertas. Menulis tangan di atas kertas peristiwa ‘mengamuk’-nya keluarga pasien. Atas bantuan seorang adik yang rajin membesuk saya, berita tersebut dilayangkan ke kantor redaksi. Saya pun kembali tidur pulas.
Pagi-pagi keesokan harinya, rumah sakit geger. Pasalnya, berita ‘mengamuk’-nya keluarga pasien masuk koran. Perbuatan siapa gerangan yang meloloskan informasi itu ke media. Tudingan memang sempat dilayangkan ke saya yang sedang dirawat. Tetapi istri saya membantah keras. Bagaimana mungkin orang sedang dirawat membuat berita. Istri saya memang tidak tahu kalau ada berita saya ‘selundupkan’ ke redaksi.
Usai dirawat, saya kembali ke rumah kontrakannya di Jl. Kandea II. Baru beberapa hari istirahat, suatu pagi saya muncul di kantor. Wakil Penanggungjawab Heny Katili (almarhum) kaget melihat saya muncul.
‘’Pak, saya mau ke Bone!,’’ kata saya pelan.
‘’Eee.. kau mau mati? Kau kan masih harus istirahat. Kau masih belum pulih. Kau belum sehat. Kau masih perlu istirahat dulu beberapa hari. Lihat mukamu pucat sekali,’’ kata almarhum serius.
‘’Tidak, Pak. Saya sudah agak kuat. Saya juga tidak sampai ke Bone. Hanya sampai di Desa Padaelo. Saya ingin melihat desa tempat Kaseng ditangkap massa,’’ kata Dahlan.
Saya mau ke desa di KM 79 Makassar-Bone itu, karena pada malam harinya mendengar berita RRI Makassar bahwa Kaseng, pembunuh Bupati Bone PB Harahap pada tahun 1979 ditangkap penduduk setempat. Saya ingin mengetahui kronologis dan kisah penangkapan lelaki tua itu.
Pak Henny akhirnya mengizinkan saya berangkat. Setelah dibekali uang secukupnya, mengenakan jaket PR warna coklat, saya meluncur menuju Terminal Panaikang. Lantaran hari sudah meninggi, mobil ke Camba dan Bone sudah pada berangkat. Saya nyaris putus asa. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa membawa saya ke daerah tujuan. .
Apa boleh buat, saya estafet. Dari Terminal Panaikang saya naik mobil yang ke Maros. Dari Maros mencari mobil yang ke Camba. Dapat juga. Repotnya, tidak ada mobil ke Bone yang mau berhenti, ketika saya mencoba menahannya di Camba. Mungkin penumpang penuh.
Kebetulan di Camba baru saja selesai upacara. Banyak anggota Hansip/Wanra yang berdiri di pinggir jalan. Rupanya mereka juga menunggu kendaraan tumpangan yang ke arah Desa Padaelo. Tapi, mereka tidak menunggu bus penumpang. Truk saja yang lewat mereka tahan.
Tiba-tiba berhenti sebuah truk milik PU, warna kuning. Mereka berlomba memanjati truk yang penuh dengan aspal tersebut. Saya tak mau ketinggalan. Ikut memanjat. Sepanjang perjalanan saya duduk di atas pembatas bak dengan kepala truk. Mengenakan jaket mirip warna pakaian Hansip, cokelat, telinga saya merah juga oleh teriak anak-anak SD tersebut. Dia kuat-kuatkan saja mentalnya. Tokh tidak ada yang tahu dia nebeng truk PU bersama Hansip/wanra.
’’Ya, Hansip, tentara sikola (cokelat), tidak ada gajinya. Tidak membayar!!!!,’’ teriak anak-anak itu.
Di Padaelo, saya bertamu ke kepala desa. Ramah sekali orangnya. Dia dengan tabah dan rendah hati mengantar mantan wartawan ‘’PR’’ ini bertemu dengan warga yang pertama bertemu dengan Kaseng. Termasuk warga yang mencuri parang panjang Kaseng di sebuah pos ronda di sebelah kiri jalan, tak jauh dari perbatasan Maros-Bone.
Malam harinya, saya sudah merapat kembali di Kantor Redaksi Jl.Mappanyukki. Di tempat singgah kendaraan, di sekitar Bantimurung (menjelang pendakian), saya bertemu dengan Bachtiar Amran, wartawan Kompas yang sebelumnya pernah di ‘’PR’’. Tiar, panggilan akrabnya, ternyata baru saja kembali dari Watampone. Sama, memburu informasi mengenai ditemukannya pembunuh PB Harahap.
‘’Saya tidak dapat informasi yang berarti, karena sulit bertemu langsung dengan Kaseng,’’ kata Tiar seolah kecewa dengan lawatannya ke Bone.
‘’Kalau Kak Dahlan dapat apa dari Padaelo?,’’ Tiar balik tanya.
‘’Saya juga tidak dapat informasi berarti dari sana. Saya Cuma foto pos ronda, tempat kaseng pernah singgah,’’ saya menyembunyikan informasi yang diperolehnya.
Di kantor, saya mencetak foto pos ronda. Untuk memudahkan orang menandai lokasi penangkapan Kaseng, saya menggambar denah lokasi secara sederhana. Kisahnya, dipapar dengan sangat runtut dan dengan bahasa yang sangat sederhana. Seolah, pembaca ikut hadir di Desa Padaelo.
Siang hari, setelah beberapa hari berita itu dimuat di halaman 1 ‘’PR’’, saya untuk kesekian kalinya muncul siang di kantor. Bersama beberapa orang teman wartawan saya ngobrol di depan pintu kantor redaksi di Jl.Mappanyukki. Agendanya, sekitar perjalanannya ke Desa Padaelo. Saya bersandar di pinggir pintu. Tiba-tiba bahu kanan saya, ditepuk seseorang. Saya balik kanan. Mulut saya hampir saja menyebut suatu kalimat, ketika mata saya lebih cepat tertumbuk pada sosok seorang yang sangat saya kagumi dan seganinya. L.E.Manuhua (almarhum).
‘’ Kamu membuat reportase terbaik kali ini,’’ katanya pendek, kemudian menuju sedan Torana DD 29 E warna hijau yang dikemudikannya sendiri.
Saya hanya ‘’menjawabnya’’ dengan kebanggaan nurani. Sebab, apa yang dilakukannya adalah wajar-wajar saja sebagai wartawan.
Saya memang ditakdirkan memiliki naluri jurnalistik tinggi. Pernah saya mengemudikan mobil sendiri, memboyong istri dan dua temannya pada tahun 1999 ke kaki Gunung Perak, Sinjai Barat lewat Malino dan Tombolo. Jaraknya sih tidak seberapa, tetapi jalan ke sana lumayan juga jeleknya. Apa yang saya mau cari di kaki bukit yang nyaris sama tingginya dengan Gunung Bawakaraeng itu? Saya membaca di koran di kaki gunung itu ada seorang haji sudah berusia lanjut dan tuna netra, secara nasional terpilih sebagai penyelamat lingkungan. Saya mewawancarai tokoh tersebut selama beberapa jam. Saya kemudian kembali ke Makassar melalui Kota Sinjai, memotong kawasan Caming ke arah Camba dan tiba di Makassar menjelang tengah malam.

Kembalikan Uang, Dimarahi

Pada tahun 1982, merupakan pengalaman pertama saya ke luar negeri. Pemimpin Umum ‘’PR’’ L.E.Manuhua, menugaskan saya meliput Asian Games IX di New Delhi, India. Ketika pulang meliput, saya mengembalikan sejumlah uang sisa anggaran peliputan yang tidak terpakai.
‘’Kamu bodoh sekali. Mengapa bawa kembali uang dari luar negeri. Pakai saja, asal ada laporan pertanggungjawabannya, ’’ kata Pak Manuhua almarhum, saat menerima kembali uang sekitar Rp 600 ribu di ruang kerjanya.
Pada tahun 1983, terjadi gempa bumi di Mamuju. Keesokan harinya, Gubernur A.Amiruddin meninjau lokasi gempa di Mamuju. Wartawan ‘’PR’’ tidak sempat ikut, ketinggalan rombongan Gubernur yang berangkat sangat pagi. M.Basir memanggil saya.
‘’Sekarang juga kau ke Mamuju,’’ perintah M.Basir.
Dalam pikiran sulung dari 10 bersaudara ini sempat muncul tanya. Pakai apa ke sana? Rombongan sudah berangkat. Tapi pertanyaan bodoh kalau kalimat itu disampaikan ke Pak Basir. Paling-paling Pak Basir bilang, ‘’apa kau mau jalan kaki?’’.
Apa boleh buat, namanya perintah tidak boleh ditolak. Sama dengan tentara harus siap menaati perintah komandan. Bekerja di media massa tidak boleh ada kompromi dan tawar menawar dalam hal meliput. Kalau ada kompromi, sistem manajemen redaksi akan berantakan. Saya naik bus sore. Tiba di Majene sudah lewat tengah malam. Perjalanan dilanjutkan ke Mamuju setelah istirahat beberapa jam di Majene. Siang keesokan harinya, bus yang saya tumpangi berpapasan dengan rombongan Gubernur Amiruddin yang kembali ke Ujungpandang. Saya berpikir, biarlah jalan sendiri. Beruntung, Bupati Mamuju Atik Sutedja (almarhum) sudah cukup akrab dengan saya, karena pernah meliput beberapa kali kegiatannya sebelum gempa.
Pada awal tahun 80-an, saya nyaris dipecat di PR. Pasalnya, masalah gara-gara sebuah tulisan. Features itu, menurut saya, sangat menarik dan langka. Suatu malam, saya memperoleh informasi bahwa ada anak yang tertukar selama 12 tahun di Sungguminasa (baca juga tulisan di blog ini). Kedua anak yang tertukar itu sudah kembali ke pangkuan ibu kandungnya masing-masing. Tapi saya tidak puas dengan berita kembalinya kedua anak tersebut ke keluarga aslinya. Saya mau mengetahui bagaimana kisah dan proses ‘’repatriasi’’ kedua anak itu ke orangtuanya masing-masing.
Menunggang sepeda motor Yamaha merah tahun 70-an, saya mengajak istri ke Sungguminasa. Wawancara dilakukan di berbagai tempat malam hari. Hasilnya luar biasa. Saya kembali ke rumahnya dan langsung menulis hasil liputannya dalam bentuk features. Keesokan harinya, naskah tersebut disetor ke redaksi, yakni Pak Henny Katili. Soalnya, hanya ’’PR’’ yang tahu informasi itu. Jadi Dahlan tak perlu khawatir dilombai media lain.
Almarhum ini melihat tulisan ini agak langka, kemudian menyerahkannya ke Pak Basir (alm.). Naskah tersebut beliau perlu dilihat pemimpin redaksi. Mungkin ada tambahan atau perlu disunting lagi, biar kian menarik.
Setelah berhari-hari, saya terus menunggu naskah itu dimuat, tetapi tak kunjung termuat juga. Suatu malam, ketika ronda di redaksi, saya iseng-iseng ’membongkar’ tumpukan naskah di meja almarhum Pak Basir, sekadar mengetahui apakah naskah tersebut tiba di mejanya atau tidak. Ternyata benar. Naskah tersebut terselip di antara naskah-naskah lainnya. Saya yakin, naskah itu sudah beliau baca. Yang dia tidak mengerti, mengapa tidak dimuat. Saya juga tidak pernah dipanggil sekadar untuk diberitahu nasib naskah features yang saya buat.
Setelah mengetahui PR tidak memuat naskah tersebut, saya memutuskan melayangkan naskah itu ke Harian Suara Karya Jakarta. Kebetulan juga saya masih tercatat sebagai koresponden media Golkar itu di Sulsel. Di luar dugaan, media yang dikendalikan partai berlambang pohon beringin ini, memuatnya di halaman depan pada kesempatan pertama. Tentu saja, sangat menghebohkan. Dan, saya yakin, Pak Henny Katili akan membaca naskah itu, karena di atas mejanya selalu ada koran Jakarta tersebut.
Tiba saatnya rapat redaksi tiap tanggal 25. Rapat ini berujung dengan para wartawan dan karyawan menerima gaji. Salah satu agenda rapat yang sangat menegangkan adalah membahas kasus tulisan features yang dimuat Suara Karya. Pak Manuhua (alm) langsung angkat bicara.
’’Secara moral, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Seorang wartawan ’PR’, tidak dibenarkan mengirim tulisan atau naskah ke media lain,’’ kata Pak Manunua tegas.
Mendengar ’serangan’ ini, saya hanya tertunduk saja. Dalam diri saya hanya terbayangkan akan didepak dari media tertua ini. Dia sudah pasrah. Paling-paling kalau dipecat, masih ada tempat nyangkut-nya di Unhas. Dia akan memfokuskan diri menjadi pegawai negeri yang rajin masuk kantor. Tidak lari-lari lagi ke luar daerah untuk meliput berbagai kegiatan dan memenuhi undangan lawatan pers. Namun, belum selesai Pak Manuhua bicara, timbul niat dan keberanian saya untuk menjelaskan duduk persoalan ’’tulisan bermasalah’’ itu.
’’Jika boleh, saya diberi kesempatan sedikit menjelaskan kasus tulisan tersebut,’’ tiba-tiba suara saya memecah keheningan, begitu tarikan napas terakhir bos berhenti berbicara. Bagaikan ada dorongan dari dalam untuk menjelaskan masalah yang menimpa diri saya.
Saya pun menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Saya katakan, meliput kejadian itu di malam hari dengan menunggang sepeda motor bersama istri dan menulis liputan hanya untuk ’PR’. Naskah disetor ke redaksi. Tetapi ternyata, mungkin pihak redaksi memiliki pertimbangan lain, sehingga memutuskan tulisan tersebut tidak layak muat di ’PR’. Saya juga tidak mendapat penjelasan atau alasan tidak dimuatnya tulisan itu.
’’Hanya saya juga heran, mengapa kita tidak memuat kasus itu yang justru terjadi di depan mata kita sendiri, sementara koran lain di Jakarta menempatkannya di halaman depan? Terima kasih,’’ saya mengakhiri komentar dengan sangat diplomatis.
Mendengar penjelasan saya, Pak Manuhua bagaikan ’berebut’ waktu langsung berbicara lagi. Saya bagaikan memperoleh ’dewa penolong’ atas ’serangan’ pertama tadi dengan penjelasan Pak Manuhua yang terakhir ini.
’’Kalau begitu permasalahannya, saya minta pihak redaksi lebih jeli melihat dan menilai suatu tulisan wartawan. Ini menjadi bahan pelajaran yang berharga ke depan,’’ Pak Manunua secara halus melakukan instrospeksi terhadap jajaran redaksi.

Protes
Pernah juga saya merasa tidak puas selama menjadi wartawan di PR, pada awal tahun 80-an. Ceritanya, ketika itu ada peristiwa tenggelamnya salah seorang mahasiswa IKIP Ujungpandang di Sungai Jeneberang. Setelah beberapa hari dicari, pada pukul 01.00 dinihari hari berikutnya, saya mendapat informasi melalui pesawat handy talky yang menginformasikan korban ditemukan. Dengan sepeda motor merah, saya meluncur ke Sungai Jeneberang. Lonceng sudah menunjukkan hari sudah berganti. Usai mewawancarai beberapa sumber, saya tancap gas kembali ke kantor.
Sungguh saya kecewa, ketika tiba di kantor, berita yang diperoleh tidak bisa lagi dimuat untuk keesokan harinya. Padahal, berita penting ini bisa ditempatkan sebagai stop press di halaman depan. Seorang karyawan bagian kamar gelap yang bertubuh gempal menolak keinginan saya untuk memuat infrormasi terbaru itu barang dua atau tiga kalimat saja di halaman depan.
Kejadian ini membuat saya kecewa sekali. Masalahnya, dia yakin berita itu masih bisa mengisi halaman depan dengan mencabut berita pendek lainnya yang sudah ada. Kalau si gemuk mau, yakin Pak Manuhua tidak akan marah lantaran keterlambatan koran terbit beberapa menit.
Di dalam perjalanan pulang, pikiran saya kalut. Saya berjanji dalam hati, kasus ini akan dibawa ke rapat redaksi setiap tanggal 25. Rapat kala itu sudah dilaksanakan di kantor Jl. Arief Rate 29. Ketika saya mengungkapkan ’jeritan hati’’ di rapat redaksi, saya mendengar Pak Manunua langsung mengambil tindakan. Si gemuk yang tidak mengerti pentingnya berita mahasiswa yang tenggelam beberapa hari akhirnya ditemukan itu, diistirahatkan beberapa saat.
’’Saya tak puas dengan sanksi yang diberikan kepada yang bersangkutan, ketimbang jika mengingat PR tidak segera memuat berita tersebut, lantaran ketidakmengertian oknum karyawan,’’ kata saya puluhan tahun kemudian.
Ayah dua anak – kini -- berikut dua cucu ini, selalu menyukai peliputan yang berkaitan dengan kemanusiaan dan bersifat petualangan. Pada tahun 1990, dia ditugaskan ke Ambon untuk mempersiapkan laporan menjelang HUT Kota Ambon yang jelak mengisi dua halaman PR. Dua hari dua malam saya hanya menulis laporan di salah satu hotel kelas melati di Kota Ambon Manise itu. Kenangan manis saya di Ambon adalah sempat bergabung dengan masyarakat setempat dalam acara ‘’makan patita’’. Di sini saya menjepret satu pemandangan yang menarik. Seekor anjing yang berdiri sejajar dengan sejumlah orang berbaris. Sepintas lalu, binatang piaraan tersebut bagai menjadi komandan barisan.
Dalam penerbangan Merpati ke Ujungpandang (waktu itu), beberapa lembar tulisan yang sudah dirampungkan di Ambon kembali dikoreksinya. Tiba di kantor redaksi hari sudah siang. Naskah pun langsung disiapkan untuk dimuat keesokan harinya. Sebab, hari berikutnya, saya harus terbang lagi ke Mataram untuk meliput Rapat Rektor Perguruan Tinggi Negeri anggota Badan Kerja Sama PTN se-Indonesia Timur.
Seminggu makan ubi

Pada tanggal 12 Desember 1992, tepat hari Sabtu, terjadi gempa bumi dan tsunami di Maumere, Flores. Saya tidak merasakan getaran gempa hebat itu di Ujungpandang, karena sedang berada di atas kendaraan bersama beberapa orang temannya menuju sebuah rumah makan. Maumere kala itu diterjang gelombang pasang. Laporan sementara menyebutkan ribuan orang menemui ajalnya. Pak Manuhua segera menelepon saya. Perintahnya, segera cari pesawat ke Flores. Saya bingung. Bagaimana mungkin mencari penerbangan ke Flores hari sudah sore.
Akhirnya, saya memutuskan lewat Bali pada hari Minggu, meski harus bermalam sehari untuk menunggu penerbangan lanjutan ke Bandara Wae Oti, Maumere, Senin pagi. Ternyata seat ke Maumere juga penuh. Frekuensi penumpang yang hendak menuju kota yang ’’babak belur’’ oleh gempa dan tsunami itu sangat tinggi. Pesawat rata-rata penuh. Untung sepupu saya di Bali punya kenalan di perusahaan penerbangan Bouraq. Akhirnya dia dapat satu seat kosong untuk saya.
Saya sempat makan pagi di Denpasar, sebelum terbang. Ternyata di Maumere situasi dan kondisinya sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Sarapan pagi di Denpasar itu, ternyata satu-satunya nasi yang masuk ke perut saya dalam beberapa hari kemudian. Saya hidup di tengah keserbakekurangan. Demi aman, saya memilih makan pisang masak, pisang rebus, ubi jalar atau singkong rebus yang banyak dijual penduduk.
Meliput di daerah gempa dengan situasi separah itu, memang pertama kali. Beberapa hari setelah di Maumere, bersama pasukan Brimob dan anggota TNI berikut sejumlah wartawan dalam dan luar negeri dia mengunjungi Pulau Babi. Pulau yang terparah disapu bersih oleh gelombang dan tsunami. Bayangkan, yang utuh hanya kubah masjid yang sudah ‘’duduk’’ di tanah. Sisa bangunan rumah panggung, kayu, dan bambunya bertumpuk luluh lantak.
Rombongan mendarat di pulau dengan bau yang sangat menyengat. Pemandu menjelaskan, agar`para wartawan menutup hidungnya masing-masing. Di bawah seng dan atap-atap rumah masih banyak mayat yang belum terevakuasi dan dikubur. Benar juga. Saya berjalan berkeliling sambil hidung ditutup rapat menggunakan sapu tangan. Tapi tak mempan. Rekan fotografer Kantor Berita Reuter di Indonesia, Sdri Eny Nuraheni juga merambah pulau yang sudah berantakan itu beriringan dengan saya. Tak terlihat, ternyata kami saling memotret saat menjepret mayat yang tertutup seng dan daun kelapa.
Hingga sore, rombongan TNI dan Polri menguburkan sedikitnya 10 mayat dalam satu lubang panjang. Saya sempat mengabdikan diri dengan latar belakang pemandangan saat mayat-mayat berjejer di lubang menjelang dikuburkan dan ditutup dengan tanah. Dua orang wartawan Jepang (Asahi Shimbun dan Yomiuri Shimbun) menolak ketika saya mengajak bergambar bersama di dekat mayat-mayat yang djejer. Mereka menggelengkan kepala ketika diajak.
Saya lapar sekali. Mencoba makan di pulau tak mungkin dengan bau yang sangat menusuk hidung. Tetapi, para anggota Brimob tak peduli. Mereka dengan lahapnya menggasak makanan yang mereka bawa di tengah bau tak sedap nan sangat tajam itu.
‘’Saya terpaksa kembali ke perahu motor dan minta makanan pada anak buah kapal motor. Itu pun susah lewat kerongkongan. Habis, bau juga sampai ke kapal,’’ saya mengenang belasan tahun kemudian.
Tak tahan sulit dan menderita mengirim berita ke kantor redaksi, setelah seminggu di Maumere, saya terbang kembali ke Ujungpandang. Pak Manuhua sempat kaget melihat saya muncul di kantor. Saya pun menjelaskan duduk persoalannya.
Namun saya tak kapok juga ke daerah gempa. Seminggu kemudian balik lagi dengan tim medis Unhas dan Sulawesi Selatan dan tinggal hampir dua minggu di Maumere dan Ende.
Suami Hj Hana Abubakar, AMK, ini mungkin satu-satunya wartawan angkatan 1977 di ‘’PR’’ yang masih aktif meliput hingga tahun 2006 lalu. Di tengah kesibukannya yang luar biasa, saya masih menyempatkan diri meliput dan membuat berita. Pertanyaan teman-teman yang selalu dialamatkan kepadanya adalah, bagaimana cara membagi waktu? Saya hanya jawab sederhana, ya sesuai peruntukannya saja. Kalau di siang hari ngantuk, tidur saja, meski di kursi sekalipun. Soal tidur, bukan lamanya, melainkan kualitasnya.
Menulis buku termasuk kesenangan saya. Selain pernah sibuk di ‘’PR’’, saya pun mengajar di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin dan menjabat Kepala Hubungan Masyarakat Unhas dan Ketua Penyunting Penerbitan Khusus identitas. Terakhir ini dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Identitas, sebuah media komunikasi yang diterbitkan Universitas Hasanuddin tepat pada usianya yang ke-50 tahun 2006. Di majalah wanita, belanja, saya juga tercatat sebagai kontributor. Kini, dia secara rutin menulis dan membuat laporan hasil wawancara di Majalah Profiles, sebuah majalah berita yang mulai terbit awal tahun 2008. Di majalah itu saya tercatat sebagai redaktur khusus kemudian menjadi pemimpin redaksi.
Sulung dari 10 bersaudara ini sudah mengunjungi sejumlah negara. Setelah mengunjungi India tahun 1982, meliput Asian Games IX, tahun 1992 ke Tanah Suci bersama PT Tiga Utama menunaikan ibadah haji. Pada tahun yang sama saya ke Thailand menghadiri Seminar Infrastruktur Asia di Bangkok bersama Radi A.Gany (saat menjadi Bupati Wajo) dan Abd. Madjid Sallatu. Pada tahun 1995 saya ke Singapura, menghadiri Ekspo Singapura-Indonesia dan juga mengunjungi Tawau Sabah, Malaysia mengikuti penerbangan perdana pesawat Merpati. Pada tahun 1994, saya mengunjungi Timor Timur bersama Keluarga Mahasiswa Penerima Beasiswa Super Semar (KM PBS) Unhas, sebelum provinsi termuda Indonesia itu berdiri sebagai negara merdeka pada tahun 1999. Banyak pengalaman menarik saya tulis dari Timor Timur.
Maret 1996 saya ke Tanah Suci lagi, menunaikan ibadah umrah. Beberapa hari sebelumnya saya pernah jalan-jalan ke Singapura bersama PT Tiga Utama pimpinan Ande Latief. Agustus masih pada tahun itu, saya ke Korea Selatan bersama kesebelasan PSM yang berhadapan dengan salah satu kesebelasan di Negeri Ginseng itu, Pohang Atom, dalam Kejuaraan Piala Winners. PSM kalah telak 0-4. Dari Korea, Oktober pada tahun itu juga, saya terbang ke Italia, meninjau pabrik marmar di negeri Menara Pisa itu bersama Ande Abdul Latief lagi.
‘’Satu kesyukuran saya, dalam kunjungan ke Italia ini sempat menonton pertandingan bola di Stadion Sansiro Milano yang selama ini hanya disaksikan melalui layar kaca. Kebetulan waktu itu Inter Milan melawan Parma,’’ saya mengenang. Hingga kini saya masih menyimpan tiket masuk menonton pertandingan bersejarah tersebut.
Saya juga sempat merasakan pergantian tahun 1996 ke 1997 di Dakka, Bangladesh. Suasananya sangat berbeda dengan di Makassar.
Tahun 2001, sebulan setelah setelah peristiwa penabrakan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York oleh dua pesawat, saya ke Xiamen China bersama Rektor Unhas Radi A.Gany dan rombongan Indonesia untuk Tionghoa (INTI) Sulawesi Selatan. Ketika habis mandi pagi di pantai bersama Drs.H.Aminuddin Ram, M.Ed, dan berjalan pulang ke dormitori (asrama mahasiswa) Xiamen University beberapa warga Xiamen berteriak.
‘’Osama..Osama..,’’ kata mereka.
Ternyata dia membaca tulisan di baju kaos yang melekat di badan saya.
‘’Bahaya juga, kalau saya pakai terus baju ini,’’ gumam saya dalam perjalanan pulang ke Dormitori Xiamen University.
Tahun 2003 mewakili wartawan Indonesia bersama 9 wartawan negara ASEAN lainnya mengunjungi Jepang atas undangan Kementerian Luar Negeri Jepang. Saya mengunjungi beberapa kota penting di Negeri Matahari Terbit itu seperti Tokyo, Nagoya, Kyoto, Hiroshima, dan Kyushu.
‘’Kita harus banyak belajar dari Jepang, terutama perihal menghargai budaya sendiri,’’ komentar saya.
Pada tahun 2004 dan 2008, dia juga meliput kegiatan Friendship Games BIMP-EAGA (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Phillipines- East ASEAN Growth Area) di Kota Kinabalu, Malaysia dan Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
Selama karier wartawannya, saya pernah memenangi setidak-tidaknya 10 kali juara I Lomba karya Tulis di Sulsel. Tidak termasuk sebagai juara I Lomba Karya Tulis Nasional Keluarga Berencana Nasional antarwartawan se-Indonesia pada tahun 1990. Hadiah pemenang I pas diserahkan pada peringatan Hari Pers Nasional di Gedung RRI Nusantara IV Makassar tahun 1990. Saya bangga juga menerima hadiah tersebut disaksikan Rektor Unhas Prof.Dr.H.Basri Hasanuddin,M.A. dan Pemimpin Umum ’PR’’ L.E.Manuhua (alm.).

Diciduk Selagi Meliput

Selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya (dulu Fakultas Sastra) Unhas, Sekretaris PWI Cabang Sulsel 1988-1992 ini juga mengajar pada beberapa perguruan tinggi swasta, seperti STIKOM (sekarang Universitas Fajar). Dulu, juga pernah mengajar di Akademi Sekretari dan Manajemen (Aksema) Atmajaya Makassar, UMI, ASMI Publik, ASMI Yapika Makassar, dan STIA LAN. Dalam organisasi, kini masih menjabat Sekretaris SIWO PWI Sulsel, Ketua/Wakil Ketua Bidang Promosi dan Media KONI Sulsel (1999-2003/2003-2007/2007-2011) serta Humas Pengda PBVSI Sulsel, Humas Pengcab PBSI Kota Makassar, Humas Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ) Sulsel periode 2007-2012. Sebelumnya, beberapa tahun pernah menjadi Pengurus PSM Makassar.
Berbagai pendidikan dan latihan kewartawanan pernah saya ikuti. Antara lain, tahun 1988 saya mengikuti Lokakarya Nasional tentang Koperasi selama dua kali, yakni di Jakarta dan di Cisarua Bogor. Lalu mengikuti pelatihan wartawan di Cipayung. Pada tahun 1988 juga saya mengikuti Seminar dan Lokakarya Wartawan Olahraga Asia di Hotel Horison Jakarta. Seminar dan pertemuan yang dilaksanakan SIWO PWI se-Indonesia juga sudah tak terhitung saya ikuti.
Sebagai wartawan olahraga, saya memiliki pengalaman menarik. Kejadiannya, pada tahun 1987. Saat itu, ada event SEA Games di Jakarta. Mewakili PR, saya ikut meliput. Dari Fajar waktu itu, Erwin Patandjengi. Ketika berlangsung acara pembukaan peristiwa itu datang menimpa. Bersama Erwin, saya mengenakan rompi sponsor dari salah satu perusahaan film. Ketika berlangsung acara pembukaan yang dihadiri Presiden Soeharto, di atas Stadion Utama Senayan melayang-layang sebuah balon udara yang ternyata membawa kamerawan. Tak jelas dari mana. Melihat logonya, mungkin dari perusahaan film sponsor.
Kehadiran balon udara plus juru foto itu rupanya membuat aparat keamanan kecolongan. Heboh. Saat acara pembukaan usai, Erwin dan saya meninggalkan stadion. Belum jauh langkah kaki terayun, seorang berambut cepak sudah menjemput. Kami berdua diciduk mau dibawa ke markas pengamanan. Tak jelas pengamanan dari kesatuan apa.
‘’Kalian dari perusahaan itu, ya?,’’ tanya pria itu dengan nada kurang bersahabat sambil menyebut nama perusahaan yang balon udaranya baru saja melayang-layang dan melintas tepat di atas stadion.
‘’Bukan, kami wartawan peliput,’’ sahut kami berdua hampir bersamaan.
‘’Tidak, ikut saya ke kantor!,’’ perintahnya.
‘’Untuk apa?,’’ Erwin masih bertanya.
Pria itu terus saja membawa kami bergeser ke kanan. Belum lama kami mengikuti lelaki berambut cepak itu, tiba-tiba Erwin melihat sejumlah wartawan sedang mengerumuni Pak Eddy Nalapraya yang juga Ketua Panitia SEA Games.
‘’Pak Edy, kenapa kami mau dibawa ke kantor polisi. Kami kan wartawan,’’ kata Erwin setengah teriak.
‘’Memng mengapa wartawan mau dibawa ke kantor polisi?,’’ Pak Eddy balik tanya.
‘’Ini, nggak tahu Bapak ini,’’ kata Erwin berusaha menunjuk pria yang menggiringnya bersama saya.
Setelah dicari, ternyata pria itu sudah menghilang. Tak jelas entah ke mana.
Mendengar penjelasan Erwin, para wartawan beralih mempertanyakan kejadian yang menimpa kedua wartawan Sulsel tersebut. Tetapi Pak Eddy segera memotong.
‘’Ah… sudahlah. Itu hanya kesalahpahaman saja,’’ katanya.
‘’Kesalahpahaman bagaimana kalau wartawan sudah nyaris digiring ke kantor polisi, Pak Eddy,’’ cocor wartawan yang lainnya.
‘’Ah… sudah. Silakan wartawan meliput seperti biasa. Nanti kalau ada yang mau bawa ke kantor polisi, lapor sama saya,’’ kata jenderal dua bintang tersebut. Para wartawan pun bubar.
Belakangan, saya dan Erwin maklum, aparat keamanan berpakaian preman tersebut menyangka kami berdua termasuk teman dari kamerawan yang ada di balon udara yang melayang-layang dan memotret ke bawah, ke arah panggung kehormatan. Tempat Pak Harto duduk dengan tamu penting lain duduk. Memang riskan. Seandainya saja orang yang terbang dengan balon udara itu membawa senjata dan menghujani pelurunya ke bawah, ceritanya bisa lain.
Kakek dua cucu ini dikenal sangat gandrung membaca. Di tas saya selalu ikut buku. Saya sakit kepala kalau tidak ikut satu bahan bacaan. Soalnya, kalau saya menunggu sesuatu, buku itulah yang jadi ’mangsa’-saya. Kesenangan membaca itu, saya tularkan kepada para mahasiswa saya. Jika ada mahasiswanya yang ulang tahun, saya berikan hadiah buku.
Dalam urusan menulis, dari tangan saya sudah lahir beberapa buku. Seperti Nakoda dari Timur, Biografi Ahmad Amiruddin (1999), roman Biografi Zainal Basrie Palaguna Jangan Mati dalam Kemiskinan (2003), Berguru dari Keawaman (Kisah-kisah Radi A.Gany, 2003), Melintasi Belantara Keilmuan (biografi Prof.Dr.Ir. Hj. Winarni Dien Monoarfa, M.S., 2005), dan Anekdot dan Keajaiban Ibadah Haji (Pengalaman Spiritual Para Jamaah Haji Tahun ke Tahun) yang terbit di penghujung tahun 2005. H.M.Amin Syam: Militer Madani (2007), Memimpin dengan Nurani (2008), menulis edisi revisi Suara Hati yang Memberdayakan (2008) bersama Prof.Dr.W.I.M.Poli Derita, Karya, dan Harapan Perempuan Papua (2008) bersama Prof.Dr.WIM Poli dan Dr.Sitti Bulkis. Awal ahun 2009 menulis Brother Tua yang saya tulis buat guru saya, Prof.Dr.H.Anwar Arifin.
Buku yang sangat monumental bagi saya karena merupakan karya yang sangat istimewa saya sumbangkan secara khusus buat komunitas pers di Sulawesi Selatan. Tempat saya sudah berkiprah lebih dari separuh usia.
Kini saya sedang mempersiapkan sebuah buku mengenai jurnalistik. Sekadar panduan bagi para wartawan muda merambah dunia yang penuh tantangan tetapi mengasyikkan ini. Sedikitnya terdapat lima naskah buku antri dituntaskan di laptop saya.
Buku yang pernah saya sunting, Pembangunan Berdimensi Ilmiah (2001), Kampus sebagai Rahim Budaya Perdamaian (2004), Ilalang di Tepi Telaga (2005) karya-karya Radi A.Gany. Dua karya lainnya yang pernah disuntingnya adalah Takutlah pada Orang Jujur (2003) oleh H.D.Mangemba dan bersama Dr.T.R.Andi Lolo menyunting Jepang, Politik Domestik, Global & Regional karya Abdul Irsan (Duta Besar RI di Tokyo). Dendam Konflik Poso (2009) oleh Dr.Hasrullah, M.A. dan Pendidikan Usia Sekolah di Sulawesi Selatan (2009) yang diterbitkan International Labour Organization (ILO) Perwakilan Indonesia. Terakhir Realitas Tanpa Mimpi (2009) karya Radi A.Gany. Menyunting buku ini selama tiga bulan, membuat saya sempat terkapar di rumah sakit selama seminggu karena kecapen.
Sebagai eks wartawan PR, saya sangat terharu dengan SMS yang dikirim oleh salah seorang putri almarhum L.E.Manuhua. Jayandi Putri Manuhua menulis SMS, setengah jam sebelum pergantian tanggal 1 ke tanggal 2 Maret 2009. Zendy, mengenang kebersamaan ’PR’ yang pernah dia nikmati beberapa tahun nan silam.
Saya hanya menjawab pendek,’’Setiap orang merindukan dan mengenang ’PR’. Tetapi, Kita tidak tahu, apakah dia bisa lahir kembali?’’. Zendy mengaku, menangis membaca jawaban SMS tersebut.
’’Setengah jam masih tersisa, sebelum 1 Maret 2009 berlalu, saya akan menuju komputer untuk memulai menulis. Mengawali kisah pergulatan 30-ku tahun bersama PR,’’ saya membalas.
’’Saya dukung ide itu. Mulailah. Saya akan bantu kalau bisa membantu,’’ balas Zendy lagi.
’’Okey, saya sudah mulai. SMS-SMS-an kita Ini akan jadi prolog kisahku nanti,’’ Dahlan membalas lagi.
Ketika melengkapi naskah buku komunitas wartawan di Sulsel – dan masih banyak yang belum tercantum di dalamnya – benak saya sudah menemukan judul buku kenangannya buat PR itu. The Old Warrior Die (Matinya Pejuang Tua). ***